Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Awas Karauhan, Kerasukan, dan Psikosomatis

I Putu Suyatra • Minggu, 6 Agustus 2017 | 16:16 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Karauhan (trance) atau ‘tedun’ bukan sesuatu yang asing di Bali. Fenomena yang kerap terjadi ketika upacara piodalan ini, terkadang menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Sebab, selain ada anggapan bahwa karauhan tanda upacara telah berhasil, dan tidak jarang menjadi ‘tontonan’ yang menarik. Namun, banyak yang tidak mengerti, apa sebenarnya terjadi saat karauhan tersebut.


Kerauhan berasal dari kata ‘rauh’ yang berarti datang. Karauhan mengarah pada pengertian datangnya roh gaib yang masuk ke dalam diri manusia dengan maksud dan tujuan tertentu. Namun, karauhan cenderung dikonotasikan dengan istilah halus kehadiran Tuhan atau dewa-dewa tertentu dalam diri manusia. Berbeda dengan karasukan yang cenderung kasar dan diarahkan pada pengertian masuknya unsur roh jahat pada diri manusia. Sedangkan tedun berarti turun. Hal tersebut berdasarkan anggapan bahwa Tuhan dan para dewa tinggal di langit, sehingga kehadirannya disebut tedun.


Menurut pakar metafisika, Ketut Gede Suatma Yasa atau yang popular dengan nama Guru Mangku Hipno, secara metafisika sebenarnya karauhan tidak ada. Tapi, karena manusia sering menganggap suatu vibrasi yang ia dapatkan dikaitkan dengan religius atau keagamaan, maka ia menyebutnya sebagai karauhan. Secara tradisi, berdasarkan anggapan orang-orang yang pernah karauhan, Guru Mangku mengatakan bahwa definisinya adalah turunnya vibrasi atau cahaya suci Tuhan merasuk ke dalam pikiran seseorang dengan maksud menyampaikan sesuatu untuk kebaikan umatnya. “Jadi, kebaikan umat itu kata kuncinya,” tegasnya kepada Bali Express, akhir pekan kemarin.


Pemilik Brahma Kunta Centre di Perumahan Gunung Sari Indah, Jalan Tukad Buana I/61, Kebo Iwa Denpasar ini, menambahkan, bahwa yang bisa mengalami karauhan tentunya bukan orang sembarangan. Menurutnya, sesuai ilmu metafisika, maka orang yang dimungkinkan mengalami karauhan adalah orang yang memiliki tiga sifat, yakni senantiasa menjaga kebenaran, kesucian, dan keindahan dirinya. “Bagaimanapun juga, kesucian hanya masuk ke dalam kesucian. Makanya, wahyu Tuhan turun pada orang yang menjaga kebenaran, kesucian, dan keindahannya,” terangnya.


Namun, pria asal Singaraja ini mengatakan, ironisnya sekarang banyak fenomena orang yang katanya karauhan justru orang yang mengalami masalah. Ia pun menyayangkan hal ini.  “Bagaimana masyarakat bisa percaya terhadap hal ini?” ujarnya. Dengan tegas ia menyatakan bahwa orang-orang yang sepatutnya karauhan bisa dinilai dari sikap sehari-hari. “Kalau yang karauhan adalah orang jahat, mana mungkin masyarakat percaya,” imbuhnya.


Di samping itu, karena karauhan adalah proses yang suci, Guru Mangku Hipno meyakinkan bahwa tempatnya pasti di tempat suci pula, seperti pura. “Karauhan tidak bisa di rumah, di jalan, atau di sekolah. Fenomena tedun tidak bisa terjadi di mana saja,” jelasnya. Untuk nedunang Ida Bhatara ke palinggih saja, lanjutnya, perlu penyucian tempat, bahkan dengan upakara  seperti prayascitta dan biyakaonan. “Apalagi nedunang ke manusia yang memiliki unsur jele-melah (buruk-baik). Ini harus diluruskan,” jelasnya.


Guru Mangku Hipno juga menegaskan, karauhan tidak bisa tanpa alasan, karena biasanya berdasarkan panuhuran atau permohonan umat. “Dengan masuk ke tubuh manusia, beliau memberikan cihna atau ciri bahwa upacara telah terlaksana dengan baik bagi orang yang ingin tahu,” ujarnya. Beliau kemudian tedun pada orang yang sudah bersih secara lahir batin. “Bagaimana mungkin beliau bersedia tedun pada orang yang kotor. Dalam hal ini masyarakat bisa menilai,” terangnya.


Lebih lanjut, pakar hypnosis tersebut mengatakan karena yang masuk adalah unsur dewata, maka orang yang karauhan akan memperlihatkan gelagat yang baik, gerakannya halus, lembut dan suci. Jika berbicara, maka kata-kata yang keluar pun akan berwibawa dan lembut. Tidak menutup pula yang karauhan hanya diam atau menari. Hal inilah yang membedakan dengan karasukan. “Karasukan justru meminta sesuatu dan bahasanya kasar. Jadi, karauhan adalah turunnya cahaya suci Tuhan atau disebut dewa tedun (dewa turun), sedangkan kerasukan naiknya energi negatif atau bhuta kala, sehingga disebut bhuta munggah (bhuta naik),” paparnya.


Guru Mangku menjelaskan, kalau bhuta munggah, maka energi negatif naik dari kaki, sehingga orang akan merasa kakinya berat dan gemetar dahulu. Setelah itu, bhuta masuk ke dalam hati sehingga menyebabkan perasaan berdebar. Terakhir,  energi tersebut naik ke kepala dan menguasai pikiran. “Di pikiranlah unsur bhuta berkuasa, sehingga unsur Tuhan terdorong ke atas,” jelasnya. Selanjutnya, dari orang tersebut akan muncul kata-kata yang tidak beraturan atau teriakan. Sedangkan ketika dewa tedun, unsur Ketuhanan yang turun ke bawah, sehingga orang tersebut menjadi lembut dan penuh cinta kasih.


Di samping fenomena karauhan dan kerasukan tersebut, Guru Mangku Hipno mengatakan, dalam metafisika ada istilah penyakit psikosomatik yang melanda seseorang karena gejala stress. Penyakit psikosomatis berhubungan dengan psikologi atau kejiwaan seseorang yang terganggu akibat mengalami permasalahan yang berat. Dengan demikian, di satu titik orang tersebut bisa histeris. “Ketika dilarikan ke hal yang religius, bagi orang yang tidak paham, cenderung dibilang karauhan atau krasukan,” ujarnya. Ciri-cirinya adalah berbicara sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan upacara. Kata-kata yang keluar cenderung kata-kata yang mengandung tekanan. Kemudian ia cenderung menyalahkan seseorang,” terangnya. Nah, hal tersebutlah yang terkadang dimanfaatkan oleh orang yang sentimen. Dengan berpura-pura karasukan kemudian meluapkan kebenciannya pada orang lain.


Dari kesemuanya itu, Guru Mangku Hipno mengatakan,  antara karauhan, karasukan, dan penyakit psikosomatis bisa dilihat dari gestur dan postur. Gestur berkaitan dengan wajah, prilaku, karakteristik. Jika karauhan seseorang akan tersenyum, lembut, atau diam. Kalau karasukan ia cenderung kata-katanya kasar, bahkan mengamuk. Kalau psikosomatis, kata-kata yang keluar tidak beraturan dan mulai mencari kambing hitam peristiwa yang terjadi. Sikapnya cenderung sentimen. Sedangkan secara postur, kalau karauhan, tubuh seseorang akan gemulai, kalau kerasukan akan kaku, sedangkan kalau psikosomatis cenderung lemah. “Paling gampang diketahui adalah jika karauhan, pasti tujuannya menyelesaikan masalah, bukan membuat masalah,” jelasnya.


Secara metafisika, lanjut Guru Mangku Hipno, kalau seseorang karauhan, gelombang otaknya sedang di tingkat Teta. Oleh karena itu yang bersangkutan tidak kuasa menahan dirinya. Ia lupa dirinya, tapi masih bisa berkomunikasi. Kalau karasukan, gelombang otaknya di Alpha. Ia masih sadar akan dirinya, tapi karena gelombang otaknya turun sehingga ia menjadi engsap-ingat (kadang ingat, kadang lupa). Kalau orang yang mengalami penyakit psikosomatis, yakni tekanan kejiwaan atau psikologi, maka gelombang otaknya masih di Beta atau alam sadar. Secara sederhana, Guru Mangku Hipno menjelaskan bahwa gelombang Beta dialami oleh seseorang saat sadar. Selanjutnya gelombang Alpha akan dialami saat menjelang tidur, yakni setengah sadar. “Ketika sudah mulai tidur tapi belum lelap, itulah Teta,” paparnya. 


Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #kerauhan