Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Sanggah Pakamulan Warisan Mpu Kuturan

I Putu Suyatra • Minggu, 3 September 2017 | 15:25 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, CANGGU - Masyarakat Hindu punya konsep sederhana dalam membangun rumah, mulai dari memilih pekarangan dan melakukan pembagian areal pekarangan. Warisan konsep dari Mpu Kuturan ini, yakni sistem utama (utama), madya (medium) dan nista (sederhana).


Dari ketiga konsep warisan Mpu Kuturan tersebut, ada istilah hulu, tengah, dan teben (tingkat terbawah). Oleh karena itu, selain membagi karang menjadi empat bagian seperti yang dipaparkan Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika, ada juga yang membagi areal pekarangan menjadi sembilan, dari utamaning utama hingga nistaning nista. Namun, oleh Pinandita Pasek, hal itu disederhanakan menjadi empat, yakni Sri, Aji, Kala, dan Rudra.


Oleh karena itu, dalam pembangunan, masyarakat Hindu di Bali biasanya membuat konsep hulu terlebih dahulu, yakni merajan atau mrajan. Sebelum membuat mrajan, pada awalnya masyarakat membuat sanggah sederhana yang dinamakan Turus Lumbung. Sanggah Turus Lumbung adalah sanggahyang terbuat dari pohon atau taru dapdap. Pohon dapdap disebut dengan “taru sakti” oleh masyarakat Bali, karena kaya akan khasiat dan mudah tumbuh di berbagai kondisi tanah.


Turus Lumbung bentuknya sangat sederhana, yakni tiangnya menggunakan kayu dapdap. Tiang tersebut kemudian disambungkan menggunakan kayu atau bambu, sehingga bisa digunakan untuk meletakkan banten atau sesajen. Dalam beberapa sumber dinyatakan, Turus Lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turus yang dimaksud adalah pohon dapdap dan lumbungnya adalah tempat meletakkan sesajen. Dengan demikian, karena dianggap sebagai “taru sakti”, dapdap dikatakan bersifat melindungi, sedangkan lumbung yang diartikan sebagai tempat menyimpan padi merupakan simbol berkah.


Mengenai batas usia penggunaan Turus Lumbung tersebut belum ada sumber yang pasti. Oleh karena itu, berbagai versi pendapat pun timbul. Ada yang mengatakan enam bulan, tiga tahun, atau bahkan sampai dengan si empunya rumah mampu mapan secara ekonomi,  untuk selanjutnya membangun mrajan permanen. Hal itu tentunya wajar saja, mengingat masyarakat Hindu yang religius senantiasa mengutamakan Tuhan dan leluhurnya, berkaitan dengan konsep hulu, tengah, dan teben tadi.


Namun, sebelumnya saat ngaruwak, pemilik karang harus membuat Sanggah Cucuk/Surya terlebih dahulu sebagai penghantar doa dan harapan agar pembangunan berjalan lancar. “Oleh karena itu, saat kubu (pondok) telah bisa dibangun rumah, maka Turus Lumbung dibangun menjadi mrajan,” ungkap Pinandita Pasek Swastika kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (23/11/2016).


Namun demikian, dalam pembangunan di masa modern ini, tentunya ada pilihan bagi masyarakat, yakni mendirikan mrajan terlebih dahulu atau rumah terlebih dahulu. Jika sesuai etika, tentunya mrajan sebagai hulu hendaknya dibangun terlebih dahulu. Namun, dalam realitanya jika rumah bertingkat, tentunya rumah yang harus dibangun terlebih dahulu. Oleh karena itu, tentunya masyarakat yang bersangkutan lebih paham situasinya. Yang terpenting adalah, keduanya bisa berlangsung secara selaras.


Pada pembahasan ini yang terlebih dahulu disampaikan adalah mrajan. Dalam berbagai sastra disebutkan bahwa keberadaan mrajan atau sanggah sangat penting bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Hal ini terkait penstanaan dari Tuhan, Dewa-dewa, atau roh leluhur (pitara). Oleh karena itu, beberapa lontar seperti Purwa Bhumi Kamulan, Usana Dewa, Gong Besi, dan sebagainya mencantumkan penstanaan roh leluhur yang kemudian dikaitkan dengan keberadaan mrajan.


Lalu apa saja palinggih-palinggih yang terdapat dalam mrajan? Dalam buku berjudul “Riwayat Mrajan di Bali” yang ditulis  Ktut Soebandi menyatakan,  konsep mrajan tertera dalam Lontar Ithi Prakerthi yang konon berdasarkan konsep Mpu Kuturan. Di dalam lontar tersebut diuraikan bahwa ada yang disebut dengan Tri Lingga, yakni Desa, Puseh, Dalem.


Selanjutnya ada empat jenis mrajan beserta jumlah palinggihnya. Pertama, disebut dengan Tri Lingga, palinggihnya terdiri dari Kamulan, Taksu, dan Tugu (Panunggun karang). Adapun panyungsung dari mrajan dengan konsep tri lingga adalah satu rumah tangga. Ada pula yang menyebutkan bahwa mrajan ini disebut paibon. Uniknya, mrajan ini sering disebut dengan istilah sanggah pakomelan. Pakomelan berasal dari kata kotor. Namun, menurut Pinandita Pasek, sesungguhnya yang benar adalah sanggah pakamulan. “Nah, mungkin karena terbiasa, lama-lama jadi pakomelan yang artinya berbeda,” ungkapnya.


Selanjutnya yang kedua, ada konsep mrajan Panca Lingga dengan palinggih berjumlah lima, yakni Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, dan Gedong. Panyungsung mrajan ini adalah beberapa rumah tangga yang masih satu purusha. Istilah lainnya bagi mrajan ini adalah Panti. Ketiga, disebut dengan Sapta Lingga, terdiri dari tujuh palinggih, yakni Kamulan, Taksi, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, dan Manjangan Salwang. Mrajan ini disebut dadya yang disungsung oleh panyungsung beberapa Panti dan Paibon. Terakhir, disebut dengan Ekadasa Papeking Dewata, terdiri dari 11 palinggih, yakni Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, Manjangan Salwang, Pasarem, Limas Sari, Lirah, dan Padma, disebut dengan Dadya Agung. Panyungsungnya adalah pemilik Dadya, Panti, dan Paibon.


Di samping palinggih-palinggih tersebut, biasanya ada pula palinggih pasimpangan atau panyawangan Ida Bhatara tertentu, misalnya Ida Bhatara Gunung Agung, Batur, Beratan, Batukaru, Lempuyang, dan sebagainya. Menurut Ktut Soebandi, pendirian pasimpangan tersebut karena kendala perbedaan wilayah di Bali pada masa itu, yang tidak menutup kemungkinan berselisih. Oleh karena itu, masyarakat membuat pasimpangan untuk tetap bisa melakukan pemujaan. Namun, tidak menutup kemungkinan pula, pasimpangan dibangun karena kendala jarak pada zaman dahulu.


Kembali ke mrajan untuk satu rumah tangga, yang disebut dengan sanggah pakamulan. Kamulan berasal dari kata mula yang berarti asal. Di dalam Kamulan, ada tiga palinggih pokok, yakni kamulan berupa rong tiga, taksu, dan tugu atau panunggun karang. Rong tiga merupakan stana dari Tri Murti, yakni Wisnu di Utara, Brahma di Selatan, dan Siwa di tengah. Jika dikaitkan dengan leluhur atau Sang Hyang Atma, maka bapa (bapak) di utara, meme (ibu) di Selatan dan manunggal di tengah. Palinggih Kamulan berada di Timur, menghadap ke Barat. Selanjutnya, palinggih taksu merupakan tempat untuk memohon kepada dewa/dewi hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kualitas diri. Letak palinggih Taksu, yakni di Utara menghadap ke Selatan. Sedangkan Tugu atau panunggun karang stana Ida Bhatara Dukuh Sakti. Ada pula yang menyebutnya sebagai stana Ida Bhatara Amangku Bhumi, yakni sebagai penguasa perbatasan pekarangan. Letaknya adalah di pojok pekarangan di arah barat laut menghadap ke Selatan. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #badung