Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Perkawinan Hindu Bali: Ritual Matanjung Sambuk, Sambuk Harus Dijaga, Tak Boleh Diambil Orang, Ini Tujuannya

I Putu Suyatra • Minggu, 10 September 2017 | 14:18 WIB
Photo
Photo

 

DENPASAR, BALI EXPRESS - Setiap pernikahan yang diadakan umat Hindu di Bali membawa nuansa sakral yang khas. Salah satunya adalah metanjung sambuk.

Ritual metanjung sambuk dalam Hindu Bali ini disertai dengan berbagai pantangan dan larangan yang harus dihormati selama prosesi berlangsung.

Mematuhi semua aturan dalam ritual metanjung sambuk dalam budaya Hindu Bali, ini adalah sesuati yang penting yang harus dipenuhi.

Harapannya keberuntungan akan selalu melimpahkan perlindungan ilahi dalam perjalanan kehidupan berumah tangga.

Sebab, pernikahan di Bali dianggap sebagai momen penting yang penuh kebahagiaan bagi kedua mempelai yang bersangkutan.

Semua keinginan dan harapan telah diungkapkan dalam doa untuk pencapaian mereka.

"Semua peralatan yang digunakan selama upacara Natab Makala-kalaan memiliki makna yang mendalam terkait dengan berbagai ujian yang mungkin akan dihadapi oleh kedua mempelai," kata Jro Mangku Satra.

Lebih lanjut, Satra menjelaskan makna di balik penggunaan tiga batang sapu lidi selama upacara Natab Beten, yang merupakan simbol dari konsep Tri Kaya Parisudha.

Menurutnya, pengantin pria dan wanita saling memperhatikan satu sama lain, memberikan isyarat peringatan, dan mendorong satu sama lain untuk selalu mengingat kewajiban mereka dalam menjalani Tri Rna dan menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan berumah tangga.

Ini adalah langkah penting untuk mencapai tujuan Grhasta Asrama itu sendiri.

Upacara pernikahan di Bali yang sederhana dikenal sebagai Matanjung Sambuk, di mana kedua mempelai saling menendang serabut kelapa (matanjung sambuk) sebanyak tiga kali, sebelum secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita.

Ini adalah upaya untuk menunjukkan kesiapan mereka untuk mengalah dalam konflik dan untuk segera berdamai.

Mereka juga selalu diingatkan untuk menjaga kesucian diri mereka agar bisa mengendalikan kekuatan triguna.

Satra juga menekankan pentingnya penyimpanan serabut kelapa, atau Sambuk Kupakan, yang digunakan selama Natab Beten.

Serabut kelapa ini harus dijaga dan disimpan di bawah tempat tidur pengantin dengan tujuan untuk melambangkan perawatan yang sama yang harus diberikan kedua mempelai terhadap hubungan perkawinan mereka.

Sambuk ini memiliki pengaruh signifikan terhadap keberlanjutan pernikahan.

Jika tidak dijaga dengan baik, bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang iri melihat kebahagiaan pasangan tersebut.

Hal ini dapat menyebabkan konflik, pertengkaran, bahkan perceraian.

Dalam kesimpulannya, Satra menegaskan bahwa memahami dan menghormati tradisi serta simbol-simbol sakral dalam pernikahan di Bali adalah kunci untuk memastikan kelangsungan dan keberhasilan pernikahan yang bahagia.

Dengan mematuhi aturan dan menjaga keharmonisan hubungan, pasangan bisa menjalani kehidupan berumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan kebahagiaan.

 

Editor : I Putu Suyatra
#pewiwahan #ritual #bali #hindu #denpasar #tradisi