BALI EXPRESS, DENPASAR - Bunga Jepun merupakan sebutan masyarakat Bali untuk Bunga Kamboja (Plumeria Lubra L.cv Acutifolia). Di kalangan masyarakat muslim, pohon ini dikenal sebagai pohon kuburan. Namun, berbeda dengan masyarakat Bali, pohon ini justru marak dijumpai di lingkungan pura. Selain bunganya untuk sarana upacara, juga bisa digunakan untuk bahan obat-obatan herbal.
Bunga Jepun memiliki rasio berbunga yang tidak terbatas. Sebab, pohon ini akan selalu berbunga di setiap musim apa pun. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman, dan umumnya di daerah pekuburan atau tumbuh secara liar "Uniknya, pada saat musim panas tiba, pohon ini akan menggugurkan semua daun dan hanya menyisakan bunganya saja," ujar Dekan Fakultas Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia, Ir. I Nyoman Prastika, M. Si, Jumat (2/12/2016).
Lebih lanjut, pria yang kerap disapa Pak Pras tersebut menjelaskan, Ayurweda merupakan ilmu pengobatan tradisional Bali yang terdapat dalam Kitab Suci Weda bagian Upaweda. Ayurweda adalah cara untuk sehat dan berumur panjang. Dikatakan Prastika, konsep kesehatan dalam Ayurweda berdasarkan Tri Upastamba, yakni Ahara yang berarti makan sehat, Wihara berarti berperilaku yang sehat, dan Nidra berarti tidur yang sehat. Selanjutnya, Tri Upastamba dipengaruhi Tri Dosha, yakni Wata (unsur ether dan udara), Pitta (unsur air dan api), dan Kapha (unsur air dan bumi).
Jika dihubungkan dengan konsep usadha di Bali, Prastika mengatakan, ada konsep Tri Sakti, yakni Brahma (api/panas), Wisnu (air/dingin), dan Iswara (udara). “Kalau itu tidak seimbang, maka disebut sakit,” ujarnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, cara menyeimbangkan Tri Dosha adalah menyeimbangkan Tri Upastamba itu sendiri atau melalui empat jenis pendekatan Ayurweda.
Pertama, adalah pendekatan mistik seperti melalui penolak bala, sasikepan, mantra, dan sebagainya. Kedua adalah pendekatan psikologi, seperti brata (pengendalian diri), upawasa (puasa), atau diet dengan yoga.
Selanjutnya yang ketiga dengan pendekatan tatap muka antara pengobat dan pasien yang bisa menimbulkan keyakinan pasien untuk sembuh. Yang keempat adalah dalam bahasa Sansekerta disebut Ausadha yang berarti obat atau tumbuhan yang bisa dijadikan obat.
“Sedangkan kalau dilihat Usadha di Bali akan memberikan pengertian yang lebih kompleks, karena mencakup diagnosa, pencegahan, dan pengobatan, baik fisik maupun non fisik atau tata cara pengobatan secara tradisional,” paparnya.
Pria asal Klungkung tersebut melanjutkan, bahwa tumbuh-tumbuhan di dalam Ayurweda dibagi menjadi empat jenis. Pertama, Wanaspati, yakni tumbuhan yang berbuah. Kedua Wanaspatya, yakni tumbuhan berbunga dan berbuah. Ketiga disebut Wirut, yakni tumbuhan menjalar. Keempat adalah Osadhi, yakni tumbuhan yang setelah berbuah sekali langsung mati. "Dalam Ilmu Ayurweda, bunga Jepun termasuk kelompok Wanaspatya," imbuhnya. Sebab, Jepun merupakan tanaman yang terdiri atas, akar, batang, daun, bunga dan buah. Pohon ini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit.
Dijelaskan Prastika, batang Jepun mengandung getah putih yang mengandung damar, Kautscuk (senyawa sejenis karet), dan Triterpenoid amytin dan Lupeol. Khusus pada kulit batang berkhasiat untuk menumpas rasa sakit karena bengkak dan pecah-pecah pada telapak kaki. Selain itu, batang Jepun juga mengandung senyawa Plumeirid, yakni senyawa Glikosida yang bersifat racun. Karena bersifat racun dan bisa mematikan kuman, getah Kamboja dengan dosis yang tepat berguna sebagai obat sakit gigi atau obat luka. Di samping juga berkhasiat bagi penderita Frambusia. “Namun, getah ini jangan sampai kena mata karena bisa mengakibatkan kebutaan,” ujar Prastika.
Bunga Jepun , lanjut Prastika, bisa digunakan sebagai teh untuk mencegah rematik atau asam urat. Selain itu, dapat pula meredakan demam, menghentikan batuk, dan melancarkan keluar air seni. Bahkan, mampu juga menghentikan mencret karena disentri, mencegah pingsan karena hawa panas, dan menyembuhkan sembelit. Khusus untuk sembelit, ramuan the dari bunga Jepun harus dikonsumsi dalam jumlah banyak. Manfaat lainnya, bunga kamboja yang wangi dapat digunakan sebagai bahan campuran sabun, obat nyamuk, dan minyak wangi.
Khasiat lainnya, getah Jepun yang mengandung sejenis antiseptic, mampu menyembuhkan gatal-gatal di sela-sela jari kaki karena kuman air dan sejenisnya, juga atasi tumit pecah-pecah ataupun luka-luka kecil di tangan dan kaki. “Tetapi untuk kulit lunak dari bagian tubuh kita, tidak dianjurkan menggunakan getah Plumeria ini, karena bisa mengakibatkan iritasi ataupun luka yang lebih serius. Bahkan, bisa menimbulkan kebutaan jika terkena mata,’ ujarnya.
Editor : I Putu Suyatra