Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Way Lunik; “Besakihnya” Lampung, Disungsung Satu Juta Umat Hindu

I Putu Suyatra • Rabu, 13 September 2017 | 16:05 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, BANDAR LAMPUNG - Keberadaan Pura Kahyangan Jagat di luar Bali memang selalu menarik perhatian untuk dikupas. Pada Hari Purnama Selasa lalu (5/9), koran ini menyempatkan bertirtayatra ke Pura Kerti Bhuana yang terletak Dusun Way Lunik, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.  Pura ini disungsung oleh hampir satu juta umat Hindu yang bermukim di Provinsi Lampung.


 


Letak Pura Kerti Bhuana atau yang dikenal dengan sebutan Pura Way Lunik berada di atas perbukitan, dengan ketinggian mencapai 120 meter di atas permukaan laut. Pura ini berada di pinggir ruas Jalan Bypass Soekarno-Hatta. Sehingga sangat mudah oleh berbagai moda transportasi.


 


Dari pinggir jalan, tempat suci umat Hindu terbesar di Lampung ini sudah bisa dilihat. Lantaran dari sisi arsitekturnya sangat kental dengan nuansa Bali. Mulai dari candi bentar, jejeran pelinggih hingga bangunan bale kulkul yang menjulang tinggi di depan pura. Suasana itu seolah terasa di Pulau Dewata.


 


Pura ini diempon oleh 475 KK yang tersebar di empat banjar wilayah Kota Bandar Lampung. Di antaranya Banjar Bhuana Santi sebanyak 200 KK, Banjar Tengah 90 KK, Banjar Satriya 150 KK, Banjar Satya Dharma 35 KK.


 


Saat memasuki pura, di depan pintu gerbang sudah disambut oleh beberapa orang untuk ngerapuh (memercikkan tirta pebersihan, Red) para pemedek yang nangkil. Mereka pun langsung ramah menyambut ratusan pemedek sembari memberikan kwangen dan bunga.


 


Pura seluas 5.000 meter persegi ini dibagi menjadi tiga mandala (bagian, Red). Nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Pada bagian nista mandala (terluar) terdapat bale kulkul setinggi 7 meter. Setelah masuk lebih ke dalam, tepatnya di bagian madya mandala di sana terdapat sebuah pelinggi Dewa Ganesha sebagai Dewa Penghalang segala rintangan. Selain pelinggih Ganesha, di madya mandala juga terdapat bangunan yang menyerupai wantilan.


 


Sedangkan di bagian utama mandala, terdapat beberapa bangunan pelinggih seperti padmasana, pelinggih gedong, bale pelik, panglurah, bale pemiosan, wantilan, dan bale gong.


 


Menurut Sekretaris PHDI Provinsi Lampung, I Ketut Subudi, saat ditemui di Pura Kerta Bhuana, Pura Kahyangan Jagad ini dibangun pada tahun 1970. Awalnya, lahan tempat dibangun pura ini merupakan milik perseorangan. Namun dengan pertimbangan tertentu, akhinya dihibahkan kepada umat Hindu di Provinsi Lampung untuk dibangun tempat suci. Selanjutnya umat Hindu di Lampung mengganti lahan tersebut sesuai dengan kemampuan.


 


“Pembangunan pura provinsi ini dibangun secara bertahap sejak tahun 1970. Dibangun oleh umat Hindu yang transmigrasi ke Lampung. Sebagian besar kaum transmigrasi berasal dari Bali. Mereka kemudian secara swadaya membangun Pura Kerti Bhuana,” ujar Subudi kepada koran Bali Express (Jawa Pos Group).


 


Subudi menambahkan, pertimbangan dibangunnya pura di ketinggian memang merujuk pada lokasi nyegara gunung. Menurutnya, lokasi dibangun Pura Kerti Bhuana sudah mencerminkan aspek nyegara gunung.


 


“Posisi pura ini sudah merepresentasikan konsep nyegara gunung. Berada di ketinggian yang dekat dengan wilayah peraiaran. Bahkan dulu sebelum dibangun tempat suci, lokasi ini memang begitu terisolir, sehingga vibrasi kesucian jelas terasa. Mungkin itu pertimbangan dibangunnya pura di atas bukit ini,” bebernya.


 


Subudi menyebutkan, Pura Kerti Bhuana merupakan salah satu dari 500 pura yang ada di provinsi paling ujung timur Sumatera ini. Jumlah pura tersebut berbanding lurus dengan keberadaan umat Hindu di Lampung. Ia memerinci, hingga tahun 2017 ini, PHDI Provinsi Lampung mencatat sebanyak 1 juta umat Hindu tinggal menetap di Lampung. Mereka tersebar di 15 kabupaten, yang sebagian besar merupakan kaum transmigran asal Bali. Warga asal Bali disebut Subudi merupakan penduduk pendatang tertinggi nomor dua setelah pendatang asal Jawa.


 


“Jumlah umat Hindu terbanyak itu ada di Kabupaten Lampung Tengah. Mencapai 350 ribu KK. Sisanya ada di Kabupaten Lampung Timur, Way Kanan serta secara merata tersebar hampir di 15 kabupaten di Lampung” jelasnya.


 


Menariknya, saat pujawali yang digelar setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan atau Hari Raya Kuningan, Pura Kerti Bhuana selalu diserbu pemedek. Bahkan dalam sehari sekitar 200 ribu pemedek diprediksi nangkilmemadati Pura Kahyangan Jagad ini. Tak pelak, pujawali yang nyejer selama dua hari bila dikalkulasi bisa dipadati hampir 400 ribu pemedek.


 


“Yang nangkil itu bisa dari seluruh umat Hindu di Lampung. Pujawalinya dilaksanakan setiap 210 hari sekali, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Nyejer juga selama dua hari. Itu karena padatnya pamedek yang nangkil. Sedangkan kalau Purnama dan tilem pura ini juga selalu ramai dikunjungi pamedek,” ucapnya.


 


Berdasarkan keputusan Loka Sabha pertama, sambung Subudi, PHDI Lampung tanggal 30 Juni 1981 memutuskan bahwa Pura Kahyangan Jagat Kerthi Bhuwana adalah berstatus Pura Propinsi yang merupakan Pura pusat bagi umat Hindu se-Propinsi Lampung. Berfungsi sebagai pelinggih persimpangan Ida Betara di Pura Besakih Bali.


 


“Makanya yang berstana di pura ini adalah Brahma, Wisnu dan Iswara. Sehingga bisa dikatakan sebagai Besakih-nya Lampung. Selain itu juga dijadikan sebagai pura gerbang, artinya jika hendak memasuki atau keluar Pulau Sumatera, banyak yang nangkil ke pura ini, sebelum mereka melanjutkan perjalanan,” kata Subudi.


 


Sementara itu perhatian Pemerintah Provinsi Lampung terhadap keberadaan Pura Bhuana Kerti tergolong tinggi. Bahkan Pemprov Lampung disebut Subudi sempat menghaturkan dana punia untuk kegiatan pemugaran pura pada tahun 2015. Tak hanya itu, saat melaksanakan upacara karya agung memungkah, melaspas, mendem pedagingan, mepedudusan agung, dihadiri oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. 


 


“Terakhir tahun 2015 ada upacara ngenteg linggih disertai dengan mecaru menggunakan Kkrbau. Saat itu dihadiri oleh Gubernur Lampung Bapak Ridho Ficardo. Itu sebagai wujud perhatian Pemprov Lampung terhadap umat Hindu di Lampung,” tutupnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#pura #lampung #sejarah pura