BALI EXPRESS, CANGGU - Ketenangan dan kenyamanan rumah menjadi faktor penting, agar mendatangkan rasa betah bagi penghuninya. Salah satu pendukung ketenangan dan kenyamanan itu, yakni soal penataan bangunan yang sesuai.
Mengacu pada sistem tata ruang pekarangan di Bali yang sesuai dengan Astha Kosala-kosali dan Astha Bhumi, ada beberapa bangunan yang terdapat di dalam pekarangan dengan fungsi masing-masing. Pertama adalah bangunan suci, yakni mrajan atau sanggah dan panunggun karang yang telah dibahas sebelumnya. Fungsi mrajan tentunya sebagai tempat pemujaan Tuhan dan leluhur masyarakat Bali.
Kedua, Bale Meten atau Bale Daja terletak di bagian utara pekarangan, tepatnya di sebelah barat tempat suci / sanggah. Di dalamnya terdapat dua buah bale yang terletak di kiri dan kanan ruang. Bale sebelah kiri biasanya digunakan sebagai tempat tidur kepala keluarga atau orang yang dituakan, sedangkan bale sebelah kanan sebagai tempat untuk sembahyang, meletakkan peralatan upacara, atau benda pusaka. Bentuk bangunan Bale Meten adalah persegi panjang, dapat menggunakan saka atau tiang yang terbuat dari kayu yang berjumlah delapan (saka kutus ) dan 12 (saka roras). Fondasi Bale Meten, lebih rendah dari fondasi mrajan, namun lebih tinggi dari fondasi bangunan lainnya.
Ketiga, adalah Bale Dangin atau Bale Gede jika bertiang 12, yang terletak di bagian Timur pekarangan. Fungsi Bale Dangin ini adalah untuk tempat upacara. Pada Bale Dangin biasanya terdapat satu bale – bale, sedangkan Bale Gede menggunakan dua buah bale – bale yang terletak di bagian kiri dan kanan. Bentuk Bangunan Bale Dangin adalah segi empat ataupun persegi panjang, dan dapat menggunakan saka / tiang yang terbuat dari kayu yang dapat berjumlah enam (sakanem), delapan (saka kutus atau astasari), sembilan (sangasari) dan 12 (saka roras) yang disebut Bale Gede. Bangunan Bale Dangin adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman, namun lebih rendah dari Bale Meten.
Bale Dangin biasanya dipakai untuk kegiatan agak santai, membuat benda – benda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Fondasinya lebih rendah dari Bale Meten.
Keempat, adalah Bale Dauh, Loji, atau Tiang Sanga, terletak di bagian Barat halaman. Fungsinya untuk tempat menerima tamu dan juga digunakan sebagai tempat tidur anak yang sudah remaja atau dewasa. Di dalamnya terdapat sebuah bale-bale tempat beristirahat. Bentuk bangunan Bale Dauh adalah persegi panjang, dan menggunakan saka atau tiang yang terbuat dari kayu. Bila tiangnya berjumlah enam (sakanem), delapan (sakutus/astasari), atau sembilan (tiang sanga/sangasari). Fondasinya lebih rendah dari Bale Dangin.
Kelima, adalah Bale Delod yang terletak di sebelah Selatan halaman. Fungsinya sebagai tempat menerima tamu, kegiatan adat, atau bale kematian, tempat meletakkan jenazah anggota keluarga yang akan di-aben. Selain itu, bale ini juga berfungsi sebagai tempat meletakan sesajen atau banten sebelum melaksanakan yadnya, sebagai tempat untuk melaksanakan manusa yadnya, seperti otonan, potong gigi, dan upacara pemberkatan pernikahan, sehingga kerap disebut sebagai Bale Payadnyan. Fondasinya paling rendah di antara ketiga bale lainnya.
Keenam, adalah Jineng atau Lumbung yang letaknya di sebelah Tenggara Bale Delod. Jineng merupakan tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya pada bagian atas. Sedangkan pada bagian bawahnya adalah tempat bersantai. Ketujuh, adalah Paon atau dapur, yaitu tempat memasak bagi keluarga. Dapur biasanya ditempatkan di sebelah barat bale delod, agak ke selatan.
Selain bangunan tersebut, rumah biasanya dipagari dengan dinding atau tumbuhan yang dijepit dengan bambu dan pada pintu masuk pekarangan dibangun angkul-angkul. Untuk mencegah orang langsung bisa melihat ke pekarangan dan untuk menolak bala, biasanya dibangun aling-aling berupa dinding penghalang di belakang angkul-angkul.
Namun demikian, di zaman modern areal pekarangan yang terbatas tidak memungkinkan seseorang untuk membangun sedemikian rupa, kecuali memang memiliki pekarangan yang luas. Dengan demikian, tentunya ada berbagai penyesuaian.
Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika mengungkapkan, penyesuaian boleh saja dilakukan. Hal itu juga diterapkannya pada rumahnya yang berdiri di areal tanah yang tergolong sempit. Sesuai konsep pembagian areal pekarangan menjadi empat, yakni Sri (Timur Laut), Aji (Tenggara), Kala (Barat Laut), dan Rudra (Barat Daya) dengan catus pata di tengah-tengah, maka areal pekarangan yang sempit pun menurutnya tidak masalah.
Pertama, sebelum bisa mendirikan mrajan, ia membuat pelangkiran di dalam rumahnya yang terletak pada sudut kamar di Timur Laut yang merupakan areal Sri. Pelangkiran tersebut juga dilengkapi dengan taksu. Setelah itu, dilanjutkan dengan kamar tidur yang letaknya di areal Aji. Untuk kamar tidur yang perlu disesuaikan adalah pintu masuknya. Kepala keluarga hendaknya menyesuaikan pintu masuk kamarnya sesuai kelahiran berdasarkan pancawara. Adapun hitungannya adalah Umanis di Timur, Pahing di Selatan, Pon di Barat, Wage di Utara, dan Kliwon bisa memilih salah satunya.
Setelah itu, pada bagian dapur, hendaknya posisi memasak menghadap ke Selatan, dengan posisi keran air di Utara. Hal ini menyesuaikan dengan letak Dewata Nawa Sanga, yakni Dewa Brahma sebagai unsur api di Selatan dan Dewa Wisnu sebagai unsur air di Utara. “Jika tidak memungkinkan meletakkan kompor di Selatan, maka letak sanggah dapurnya yang diletakkan pada dinding sebelah Selatan,” ungkapnya. Demikian pula keran kamar mandi, ia menyarankan agar diletakkan di sebelah Utara sehingga ketika mandi menghadap ke Utara.
Selanjutnya, di areal Kala tentunya peletakan palinggih Panunggun Karang. Sedangkan di areal Rudra, bisa dimanfaatkan untuk garasi dan tempat bersantai. Perlu juga diingat bahwa tinggi fondasi keempat areal berurutan dari yang paling tinggi Sri, dilanjutkan ke Aji, Kala, dan Rudra. Mengenai perhitungannya, Pinandita Pasek menjelaskan ada ukurannya.
Dengan menggunakan ukuran gemel (tinggi genggaman tangan), maka tata urutannya adalah agemel disebut candi untuk fondasi mrajan, duang (dua) gemel disebut Watu untuk fondasi rumah, telung (tiga) gemel disebut Segara untuk sumur, petang (empat) gemel disebut Gunung untuk pagar, dan limang (lima) gemel disebut Runtuh yang patut dihindari. Namun demikian, karena ukuran agemel terlalu rendah, maka yang digunakan adalah kelipatannya. Misalnya fondasi mrajan menggunakan menggunakan solas (11) gemel, rumah pitung (tujuh) gemel, dan seterusnya. “Jika rumahnya bertingkat, maka pada lantai atas tempat mrajan tinggi fondasinya juga sedemikian rupa. Jadi tidak datar,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra