BALI EXPRESS, SUKAWATI - Pura Erjeruk yang berada di Banjar Gelumpang, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, diperkirakan berdiri sekitar abad ke-10 Masehi. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa pura ini merupakan Pura Sad Kahyangan. Namun, tidak sedikit yang mengatakan bahwa pura ini tergolong Pura Dang Kahyangan.
Pura Erjeruk merupakan salah satu tempat suci yang didirikan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Dang Hyang Niratha. Pura yang didirikan sekitar abad-10 ini,termasuk pura tua di Bali. Hal itu dibuktikan dengan wujud fisik bangunan pura yang mirip dengan palinggih yang ada di Pura Kehen, Bangli. "Seperti adanya bedawang nala terbelit dua ekor naga (Basuki dan Anantabhoga) pada bagian dasar palinggih utama," ujar pemangku Pura Erjeruk, Ida Bagus Made Putra Adnyana yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (21/12/2016) kemarin.
Dijelaskan lebih lanjut Ida Bagus Made Putra Adnyana, nama Erjeruk bermula dari perjalanan Dhang Hyang Nirartha bersama pengikutnya merabas alas (hutan) angker Payangan. Banyak pengikutnya yang tewas Lantaran beragam sebab. Saat beristirahat untuk memulihkan kondisi fisik, Dhang Hyang Nirarta melihat Juwuk (jeruk) Linglang yang konon hanya bisa hidup di negeri para dewa. "Buah jeruk itu akhirnya digunakan untuk mengobati dan menghidupkan pengikut Dang Hyang Nirarta yang tewas dalam membabat hutan Payangan. Setelah semua prajurit yang terluka sembuh total dan yang tewas hidup kembali, Dang Hyang Nirartha pun membuat suatu palinggih yang disebut dengan nama Erjeruk" ujar Pria yang juga polisi ini.
Dalam lontar Dewa Purana Bangsul disebutkan Pura Erjeruk digolongkan sebagai satu dari enam pura besar yang sering disebut Pura Sad Kahyangan (selain Pura Besakih, Batukaru, Watuklotok, Sakenan, dan Tanah Lot). Namun, ada juga menyebut sebagai Dang Kahyangan, karena sempat menjadi petilasan Danghyang Nirartha ketika melakukan perjalanan suci di tanah Bali. Bahkan warga sekitar meyakini pohon kampuak yang tinggi besar di jeroan adalah tongkat sang maharsi yang sengaja ditancapkan sebelum meninggalkan tempat suci ini.
Pura Erjeruk disebut sebagai Pura Dang Kahyangan karena di pura ini terdapat Manjangan Saluwang sebagai pemujaan orang suci Mpu Kuturan dan juga Meru Tumpang Tiga, sebagai pumujaan Dang Hyang Nirartha. Dua tokoh ini adalah sebagai Dang Guru atau sebagai Adi Guru Loka pada zamannya. "Adanya dua Dang Guru itulah yang menandakan Pura Erjeruk ini pernah berfungsi secara intensif sebagai media pendidikan kerohanian umat, sehingga Pura Erjeruk dapat disebut sebagai Pura Dang Kahyangan," ujar Adnyana.
Adnyana menerangkan, bagi sebagian penduduk Sukawati dan sekitarnya mengenal pura ini sebagai pura subak. Yang merupakan tempat suci bagi mereka yang berprofesi menjadi petani. Lantaran itu pula, pura ini diempon oleh Subak Gede Sukawati yang berjumlah 13 subak. “Pura ini memang difungsikan untuk memohon kesuburan tanah dan tanaman para petani. Di pura ini pula petani di lingkungan Subak Gede Sukawati memohon kepada Hyang Widhi agar tanaman diberi keselamatan dan hasil panen yang melimpah,” imbuhnya.
Struktur bangunan Pura Erjeruk tak beda jauh dengan pura yang umumnya ada di Bali. Pura seluas 70 meter x 30 meter ini terbagi tiga bagian (tri mandala). Halaman jeroan (utamaning mandala), jaba tengah (madyaning mandala), dan halaman jaba sisi (nistaning mandala).
Lebih lanjut dijelaskannya, pada bagian Madya Mandala atau halaman tengah terdapat Palinggih Gedong sebagai stana Ratu Gede atau 'orang besar' yang pernah berkuasa di Bali. Konon palinggih itu sebagai stana roh suci Dalem Waturenggong. Palinggih ini untuk mengingatkan saat Dalem Waturenggong mengalahkan Dalem Juru di Blambangan, Jawa Timur. Sebelumnya Dalem Waturenggong ingin mengembangkan persahabatan lewat perkawinan dengan melamar putri Dalem Juru. Entah apa sebabnya lamaran Dalem Waturenggong ditolak dengan cara yang tidak terhormat. Sehingga terjadi pertikaian sengit yg berujung kekalahan Dalem Juru.
Sementara bagian utama, yakni jeroan pura terdiri tak kurang 26 palinggih, di antaranya Meru tumpang lima (pelinggih pokok) sebagai stana Ida Batara Putra Jaya dan Meru tumpang tiga palinggih Danghyang Nirartha. Piodalan di Pura Erjeruk ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali dan jatuh pada Rabu Kliwon Wuku Pahang. "Namun, pelaksanaan piodalan di pura ini setiap satu tahun sekali menggunakan banten yang lebih besar," jelasnya.
Pihaknya menambahkan, Pura Erjeruk ini juga sebagai tempat melangsungkan upacara Nangluk Merana yang umumnya dilakukan saat Sasih Kaenem. Karena itu di Pura Erjeruk ada Palinggih Tugu Pasimpangan Ratu Mas Macaling atau Ratu Gede Nusa di sebelah selatan pada areal jaba sisi. Umat Hindu, terutama di Bali Selatan sangat yakin Ratu Gede Nusa inilah yang sebagai pengendali hama. Setelah upacara selesai, masyarakat Sukawati akan diberikan gelang sebagai tanda memohon keselamatan. "Upacara Nangluk Merana ini diyakini sebagai media untuk membangkitkan Ratu Gede Nusa agar hama itu dikendalikan oleh beliau agar tidak mengganggu pertanian penduduk. Ratu Gede Nusa itulah yang menguasai hama tersebut," tutup Adnyana.
Editor : I Putu Suyatra