BALI EXPRESS, SINGARAJA - Umat Hindu di Bali memiliki sebuah tradisi yang disebut bayuh oton. Di Buleleng istilah bayuh oton lazim disebut metubah. Bayuh adalah kata yang sejenis dengan kata dayuh yang sinonim dengan kata ayuh. Ayuh dalam artinya sejuk. Bayuh dimaksudkan menyejukkan diri manusia dari hal-hal yang bersifat keras atau panas kelahirannya. Menyejukkan juga berarti menetralisir.
Ketut Agus Nova, S.Fil. H. M.Ag atau akrab disapa Jro Anom menjelaskan bayuh oton diyakini sebagai momen untuk menetralisir derita bawaan sejak lahir. Sehingga tidak jarang jika mebayuh dilaksanakan atas kondisi tertentu, seperti kelainan jiwa, sakit berkepanjangan, sering dirundung kesialan atau kecelakanaan.“Pelaksanaan mabayuh oton bermaksud untuk pengruwatan demi menyelamatkan manusia dari akibat keburukan hari lahir dan unsur karma phala yang buruk. Karena masih melekat pada diri manusia serta mengurangi pengaruh Sad Ripu atau sifat-sifat keraksasaan yang dibawa sejak lahir,” jelasnya.Tak hanya demi menghilangkan segala kesakitan dan kesialan. Mebayuh oton disebut Jro Anom mampu memperbaiki katrakter seorang anak. Menurutnya Umat Hindu meyakini karakter anak bisa dibawa sejak lahir. Apabila anak memiliki utang atau kapiutangan saat ia lahir, maka akan berdampak pada karakternya kelak ketika ia sudah dewasa.“Untuk memusnahkan karakter buruk yang sudah dibawa dari lahir itu, masyarakat Bali melakukan upacara mabayuh oton. Mereka percaya dan berdasarkan pengalaman beberapa masyarakat, karakter anak itu setelah dibayuh berangsur menjadi lebih baik,” terangnya.Jro Anom menyebutkan upacara mabayuh oton dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan sarana upakara yang dipergunakan. Ini didasari disamping perbedaan wewaran, wuku dan ingkel. Bahkan tempat mebayuh atau metubah, tirta yang dipergunakan dikatakan Jro anom bisa saja berbeda-beda.“Untuk menentukan sarana upakara saat mebayuh oton itu didasari atas perhitungan pancawara, saptawara dan pawukon. Sehingga tiap orang bisa saja berbeda-beda jenis sarana upakara yang dipergunakan,” kata dosen STAHN Mpu Kuturan ini.Disebutkan Jro Anom Dalam Lontar Wraspati Kalpa tempat mebayuh juga berbeda-beda, berdasarkan perhitungan pancawara saptawara dan pawukon. Misalnya orang yang lahir pada Redite (Minggu) Dewanya Sang Hyang Indra. Kalanya Sang Dorakala. Butanya Sang Butha Catuspada. Wajib melakukan Bebayuhan di Paibon, soroh 5 (lima), dengan Sesayut Kusumajati, Air 16 warna serta Puja Marga gamana.“Menurut Wraspati Kalpa di sana disebutkan tempat-tempat pemayuhan, ada di kandang sapi, pohon jeruk, sungai, campuhan, pantai. Nah kalau mebayuh oton di dapur, berarti yang ngelukat itu adalah Bhatara Brahma. Kalau di laut yang ngelukat adalah Dewa Baruna. Selalu disesuaikan dengan hari kelahiran,” bebernya.Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jro Anom menerangkan bahwa bayuh oton tersebut wajib dilaksanakan setiap orang. Bahkan selama hidupnya, setiap orang bisa dibayuh dari tiga hingga lima kali selama hidupnya. “Intinya, jika dilihat dari usia, orang yang boleh dibayuh itu minimal sudah bisa nunas tirta. Kalau sudah bisa nunas tirta, berarti dia sudah boleh dibayuh,” ungkapnya.
Lantas banten apa saja yang diperlukan saat mebayuh? Jro Anom mengungkapkan sarana yang dipergunakan saat mebayuh seperti banten peras pejati, dapetan, sesayut, jerimpen, banten penyambutan serta sesayut sesuai dengan pawetuan. Jenis-jenis mata air juga ada dari berbagai sumber seperti danau, campuhan, kelebutan, sungai, pancoran, segara
Ditanya terkait prosesinya, Jro Anom menjelaskan ritual mebayuh oton diawali dari ngastawa tirta, menjalankan pangrersik, matur piuning, nebus ulap ambe yang dibayuh, kemudian dilanjutkan dengan natab segala jenis banten.
Menariknya, setiap dilaksanakan mebayuh oton yang wajib ada adalah guwungan atau sangkar ayam. Menurut Jro Anom guwungan memiliki makna sebagai asta aiswarya atau delapan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ini berarti manusia harus tunduk dan menyadari delapan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga senantiasa memuja kemahakuasaan Tuhan.
“Selain melambangkan asta aiswarya, guwungan juga memiliki makna agar segala kesialan, sakit, yang terdapat pada bhuana alit atau badan manusia bisa keluar dari guwungan itu,” jelasnya.
Saat dikurung dengan guwungan biasanya orang yang dibayuh membawa ayam yang masih hidup. Jro Anom menjelaskan warna ayam yang masih hidup tersebut disesuaikan dengan panca wara. “Artinya kalau yang dibayuh itu lahir pada Redite Umanis, maka umanis itu adalah putih, berarti harus menggunakan ayam berwarna putih,” katanya.
Editor : I Putu Suyatra