Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Akar hingga Daun Jepun Bisa Jadi Obat, Ini Mantramnya

I Putu Suyatra • Selasa, 5 September 2017 | 16:08 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kabupaten Badung memilih bunga Jepun (Kamboja) sebagai maskot daerah. Pemilihan ini bukan tanpa alasan, karena bunga Jepun sarat dengan makna filosofis.


BUNGA Jepun  melambangkan kebaikan dan kesejahteraan, dan juga persatuan. Sari bunganya melambangkan pemimpin yang selalu dekat dengan rakyatnya. Hal ini kian komplet, karena Badung juga memiliki lagu kebanggan berjudul ‘Bungan Jepun’.


Dalam perspektif Ayurweda Bunga Jepun memiliki manfaat dalam pengobatan. Akar pohon Jepun dapat dimanfaatkan sebagai obat penghancur kencing batu. Caranya, rebus akar pohon jepun, selanjutnya air rebusan akar langsung diminum.  


 


Getah pohon Jepun juga dapat dimanfaatkan sebagai obat menghilangkan tai lalat dan menyembuhkan luka. Cara yang dilakukan adalah dengan meneteskan dan mengoleskan getah Jepun pada luka atau tahi lalat. Sedangkan bunga dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai penyembuh bisul. Cara yang dilakukan adalah dengan  menggabungkan dan mengulek daun dan bunga Jepun. Selanjutnya diletakan pada bisul. Bunga Jepun juga dapat dimanfaatkan sebagai campuran pembuatan obat pencegah kanker dan aroma terapi.


Selain itu, bunga dan daun Jepun dapat dimanfaatkan untuk mengobati gatal-gatal pada kulit. Daun dan bunga Jepun diulek untuk selanjutnya dioleskan pada bagian yang gatal. Banyak juga yang memanfaatkan batang Jepun untuk menyembuhkan telapak kaki yang luka maupun pecah-pecah. Khusus untuk masalah ini, batang Jepun dibakar hingga mengeluarkan air pada ujungnya, selanjutnya diteteskan pada luka atau kaki yang pecah-pecah.


 


Dekan Fakultas Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia, Ir. I Nyoman Prastika, M. Si, mengatakan, dalam lontar Taru Pramana dijelaskan juga manfaat pohon Jepun. Diterangkan bahwa pohon Jepun memiliki manfaat sebagai obat sakit pinggang (wangkong), dengan cara  menggunakan kulit pohon yang dicampur dengan kapur sirih, selanjutnya diletakan pada pinggang yang sakit. "Keseluruhan tata cara pengobatan tradisional Hindu biasanya dilakukan pasupati sebelum obat tersebut digunakan. Dengan harapan obat tersebut mampu memberikan manfaat maksimal dan kesembuhan bagi yang mengonsumsi obat tersebut," ujar Prastika. 


 


Mantra pasupati yang biasa digunakan,  yakni ‘Ngadeg Sang Hyang Tunggal mada uripin buana kabeh, angaji pangurip-urip anguripi sananing sastra, anguripi rerajahan, anguripi obat, dewa urip, tegeh urip pada urip om.’


Namun, tak jarang masyarakat yang tidak mengerti tentang mantra mengucapkan keinginannya secara sederhana,  namun harus berkonsentrasi. Pak Pras mencontohkan cara yang sederhana seperti ;  Inggih Ratu Bhatara tityang nunas pasupati mangda obat niki maguna lan anake sakit prasida sembuh. "Pada dasarnya semua pengobatan tradisional Bali tergantung pada Cita Werti Niroda  yaitu fokus pikiran masing-masing individu," tutup Prastika. 

Editor : I Putu Suyatra
#usadha #denpasar