Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Jati: Tongkat Dang Hyang Nirartha Dicabut, Tumbuh Jati Berisi Air

I Putu Suyatra • Sabtu, 5 Agustus 2017 | 18:33 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, JEMBRANA - Pura Dang Khayangan Jati Jembrana atau sering disebut Pura Jati yang terletak di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana ini memiliki keunikan tersendiri. Pura yang berjarak kurang lebih 8 kilometer arah selatan dari pusat Kota Negara, ini memiliki keistimewaan pada keberadaan pohon jati di dalam areal pura yang mengeluarkan air yang selanjutnya dipakai tirta.


Setelah memarkir kendaraan, selanjutnya memasuki areal nista mandala yang merupakan wilayah terluar pura. Di sini terdapat wantilan yang cukup luas dan juga tempat parkir. Sebenarnya lahan parkir khusus sudah disediakan pengelola, akan tetapi para pemedek bisa juga parkir disini kecuali saat piodalan untuk mengantisipasi membludaknya pemedek yang akan bersembahyang.


Dari sini terlihat dengan jelas pohon jati yang tumbuh di areal pura. Sebelum memasuki madya mandala, para pemedek wajib melakukan prosesi pembersihan diri serta sarana upacara dengan memercikkan tirta (prayas) yang sudah disiapkan di sisi kiri dan kanan pintu masuk madya mandala.


Di madya mandala terdapat bale pesandekan, kori agung, apit lawang, bale kulkul dan dapur. Memasuki utama mandala, terdapat tujuh palinggih. Yaitu palinggih taksu, rambut sedana, ulun danu (tirta) di bagian utara, padmasana di bagian timur laut,  kemudian gedong meru tumpang tiga, gedong simpen, penglurah di bagian timur, serta palinggih pepelik di tengah. Sedangkan di sebelah barat terdapat bangunan bale gong, bale piasan, serta gedong busana.


Siang itu setelah menyelesaikan ritual persembahyangan, koran ini berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Jro Mangku I Ketut Sadia, 60 salah satu pemangku untuk mengetahui lebih banyak terkait Pura Dang Khayangan Jati Jembrana.


Diceritakan Mangku Sadia bahwa pura ini erat kaitannya dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha di Pulau Bali serta dua Pura Dang Khayangan lain di Jembrana yaitu Pura Dang Khayangan Gede Perancak dan Pura Dang Khayangan Mertasari.


Pura ini disinggahi Dang Hyang Nirartha setelah tiba di Perancak (Pura Dang Khayangan Gede Perancak), dan singgah ke Desa Mertasari (Pura Dang Khayangan Amerthasari).


Konon saat itu, wilayah gersang di sekitar pura ini yang sekarang disebut Awen terseut merupakan rawa dan hutan. Dalam perjalanan itu, Dang Hyang Nirartha sempat beristirahat di sini dan melakukan tapa yoga semedi.


Sebelum bersemedi, Dang Hyang Nirartha sempat menancapkan tongkatnya di sebuah gundukan dan ketika dicabut tumbuh pohon jati. Dari salah satu batang pohon jati berlubang dan terdapat sumber air yang tidak pernah surut. Hingga saat ini, pohon tersebut masih ada di dalam areal pura.


Lebih lanjut Mangku Sadia menjelaskan tentang keberadaan pelinggih meru tumpang tiga di pura ini adalah sebagai tempat pemujaan Betara Sakti Danghyang Dwijendra. Ada juga pelinggih padmasana untuk pemujaan Sang Hyang Sada Siwa.


Sedangkan gedong simpen dipergunakan sebagai tempat menstanakan Pralingga sebagai simbol Ida Batara saat akan turun menjumpai umatnya serta sebagai simbol Ida Batara ngeluhur dan masineb.


Untuk pelinggih Sri Sedana sebagai tempat memuja Tuhan untuk mendapatkan keseimbangan hidup, kebahagiaan dan kesejahteraan.


Pura Dang Khayangan Jati diempon oleh empat Desa Pekraman yang berada di Kecamatan Negara yaitu Desa Pekraman Puseh Agung (Banjar Tengah), Desa Pekraman Lelateng, Desa Pekraman Tegal Badeng Kangin dan Desa Pekraman Tegal Badeng Kauh.


Untuk melayani kebutuhan umat saat bersembahyang, pengempon pura telah menunjuk 3 orang pemangku pemucuk yang masing-masing berasal dari Desa Pekraman Lelateng, Tegal Badeng Kangin dan Tegal Badeng Kauh. Disamping itu, masing-masing pengempon juga menunjuk tiga orang pemangku yang bertugas membantu pemangku pemucuk.


Para pemangku ini bertugas secara bergiliran setiap hari kecuali pada saat piodalan, purnama, tilem dan kajeng kliwon. “Total ada 28 orang pemangku lanang istri termasuk pemangku pemucuk. Untuk hari-hari biasa di luar rahinan, empat orang pemangku bertugas selama tiga hari berturut-turut (pasah, beteng, kajeng) setelah itu dilanjutkan lagi oleh yang lainnya secara bergiliran, begitu seterusnya.


Jadi, aktivitas pura ini full selama 24 jam untuk melayani umat yang akan bersembahyang. “Hal ini kami lakukan mengingat para pemedek yang tangkil tidak hanya dari seputaran Jembrana saja, melainkan dari luar seluruh Bali bahkan ada yang dari luar Bali seperti Jakarta, Sulawesi, Kalimantan dan wilayah lainnya,” ujar Mangku Sadia.


Ia menambahkan saat piodalan yang jatuh setiap enam bulan wuku yaitu pada hari soma pon sinta, atau disebut juga soma ribek dua hari sebelum rerahinan Pagerwesi pemedek yang tangkil sangat banyak. Tidak hanya itu, saat purnama dan Saraswati juga ramai pemedek yang datang untuk bersembahyang. Sebagian besar didominasi remaja dan pelajar yang sekaligus ingin malukat di sini. (gde riantory/yes)



 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #pura #tradisi hindu #sejarah pura #jembrana