BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam agama Hindu banyak sekali aturan yang belum dipahami saat melakukan persembayangan. Sehingga, banyak umat yang hanya melakukan persembayangan sesuai dengan apa yang dia lihat. Bahkan kerap meniru yang justru kurang tepat, seperti meletakkan Bija.
Penggunaan Bija yang sesuai dengan tempatnya akan memberikan tingkat maksimal bagi seseoarang yang menggunakannya. Perbedaan yang mendasar terdapat pada Bija yang digunakan setelah sembahyang di pura dengan Bija yang digunakan pada saat upacara maoton. “ Pada saat sembahyang di pura, kita akan mendapatkan Bija yang disebut Bija Panugerahan. Sedangkan pada saat maoton kita akan mendapat Bija yang disebut dengan Bija Pangarga,” ujar Drs. Ida Bagus Putu Sudarsana, MBA.MM yang kini bergelar Bhiseka, Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.
Lebih lanjut dijelaskannya, penggunaan Bija Panugrahan sebenarnya lebih tepat di beberapa bagian penting. Yaitu, di atas kepala, di antara kedua alis, di sebelah kanan dan kiri alis dan di tenggorokan. Kelima tempat itu akan membentuk Tapak Dara (tanda tambah). Di mana, titik center berada di antara kedua alis. Hal ini memiliki makna kekuatan Siwa, Sadha Siwa, dan Prama Siwa. Penggunaan Bija Panugerahan sering dijumpai saat melakukan persembahyangan di pura.
Sedangkan untuk penggunaan Bija Pangarga ads sedikit perbedaan dari Bija Panugerahan. Bija Pengarga diletakkan di antara kedua alis, di kerongkongan, di telan, dan terakhir pada kedua bahu. Di mana, yang menjadi titik center adalah pada kerongkongan. Konsep Tapak Dara yang titik centernya terdapat di kerongkongan menggunakan kekuatan Dewa Wisnu. Dalam hal ini adalah sebagai Dewa Pemelihara, khusunya tubuh atau Bhuwana Alit.
Penggunaan Bija intinya merupakan simbol dari anugerah yang diberikan Tuhan terhadap umatnya. Meletakkan BIja sesuai dengan tempatnya akan memberikan dampak yang maksimal. “Hal itu hendaknya kita perhatikan bersama agar letak Bija menjadi benar dan fungsi serta manfaatnta menjadi maksimal, ” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra