Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cicak Menjadi Simbol Pembangkitan Energi

I Putu Suyatra • Minggu, 6 Agustus 2017 | 18:44 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Cicak, salah satu binatang yang peka terhadap fenomena gaib. Jika dicari alasan logisnya dengan pembuktian, diperlukan penelitian yang lebih mendalam. Demikian pula, mengenai kepercayaan tentang Cicak sebagai simbol Dewi Saraswati. Jadi, semua itu, sah-sah saja.


Terlepas dari berbagai keyakinan tersebut, bila dikaitkan dengan Hindu, ada sumber lainnya yang mengatakan bahwa Cicak (dalam Bahasa Bali disebut Cicek, Red) yang dimaksud sebenarnya adalah salah satu pangangge tengenan dalam aksara Bali.


Menurut Kadek Sumadiarta, S.Sos.H., M.Fil.H, kehadiran cecek pada bagian kata tertentu akan menghasilkan suara “ng”. Misalnya “saranga”, apabila diisi Cecek di atas “nga”, maka akan menjadi “sarang”. Suara “ng” sering dijumpai dalam aksara atau mantra, seperti mantra “Om” menjadi “Ong”. Selanjutnya Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya menjadi Sang Bang Tang Ing Nang Mang Sing Wang Yang.


“Berbagai pendapat pun muncul mengenai suara “ng” tersebut. Ada yang mengatakan bahwa penambahan “ng” adalah prosesi pembangkitan energi aksara atau mantra,” kata dia.


Pendapat lainnya, mengatakan bahwa Cecek adalah sama dengan aksara amsa yang terdiri dari ardhacandra (bulan sabit), windu (matahari berupa bulatan), dan nadha (bintang berupa segitiga). Ketiganya melambangkan Tri Murthi (Brahma, Wisnu, Siwa) sebagai penggerak Tri Kona (Utpatti, Sthiti, dan Pralina). Dengan demikian, sesungguhnya Cecek itu sama dengan simbol Tuhan. Namun, masyarakat di Bali cenderung menonjolkan binatang berupa Cecek, sedangkan makna di baliknya hanya bisa dipahami oleh orang yang mendalami ajaran Hindu.


Berdasarkan semua pendapat tersebut, tentunya  ada yang mengandung nilai kebenaran yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat untuk memahaminya.


Ajaran Hindu yang universal memberikan kesempatan kepada umatnya untuk menggali sedalam-dalamnya pengetahuan tentang kebenaran. Dengan demikian, umat Hindu didorong untuk menjadi insan yang cerdas melalui belajar sehingga diperoleh pengetahuan dan pemahaman untuk melepaskan diri dari awidya atau kebodohan. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu