Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Kecak, Bermula dari Pengiring Tari Sang Hyang yang Sakral

I Putu Suyatra • Selasa, 29 Agustus 2017 | 16:00 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari kecak merupakan Salah satu jenis tari tradisional dari Bali yang mampu memukau para penonton. Keunikan dari gerakan serta kemistikan dalam pertunjukan membuat tarian ini sangat istimewa bagi kalangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang menyaksikannya saat menyambangi Pulau Bali. Tak heran jika tarian yang diciptakan oleh Wayan Limbak, ini sangat terkenal hingga ke mancanegara.


Akademisi ISI Denpasar yang juga seorang seniman asli Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Astita mengatakan, bahwa sejatinya belum ada yang mengetahui darimana awal mulanya tari kecak muncul dan pertama kali berkembang. Namun terdapat sebuah kesepakatan dari masyarakat Bali Kecak yang menyebutkan bahwa Tari kecak pertama kali berkembang di Bona, Gianyar.


Lebih lanjut Astita mengatakan, pada awalnya tari kecak merupakan suatu seni musik yang di hasilkan dari perpaduan suara yang biasa mengiringi tarian Sang Hyang dan pementasannya di pura. Hal ini dikarenakanena Tari Sang Hyang merupakan salah satu tarian sakral. Namun pada tahun 1930an muncul seorang seniman bernama Wayan Limbak yang bekerja sama dengan seorang pelukis dari Jerman yang bernama Walter Spies yang mencoba mengembangkan tarian kecak.


“Adapun yang menjadi lakonnya adalah mengambil bagian dari cerita ramayana yang di dramatarikan sebagai pengganti dari tarian sahyang dengan tujuan agar tarian ini dapat dipentaskan di depan khalayak ramai,’ jelas Astita.


Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat dan kalangan sneiman, Tari Kecak sendiri mulai populer di mancanegara sejak tahun 1970an ketika Wayan Limbak berkeliling dunia untuk mempromosikan tari ini. Nama kecak adalah sebuah nama yang diambil dari suara yang keluar dari iringan tari tersebut yang berdendang "Cak " yang didendangkan secara terus menerus, dimana suara "cak" ini memiliki arti yang sangat signifikan di dalam pementasan tarian ini.


Mayoritas pemain tari kecak adalah laki-laki yang jumlahnya bisa mencapai puluhan. Meskipun gerakan yang dilakukan oleh para penari tergolong sangat sederhana, namun pembawaan para penari yang berjumlah cukup banyak mulai dari puluhan hingga ribuan orang membuat gerakan yang dimainkan tergolong sangat unik dan menarik.


Guna mendukung cerita yang disajikan, lanjut Astita, maka dalam pertunjukan tari tradisional Bali juga harus terdapat beberapa tokoh yang memerankan peran utama sebagai Hanoman, Sugriwa, Dewi Shinta, Rhama, dan Rahwana.Selain mengenalkan keunikan dalam pementasan tarian ini tentu saja daerah asal kesenian ini ikut melambung di dunia Internasional yang kemudian menarik para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Bali.


Dalam tarian yang berawal dari upacara Sang Hyang ini juga terdapat kisah dan cerita yang tersirat dari awal hingga akhir pertunjukan. Cerita pewayangan yang diangkat dalam sebuah gerakan tari merupakan inovasi baru dalam usaha melestarikan kebudayaan Hindu khususnya dalam kisah Ramayana. Hampir tidak ada alat musik pengiring tari kecak kecuali suara gemerincing serta suara dari para penari yang berbunyi “cak-cak-cak-cak”.


Meskipun tidak ada alat musik khusus sebagaimana tarian lain namun justru di sini letak keunikan tari tersebut. Suara yang bersahut-sahutan dan kadang kala kompak membuat nada-nada unik yang sangat menarik utuk didengarkan seiring gerakan tarian yang dilakukan oleh para penari. “Suara gemerincing terdengar dari properti tari yang dikenakan oleh para penari khusunya tokoh utama dalam seni pertunjukan khas Bali tersebut,” jelas pria asal Kaliungu ini.


Astita mengatakan, kesenian ini hampir samaa dengan tari serampang dua belas dan tari gambyong Surakarta, namun perbedaanya hanya terdapat pada property. Dimana, tari kecak memiliki properti khas yang menjadi ciri khas dalam sebuah pertunjukan kesenian tradisional.


Adapun properti yang biasa digunakan dalam pertunjukan antara lain sebagai berikut yakniselendang atau kain yang dikenakan oleh para penari tari kecak memiliki corak kotak-kotak dengan warna hitam putih menyerupai papan catur.warna hitam dan putih dalam umat Hindu diyakini sebagai penyatuan antara doa konsep kehidupan Hindu. Dimana, masyarakat senantiasa menggunakan konsep Rwa Bhineda yang disimbolkan dengan warna hitam dan putih.


Properti ini dikenakan baik pada pergelangan tangan dan sebagian juga pada pergelangan kaki. Gelang kicringan ini yang menimbulkan bunyi gemerincing pada saat gerakan tari dilakukan. Selain itu terdapat pula tempat sesaji sebagai properti tari kecak menjadikan tarian ini sangat unik dan terlihat sakral. Namun, yang tak kalah pebnting adalah adanya api menyala di tengah pementasan.


“Terlebih asal usul gerakan tari yang berasal dari sebuah upacara adat Sang Hyang membuat tarian ini juga terlihat mistis di kalangan para penonton,” tutup Astita. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #denpasar