BALI EXPRESS, DENPASAR - Setelah ratusan tahun, Pura Petali di Jatiluwih, Tabanan, ini ditemukan hanya berupa susunan bebatuan berbentuk tugu oleh masyarakat. Letaknya pun di tengah hutan yang berada di bawah Gunung Batukaru.
Masyarakat sekitar melakukan permohonan, kemudian membangun pura di tempat tersebut. Namun, berdasarkan petunjuk gaib yang didapatkan, tinggi bangunan pura tidak boleh melebihi batang pohon yang juga tumbuh secara misterius di lokasi tersebut. Salah satunya adalah Pohon Kresek yang kini menjulang tinggi dengan akar yang kokoh.
Pohon Kresek tersebut sangat disakralkan. Oleh karena itu, tidak ada yang berani memotong secara sembarangan akar, apalagi dahannya. Bahkan, umat yang tangkil pun terlihat membungkuk di depannya. Apalagi di dalam batang pohon tersebut ada sebuah palinggih. Tidak heran pohon tersebut kemudian ikut disakralkan.
Pura Luhur Pucak Petali sesuai dengan namanya, terdiri dari kata Pucak dan Petali. Pucak sendiri berkaitan dengan letak pura di ketinggian, yakni di lereng Batukaru. Sedangkan Petali sendiri ditafsirkan berasal dari kata Tali, yakni alat pengikat. Sumber lain ada pula yang mengaitkan dengan Patala, yakni lapisan terluar kulit bumi dari konsep Sapta Patala atau tujuh lapisan bumi.
Berdasarkan hal tersebut, maka pura ini dikatakan merupakan pengikat bumi atau pengikat jagat raya secara fisik maupun spiritual. Secara fisik, pura ini dipercaya mendatangkan kestabilan daerah tersebut. Sedangkan secara spiritual, dipercaya memberikan penguatan terhadap batin sehingga memperoleh pencerahan. Di samping itu, jika dikaitkan dengan kehidupan sosial, Pura Pucak Petali dipercaya mendatangkan keharmonisan dalam keluarga, perkumpulan, atau organisasi. Dengan demikian, banyak pejabat yang tangkil mohon kelanggengan dalam memerintah agar masyarakatnya senantiasa harmonis dan bersatu padu. Demikian pula masyarakat yang memiliki permasalahan, banyak yang datang untuk bermeditasi untuk mendapat jalan keluar.
Di samping itu, Jro Mangku Ratu Nyoman juga mengatakan, ada rencangan Ida Bhatara yang konon menampakkan diri sewaktu-waktu bagi orang yang memiliki penglihatan gaib. Rencangan tersebut bersosok macan yang menjaga areal pura. “Tentunya beliau juga menjaga umat yang tangkil serta menolak segala macam pengaruh buruk, sehingga umat khusuk dalam sembahyang. Oleh karena itu, tidak perlu khawatir. Asalkan umat memang datang untuk sembahyang, bukan untuk hal-hal negatif,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra