BALI EXPRESS, DENPASAR - Pulau Bali dikenal sebagai ‘Pulau Seribu Pura. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pura yang dijumpai saat melewati setiap sudut jalanan di Pulau Bali. Salah satunya adalah Pura Dalem Suniantara yang terletak di kawasan Jalan Sesetan, Denpasar. Pura ini konon merupakan pura yang sangat bertuah. Seperti apa kisahnya?
Pura Dalem Suniantara merupakan pura dadia (keluarga) yang berada di lingkungan Banjar Kaja, Desa Sesetan, Kota Denpasar. Pura ini tertata asri karena ada kolam berbentuk ‘L’ dan berisi Teratai yang mengelilingi sebagian pura.
Pura yang tidak diketahui kapan didirikan ini diwarisi oleh Jro Mangku Ketut Wernawan, sejak tahun 1975-an. "Pura ini merupakan pura yang kedua setelah Pura Khayangan Tiga," ujar pamangku Pura Dalem Suniantara, Jro Mangku Ketut Wernawan, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di kawasan pura, Rabu (30/11/2016).
Dijelasakan lebih lanjut, nama Suniantara berasal dari kata ‘Sunia’ yang artinya sepi atau sunyi. Di mana pada saat itu belum banyak berdiri pura di lingkungan Desa Sesetan. Sehingga pura tersebut merupakan pura dadia tertua di Sesetan. Awalnya, candi bentar atau pintu masuk pura ini tinggi dan megah, namun setelah terjadi gempa besar pertama di Bali sekitar tahun 1976, candi bentar pura tersebut roboh, dan meninggalkan puing-puing reruntuhan berupa batu bata dan beberapa patung berbahan paras yang rusak. "Hal itu menyebabkan adanya patahan batu bata dan paras yang didapat ketika dilakukannya penggalian di area Pura Dalem Suniantara", imbuh pria 71 tahun ini. Reruntuhan tersebut tidak satupun ada yang dibuang keluar area pura, melainkan ditanam kembali di sekitar area pura tersebut. Seiring bergulirnya waktu, perlahan Wernawan kemudian membangun kembali pura tersebut.
Panyungsung atau pangempon pura ini banyak yang berasal dari luar Desa Sesetan. Di antaranya dari Banjar Tampakgangsul, Banjar Belaluan, Banjar Kelandis, Desa Kapal, dan Uma Anyar yang semuanya memiliki kawitan di Pura Pamlinggir di Kabupaten Klungkung. Di mana warga yang merupakan keturunan Pasek dan Gaduh, bersatu dan memiliki kawaitan yang sama di Pura Pamlinggir ini. Tidak diketahui apa yang menyebabkan banyaknya keluarga dari luar Desa Sesetan yang ikut menjadi pengempon Pura Dalem Suniantara.
Pihaknya menduga, hubungan kekerabatan dan pernikahan menjadi cikal bakal adanya pangempon dari luar Desa Sesetan. Adapun jumlah anggota pemaksan dari pura ini adalah 35 kepala keluarga. Semua kepala keluarga diwajibkan untuk menjadi anggota maksan termasuk anak laki-lakinya yang sudah menikah. Hal ini dilakukan guna mengamankan regenerasi yang bersangkutan. Jumlah ini tergolong sedikit, sebab, ada salah satu pura di lingkungan Desa Sesetan yang anggota maksannya berjumlah 200 kepala keluarga.
Pura yang telah berdiri cukup lama ini memiliki kebiasaan yang tergolong unik pada saat melakukan pembuatan banten piodalan. Di mana, semua keperluan banten didata dan dibagi sebanyak jumlah maksan.
Semua jenis banten, seperti peras sodan, pakeling, sayut pangambian dan lainnya diserahkan pembuatannya kepada seluruh anggota maksan. Kecuali banten serodan dan pregembal tidak diserahkan pembuatannya kepada warga maksan. Oleh karena pembuatannya yang tergolong rumit dan menghabiskan biaya yang juga tinggi, dibijaksanai untuk membeli banten tersebut yang menggunakan uang kas pura. "Griya Tampakgangsul yang biasanya menjadi tempat pembelian banten serodan dan pregembal," ujar pria yang juga mantan guru olahraga di SMA N 5 Denpasar ini.
Pujawali di Pura Dalem Suniantara dilaksanakan pada Anggara Kasih Medangsia atau 10 hari setelah hari raya Kuningan. Sementara kata ‘Dalem’ yang terdapat pada nama Pura Dalem Suniantara sudah ada sejak awal berdrinya. Tetapi, banyak masyarakat yang menyebutkan Pura Dalem Suniantara dengan Pura Suniantara, jadi kata Dalem jarang disertakan.
Sejatinya, kata dalem merupakan sebutan untuk pura yang memiliki Auban atau Patapakan dan di dalamnya berstana Dewa Siwa. Auban atau Patapakan yang dimiliki Pura Dalem Suniantara di antaranya berupa Belibis. “Tabik pakulun, Ida Ratu Agung dan Manikan Galih yang berstana di Pura Dalem Suniantara," ujar pria yang merupakan mantan atlet PON ini.
Berbagai pengalaman pahit pernah dialami Wernawan dalam perjalanannya menjadi pengabdi di pura. Kehilangan arca adalah kejadian yang masih terpampang jelas di benaknnya. Pencuri mengambil empat arca yang ada di Pura Dalem Suniantara pada Juli 2008 silam. "Kehilangan ini merupakan kehilangan arca pertama di beberapa pura di Denpasar", jelasnya.
Hal itu tak lantas membuat ia menyerah. Ia sempat mendatangi Polda Bali untuk mengecek keberadaan pratima tersebut. Sayangnya, berdasarkan hasil penyitaan terhadap berbagai barang bukti dari kasus pencurian pratima, tidak ditemukan pratima dari Pura Dalem Suniantara. Wernawan lalu berusaha untuk mengumpulkan dana agar dapat membeli kembali arca yang hilang. Akhirnya rencana itu dapat diwujudkan dengan segala usaha. Griya Babakan Mengwi yang didaulat menjadi pembuat arca itu kembali. Setelah semua arca selesai, dilaksanakanlah karya di pura tersebut dengan biaya yang ditanggung oleh dirinya sendiri.
Di samping itu, pura ini juga pernah terbakar dua kali, khususnya pada bangunan palinggih Gedong Layang. Terbakarnya palinggih tersebut diakui olehnya sebagai kelalaian dirinya sendiri saat membakar ranting pohon kering di sekitar pura. Ia mengaku bahwa apapun yang terjadi pada pura warisan leluhurnya tersebut, merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai pamangku sekaligus panglingsir. Ia yakin Tuhan senantiasa memberikannya bimbingan dalam melaksanakan kewajibannya.
Adapun palinggih utama di Pura Dalem Suniantara adalah Tajuk Ratu Agung dan Tajuk Manikan Galih yang merupakan konsep purusha-pradana/lanang-wadon/laki-perempuan. Selanjutnya, ada pula palinggih Ratu Niang Sakti dan Ratu Gede Sapu Jagat yang berupa arca dan ditempatkan di aling-aling. Di samping itu, ada pula palinggih Pangenter, Pangayatan Gunung Agung, Gedong Layang, Gedong Simpen, dan Ratu Ngurah. Untuk menyimpan pratima, beberapa tahun yang lalu juga dibuatkan tower agar lebih aman.
Editor : I Putu Suyatra