BALI EXPRESS, DENPASAR - Pintu pekarangan juga berpengaruh penting terhadap penghuninya. Menurut Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika, pintu masuk merupakan stana Sang Hyang Dorakala. Dora berarti pintu (lawang), sedangkan kala berarti waktu (dina/hari). Dengan demikian Dorakala berarti pintu masuk sehari-hari.
Dalam Lontar Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi disebutkan, tata cara penempatan pintu masuk pekarangan dengan jalan mengukur panjang atau lebar pekarangan dan hasilnya dibagi Sembilan sama panjang. Masing-masing pembagian tersebut dikatakan memiliki arti tersendiri, sesuai arah mata angin.
Jika pekarangan menghadap ke selatan, pertama adalah bhaya agung (tidak baik),kedua, tanpa anak (tidak baik), ketiga, sukha megeng (baik), keempat, brahma sthana (baik), kelima, dewa wridhi (baik), keenam, sugih randah (baik), ketujuh, teka wridhi (baik), kedelapan, kapaten (tidak baik), kesembilan, kageringan (tidak baik).
Selanjutnya pekarangan yang menghadap ke barat, pertama, bhaya agung (tidak baik),kedua, musuh makweh (tidak baik), ketiga, wridhi mas (baik), keempat, wridhi guna (baik), kelima, dhanawan (baik), keenam, Brahma sthana (baik), ketujuh, kinabhakten (baik), kedelapan, kapiutangan (tidak baik), kesembilan, karogha kala (tidak baik).
Pada pekarangan yang menghadap ke timur, pertama perih (tidak baik),kedua, kinabhakten (baik), ketiga, wridhi guna (baik), keempat, dhana teka (baik), kelima kabrahmanan (baik), keenam dhana wridhi (baik), ketujuh, nohan (tidak baik), kedelapan, stri jalir (tidak baik), kesembilan, cendek tuwuh/wana yusa (tidak baik).
Sedangkan pekarangan yang menhadap ke utara, pertama, tanpa anak (tidak baik),kedua, wikara/kameranan (tidak baik), ketiga, nohan (tidak baik), keempat, kadalih (tidak baik), kelima, Brahma sthana (baik), keenam, kapiutangan (tidak baik), ketujuh, sukha mageng (baik), kedelapan, kawisesan (baik), kesembilan, kawigunan (baik).
Namun demikian, apabila membeli rumah sudah jadi dan pintu pekarangan tidak mungkin diubah karena terhalang sesuatu, Pinandita Pasek Swastika mengatakan, bisa dibangun aling-aling dan disthanakan Dewa Ganesha atau Ida Bhatara Ganapati. Dengan demikian, dengan kekuatan Tuhan yang bermanifestasi sebagai Dewa Ganesha, segala macam pengaruh buruk akan bisa ditangkal. “Tapi harus rajin menghaturkan canang dan banten saiban serta nunas tirta beliau ketika pulang atau pergi,” tandasnya.