BALI EXPRESS, NUSA PENIDA - Dukuh Jumpungan namanya tersohor di Nusa Penida pada masanya. Bahkan, konon nama Penida sendiri berasal dari kata Pandita (pendeta). Pandita yang dimaksud tak lain adalah Dukuh Jumpungan. Selain itu, ada juga tokoh sakti mandraguna bernama I Gede Macaling.
Jika mengatakan tangkil ke Nusa Penida, maka masyarakat Bali pikirannya akan tertuju pada Pura Dalem Ped atau yang disebut pula Pura Panataran Ped. Pamucuk Pura Dalem Ped, Jro Mangku Wayan Darma mengatakan, Pura Dalem Ped terdiri dari empat areal pemujaan, yakni Ida Bhatara Baruna di Pura Segara, Dewi Gangga di Pura Taman, Ida Bhatara Ratu Gede Sakti (Ratu Gede Macaling) di Dalem Ped, dan Ida Bhatara Ratu Mas Manik Maketel atau Ida Ratu Mas Pangrajeg Bumi di Pura Panataran. Oleh karena itu, ketika tangkil ke Pura Dalem Ped, hendaknya sembahyang secara berurutan di empat pura tersebut.
Mengenai asal mula nama Pura Dalem Ped, ada beberapa versi. Drs. Wayan Putera Prata dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped , menyebutkan bahwa Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman Dewa Agung.
Secara singkat, diceritakan bahwa suatu ketika Ida Pedanda Abiansemal kehilangan tiga buah tapel (topeng). Didengarlah kabar bahwa secara gaib ada tiga tapel yang muncul di Pura Dalem Nusa. Guna memastikan kebenaran hal tersebut, Ida Pedanda bersama sejumlah pengikutnya datang secara beriringan (mapeed) di Nusa Penida. Ternyata topeng sakti yang mendatangkan berbagai manfaat, khususnya penyembuhan tersebut, memang serupa dengan milik Ida Pedanda. Ida Pedanda kemudian membiarkan tapel tersebut di Nusa dengan catatan masyarakat tetap menjaga dan memberikan upacara sesuai ketentuan.
Sebelum itu, dikisahkan bahwa dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim, lahirlah dua orang anak. Yang laki-laki bernama I Gede Macaling dan yang perempuan bernama Ni Tole. Ada versi yang menyatakan bahwa I Gede Macaling awalnya bernama I Gotra, namun di versi lainnya ada pula yang menyebutkan bahwa I Gotra yang menurunkan I Gede Macaling. Setelah dewasa, Ni Tole dipersunting menjadi permaisuri oleh Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa Penida. Sementara itu, I Gede Macaling yang gemar bertapa juga memiliki istri. Makin hari, tapa I Gede Macalaing yang ditujukan kepada Bhatara Siwa makin kuat. Ida Bhatara Siwa pun senang dan memberikan anugrah berupa ajian Kanda Sanga kepada I Gede Macaling.
Ajian Kanda Sanga tersebut sangat sakti. Konon penampilan I Gede Macaling menjadi berubah. Tiba-tiba badannya bertambah besar, bahkan taringnya semakin panjang. Karena perubahannya tersebut, suara I Gede Macaling menggelegar sehingga menggetarkan dunia. Para dewa pun kelimpungan karena makin hari keberadaan I Gede Macaling menimbulkan keresahan. Akhirnya, turunlah Dewa Indra untuk bertempur dan memotong taring I Gede Macaling, karena taring tersebutlah kunci kesaktiannya.
Tidak patah semangat, I Gede Macaling kembali melakukan tapa dan memuja Ida Bhatara Rudra. Ida Bhatara Rudra pun berhasil dibuat terkesan dan memberikan anugrah berupa lima anugrah yang disebut Panca Taksu, yakni taksu balian (dukun), taksu panolak grubug (penolak wabah), taksu kemeranan (hama), taksu kesaktian, dan taksu pangeger. Suatu ketika Dalem Sawangan wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Akhirnya I Gede Macaling pun menjadi raja.
Menariknya, I Gede Macaling tidak hanya memimpin masyarakat dari kalangan manusia, namun juga wong samar (manusia yang tidak kelihatan) dan bhuta kala (makhluk halus) yang ada di bumi. Karena kesaktiannya, I Gede Macaling juga menguasai lautan, sehingga juga diberi gelar Ratu Gede Samudra. Di samping itu, I Gede Macaling juga pernah bertapa di Gunung Tolangkir atau Gunung Agung sehingga diberi wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang senang melakukan tindakan adharma. Lantaran kisah tersebut, Pura Dalem Ped kerap jadi tempat sejumlah balian untuk memohon taksu, agar apa yang dijalankan berjalan lancer dana man. Tak sebatas itu, pamedek yang usahanya berjalan tersendat pun, menjadikan Dalem Ped tempat untuk memohon agar diberikan kemudahan menjalankan roda bisnisnya.
Pujawali di Pura Dalem Ped yang dilaksanakan setiap Buddha (Rabu) Wage Klawu atau yang kerap disebut Buddha Cemeng Klawu, yakni bertepatan dengan pujawali Bhatari Rambut Sedhana. Bhatari Rambut Sedhana adalah lambang kesejahteraan dan kemakmuran yang maknanya serupa dengan Ida Bhatari Mas Manik Maketel. “Manik adalah batu mulia, sedangkan maketel berarti menetes. Dengan demikian, manik maketel sendiri mengarah ke kesejahteraan dan kemakmuran,” pungkas Mangku Darma.
Editor : I Putu Suyatra