Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kepercayaan Orang Bali, Air Kucuran Atap Pantang Jatuh di Luar Pekarangan, Simak Penjelasannya

I Putu Suyatra • Minggu, 3 September 2017 | 16:22 WIB
Photo
Photo

CANGGU, BALI EXPRESS - Atap adalah bagian atas dari rumah yang berfungsi menghalangi air atau sinar matahari masuk ke dalam rumah.

Dengan adanya atap, penghuni rumah akan bisa berteduh.

Dalam konsep bangunan Bali, atap masuk dalam konsep utama yang diibaratkan dengan kepala manusia.

Selanjutnya tiang dan dinding adalah madya, diibaratkan sebagai badan. Sedangkan fondasi adalah bagian nista yang diibaratkan sebagai kaki.

Berdasarkan konsep bangunan Bali, atap rumah adalah salah satu bagian yang cukup disakralkan oleh masyarakat Hindu di Bali.

Uniknya, berbagai kepercayaan berkembang mengenai atap.

Beberapa larangan terkait atap, misalnya atap rumah tidak disarankan tumpang tindih yang menyebabkan kucuran air hujan  jatuh di atap yang lain.

Hal ini dipercaya menyebabkan pamali atau sakit pada bagian badan tertentu.

Selanjutnya, ujung atap juga tidak disarankan saling beradu, yang juga bisa menyebabkan sakit pamali.

Ada pula kepercayaan bahwa kucuran air atap sebaiknya tetap jatuh di pekarangan, meskipun menggunakan pipa.

Jika air tersebut langsung dibuang ke luar pekarangan, maka dipercaya penghuni rumah akan boros.

Oleh karena itu, sebisa mungkin diatur agar air tersebut jatuh di pekarang terlebih dahulu, barulah dialirkan ke luar pekarangan.

Karena merupakan bagian tertinggi dari rumah, maka atap dipercaya memiliki nilai kesucian tertinggi dari bagian bangunan lainnya.

Oleh karena itu, saat ada tirta yang tersisa, disarankan agar menyiramkannya ke atap rumah.

Hal tersebut dipercaya akan mendatangkan manfaat positif serta secara etika sebagai penghormatan kepada Ida Bhatara yang telah menganugerahkan tirta tersebut.

Maknanya di sini, tirtha tersebut tidak dibuang percuma. Pada zaman dahulu, atap rumah masyarakat Bali menggunakan ijuk, buyuk (sejenis daun tumbuhan sagu), klangsah (daun kelapa yang dianyam), alang-alang, dan sebagainya.

Alang-alang merupakan atap yang sangat diminati pada masanya.

Pada siang hari alang-alang bisa menyerap panas sehingga menyebabkan ruangan sejuk.

Sedangkan pada malam hari alang-alang melepas panas, sehingga menyebabkan ruangan hangat.

Atap alang-alang juga dipercaya memiliki kekuatan magis sebagai penolak bala bagi penghuninya.

Meski kini sudah mulai ditinggalkan, namun atap berbahan alang-alang masih digunakan saat upacara tertentu. (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#atap #bali #hindu #tradisi #badung #rumah