BALI EXPRESS, DENPASAR - Terkait dengan Sasih Kanem, masyarakat Bali kerap menghubungkannya dengan Ratu Gede Macaling yang berstana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Konon, pada sasih ini Beliau menguji ketahanan masyarakat Bali. Selain lima taksu yang dimiliki oleh Beliau, konon karena kesaktiannya Beliau juga berkuasa atas samudera yang ada di sekitar Nusa Penida hingga Bali. Oleh karena itu, Nangluk Merana juga dikaitkan dengan wabah yang berasal dari samudera. Barang siapa yang lalai menjaga diri dan lingkungannya, maka akan terkena dampaknya. Benarkah demikian?
Direktur Pasca Sarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par, mengatakan, permasalahan bukan terletak pada benar atau tidaknya mitos Ratu Gede Macaling. “Bukan di sana permasalahannya. Mitos dibuat oleh leluhur untuk menjaga diri dan keturunannya,” ujarnya.
Menurutnya, sesuai kearifan lokal di Bali, orang yang bisa menjaga diri dan orang di sekitarnya adalah orang yang dituakan. “Sehingga orang seperti itu diberikan gelar Ratu Gede, Ratu Niang, Ratu Ayu, dan sebagainya,” jelasnya.
Lebih lanjut Sumadi mengatakan, Ratu Gede Macaling adalah perlambang ketegasan. “Kalau berani merusak alam, tentunya akan tertimpa akibatnya,” jelasnya. Oleh karena itulah pada saat Nangluk Merana, masyarakat memohon perlindungan dari Ratu Gede Macaling. Dengan berkat Beliau, diharapkan segala wabah hama dan penyakit bisa teratasi.
Sumadi juga menyampaikan bahwa kawasan Nusa Penida sesungguhnya menjaga kawasan Bali dari terjangan angin samudera di Tenggara, agar tidak langsung terpapar. “Itu kan penjagaan sangat kuat. Walaupun dengan mitos, tapi secara alami Nusa Penida ibaratnya benteng,” ujarnya.
Demikian pula Bukit Jimbaran, dikatakannya, menangkal angin dari samudera di Selatan. “Jadi, perannya sangat besar kepada masyarakat, makanya kita harus bersyukur dan ikut menjaganya,” imbuhnya.
Mitologi Ratu Gede Macaling sebagai penguasa samudera juga dikaitkannya dengan kepercayaan masyarakat Jawa yang percaya dengan keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Pantai Selatan. “Secara ritual yang mungkin berbeda, karena kita masih mempertahankan tradisi bhairawa dan tantrik, sehingga masih menggunakan binatang saat upacara,” jelasnya.
Namun demikian, Sumadi mengatakan secara realistis, ritual harus sejalan dengan tindakan nyata melestarikan alam. “Jadi harus dijaga betul alam itu,” ungkapnya. Dengan demikian, lanjutnya, harus mempertahankan mitos yang bernilai positif bagi alam dan umat manusia, karena secara tidak langsung mitos tersebut juga menambah keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mitos yang baik tersebut kemudian dimasukkan dalam purana. “ Jadi, seseungguhnya kita sedang mengaplikasikan ajaran Purana yang juga merupakan ajaran Weda yang dikemas secara local wisdom. Inilah ajaran Hindu kita di Nusantara,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra