BALI EXPRESS, DENPASAR - Rajah atau Rerajahan adalah rangkaian aksara atau gambar tertentu yang digunakan sebagai simbol. Rerajahan biasanya dihubungkan dengan hal-hal magis, baik dalam diri manusia atau suatu benda. Oleh karena itu, Rerajahan di Bali sangat lekat dengan ritual.
Menurut salah satu dosen IHDN Denpasar, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H, Rerajahan memiliki banyak fungsi, seperi pemberi kekuatan, penyucian, pembersihan, panguripan, dan sebagainya. “Tergantung tujuan Rerajahan itu dibuat untuk apa,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (13/11/2016) di Denpasar.
Pria yang akrab dengan nama Jro Dalang Nabe Roby tersebut, mengungkapkan, Rerajahan sesungguhnya simbol yang divisualisasikan dengan maksud dan tujuan tertentu. Jro Dalang mencontohkan, Semara-Ratih gambarnya adalah laki-perempuan yang rupawan, Pangasih-asihan gambarnya berupa Dewi Durga melangkahi laki-laki, sementara tolak bala bentuk gambarnya berupa senjata-senjata dewa.
Intinya ia mengatakan bahwa Rerajahan hanya berupa simbol, sehingga seseorang bisa fokus, dan energi yang berhubungan dengan simbol tersebut bisa bangkit atau masuk. Dengan demikian. Rerajahan tersebut tidak bisa berdiri sendiri, namun ada prosesi selanjutnya, seperti ritual memasukkan kekuatan atau roh dan sebagainya. “Jadi ada prosesnya, sehingga simbol tersebut bisa berfungsi,” terangnya. Dalam agama Hindu, Rerajahan disebut dengan yantra. Setelah dipasupati, yantra itu bisa menghasilkan kekuatan.
Lebih lanjut dijelaskan Jro Dalang Roby, ada Rerajahan yang dengan dan tanpa sarana. Sarana-sarana tersebut misalnya logam, batu permata, dan sebagainya. Media atau tempat menulis dan menggambarnya pun bermacam-macam. Ada yang di batu, kertas, kain, bahkan batu permata. “Dalam lontar Rerajahan atau lontar lainnya sudah tertulis sarana dan medianya secara lengkap,” paparnya.
Prosesi Ngarajah (membut Rerajahan) juga perlu mencari hari baik. Hal ini untuk menghindari pengaruh alam yang bertentangan dengan tujuan Rerajahan tersebut. Di samping itu, tentunya agar Rerajahan tersebut menghasilkan manfaat yang maksimal. Bahkan, dalam menulis aksara dan gambar-gambar tertentu juga ada mantranya. Oleh karena itu, orang yang Ngarajah harus menguasai mantra-mantra tersebut.
Untuk Ngarajah sarira atau badan, Jro Dalang Roby menjelaskan, alat untuk nulis adalah katik don base (tangkai daun sirih) yang pada pangkalnya bercabang tiga, sperti Trisula. “Banyak ada katik base seperti itu,” ujarnya. Sementara sebagai “tinta”, biasanya digunakan madu. Dengan tangkai daun sirih tersebut, madu dioleskan pada bagian tubuh seperti dahi, lidah, tengkuk, dan sebagainya. Pun dalam prosesi tersebut yang marajah dan dirajah sudah melewati proses ritual tertentu. Biasanya prosesi ini adalah bagian dari pawintenan atau panugrahan dalam mempelajari ilmu tertentu.
Kalau Pawintenan atau Panugrahan tersebut diikuti lebih dari satu orang, dosen Brahma Widya IHDN Denpasar tersebut menyarankan, agar setiap orang menggunakan satu tangkai daun sirih. Artinya, tangkai daun tersebut hanya sekali pakai. “Itu untuk menghindari penyebaran penyakit, karena penyebaran penyakit salah satunya dari air liur. Kadang satu katik base dipakai banyak orang,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, prosesi Ngarajah memiliki beberapa tahapan, namun secara garis besar, pertama adalah pembersihan scara fisik orang yang akan dirajah, misalnya melalui puasa, mandi, dan keramas. Setelah itu, yang bersangkutan diperciki dengan toya anyar atau air kelapa gading serta sembahyang. Prosesi kemudian berlanjut pada Ngarajah. Setelah selesai, yang bersangkutan ngayab banten prayascita, pangulapan, dan padurmanggalan. “Tapi, di lapangan ada juga yang natab dahulu, baru kemudian dirajah. Jadi, tergantung bagi pelaksana atau guru yang Ngarajah,” jelasnya.
Selain badan, ada pula Rerajahan yang ditulis pada kain kasa dan ditempel pada bangunan, seperti rumah dan palinggih, yang dinamakan ulap-ulap. “Aksara yang digunakan biasanya adalah modre,” ujar Jro Dalang Roby. Fungsi dari ulap-ulap ini sebagai simbol panguripan (penghidupan) saat upacara pamlaspasan bangunan tersebut. Di samping itu, Rerajahan juga ada di kain kerudung barong, rangda, dan kajang.
Bahkan. Rerajahan juga terdapat pada sasabukan atau jimat yang diikatkan pada pinggang, seperti sabuk. Menuut Doktor termuda IHDN Denpasar tersebut, pada sasabukan Rerajahan dibuat di atas kain dan dimasukkan sarana-sarana lainnya sesuai fungsinya. Ada yang untuk kekebalan, pangasihan, wibawa, dan sebagainya. Sedangkan untuk menyakiti orang, Rerajahan menggunakan sarana berupa batu yang didapat dari laut. “Batu tersebut kemudian dirajah, ditanam di kuburan, dan dilempar ke rumah target,” bebernya.
Dengan demikian ia mengungkapkan bahwa Rerajahan ini memang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Bali. Bahkan, kini menurutnya Rerajahan sudah berkembang menjadi karya seni, seperti kaligrafi. “Rerajahan yang dulu itu dimodifikasi sehingga menjadi lukisan,” ungkapnya. Kaligrafi tersebut pun menurutnya bisa memiliki kekuatan kalau dipasupati. Meskipun begitu, Jro Dalang Roby menekankan bahwa Rerajahan bukan sekadar dilihat bagus tulisan dan gambarnya, tapi juga tergantung prosesnya. “Banyak yang bisa membuat gambar yang bagus, tapi tidak efektif kalau tanpa proses yang benar. Demikian pula sarana dan media yang sesuai,” jelasnya.
Editor : I Putu Suyatra