Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Rahasia Palinggih Panunggun Karang bagi Umat Hindu di Bali: Makna Filosofis dan Fungsi Mendalam

I Putu Suyatra • Minggu, 17 September 2017 | 18:47 WIB
Photo
Photo

 

Pembangunan pura dan palinggih umat Hindu di Bali tidak hanya sekadar arsitektur, melainkan mengandung makna filosofis yang mendalam. Contohnya Penunggun karang. Salah satu elemen penting adalah Panunggun Karang, yang memiliki rahasia dan peran yang sangat khusus dalam kehidupan umat Hindu di Bali. Dalam artikel ini, kami akan mengungkap lebih dalam tentang makna dan fungsi Panunggun Karang, serta bagaimana hal ini berkaitan dengan budaya dan spiritualitas umaat Hindu di Bali yang kaya.

DENPASAR BALI EXPRESS - Pembangunan pura atau palinggih di Bali memiliki makna filosofis yang tinggi. Dan, yang tak kalah penting adalah fungsi dari bangunan tersebut. Salah satunya adalah Panunggun Karang atau Sedahan Karang atau Tugu Karang. 

Tugu Karang berasal dari kata 'tuhu' yang artinya tahu atau mengetahui dan berpengetahuan. Karang artinya pekarangan atau halaman rumah, bisa juga karang diri atau tubuh.

Siapa yang memahami dan mengetahui karang dirinya dengan baik, maka ia adalah yang mencapai keseimbangan sekala dan niskala. Dalam mistik kadyatmikan dan kawisesan, Tugu Karang adalah bijaksara mantra yang utama.

"Tugu adalah Tang, Ang, dan Ung diringkas menjadi Karang, yakni Ang dan Ah. Dimana Ang dan Ah adalah dwiaksara simbol kehidupan dan kematian," ujar Jro Mangku I Wayan Satra kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (28/12/2016) lalu. 
Jika ditelisik lebih jauh, lanjut Satra,  Panunggun Karang sesungguhnya memiliki hubungan dengan Tepuk Kanda (Kanda Pat), yaitu empat saudara (keluarga) spiritual dari setiap orang Bali.

Kata 'keluarga' yang dimaksud di sini bisa berupa fisik keluarga yang tinggal dalam dinding-dinding rumah atau senyawa untuk Pat Kanda atau keluarga mistis yang tinggal di alam mistis.

Senyawa tersebut adalah ari-ari yang disebut Prajapati dan berstana di Sedahan Karang. 

Dalam lontar Sudamala disebutkan bahwa Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), turun ke semesta dengan dua perwujudan, yaitu Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Titah.

Setelah itu, Beliau memiliki fungsi, di mana Hyang Titah menguasai alam mistis, termasuk di dalamnya alam dewa dan bhuta kala, sorga dan neraka, bergelar Bethara Siwa yang kemudian menjadi Hyang Guru.

Sedangkan Hyang Wenang turun ke mercapada, dunia fana ini, berwujud Semar atau dalam Susastra Bali disebut Malen, yang akan mengemban dan mengasuh isi dunia ini. 

Aplikasinya, Hyang Titah berstana di 'hulu' yaitu komplek Sanggah Pamerajan, sedangkan Hyang Wenang berstana di 'Teben' yaitu di komplek bangunan perumahan berupa Sedahan Karang.

Mengenai bentuk bangunan juga menyerupai penokohan yang berstana di dalamnya. Misalnya, stana Hyang Guru selalu diidentikan dengan kemewahan dan di atasnya menggunakan tutup 'Gelung Tajuk' atau sejenisnya sebagai perlambang penguasa sorga.

"Sedangkan Sedahan Karang bentuknya menyerupai bentuk pewayangan 'Malen',  yaitu sederhana, tapi kekar dengan atasan menyerupai hiasan 'kuncung' seperti bentuk ornamen kepala dari wayang Semar," imbuh Satra 

Sementara  dalam lontar Kala Tatwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang atau Sawah dengan tugas sebagai Pecalang.

Sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau pura dengan sebutan Pangerurah, Pangapit Lawang atau Patih. 

Di alam Madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh mahluk yang kasat mata saja, tetapi juga oleh yang tidak kasat mata atau roh.

Roh-roh yang gentayangan, misalnya roh jasad manusia yang lama tidak diaben, atau mati tidak wajar, tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat tinggal dan saling berebutan.

Maka untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh gentayangan, lanjut Satra,  manusia membangun Palinggih Sedahan. 

Karena fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah atau di pojok Barat Laut pekarangan rumah.

Jika tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain, asal memenuhi aspek kesucian. 

Pada lontar Kala Tatwa ini juga disinggung mengenai lahirnya Dewa Kala yang merupakan cikal bakal dari Sedahan Karang, di mana Dewa Kala dikatakan lahir saat hari Kajeng Kliwon nemu hari Saniscara (Sabtu) yang di Bali dengan istilah 'Tumpek'. Jadi, piodalan Sedahan Karang disarankan disesuaikan dengan hari kelahiran dari Dewa yang berstana, yaitu saat 'Tumpek'. 

Tumpek berasal dari kata 'metu' yang artinya pertemuan. Dan 'mpek' artinya akhir. Jadi, Tumpek adalah pertemuan akhir, dalam hal ini yang dimaksud adalah akhir dari Sapta Wara dan Panca Wara.

Maka dari itu, Tumpek akan jatuh pada Saniscara Kliwon. "Untuk itu, silakan dipilih Tumpek yang mau dijadikan odalan Sedahan Karang dari sekian banyak hari raya Tumpek di Bali untuk menghormati keberadaan Dewa Kala," urainya. 

Wastra yang digunakan pada Palinggih Sedahan Karang identik dengan warna hitam dan putih atau poleng. 

"Hal itu merupakan simbol Palinggih Sedahan Karang yang mampu bersifat Dewa maupun Bhuta Kala," tandasnya. 

Yang perlu diperhatikan, bangunan Palinggih Sedahan harus memenuhi syarat, dimana fondasinya berupa batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing marajah 'Angkara' dan 'Ongkara'.

Selanjutnya sebuah batu bulitan marajah 'Ang-Mang-Ung' berisi akah berupa tiga buah batu merah marajah 'Ang', putih marajah 'Mang' dan hitam marajah 'Ung' dibungkus kain putih marajah 'Ang-Ung-Mang'. 

Di madia berisi padagingan panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kuwangen dengan uang 200 kepeng, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain marajah padma dengan panca aksara diikat benang tridatu, di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada pura. 
Persyaratan ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tatwa. Jika

Palinggih Sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang malinggih bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan itu, di antarnya  Sang Butha Cuil. 

Jika Sulinggih Sedahan Karang di-urip dengan benar, maka fungsinya sebagai Pecalang sangat bermanfaat untuk menjaga ketentraman rumah tangga dan menolak bahaya sehingga terwujudlah rumah tangga yang harmonis, bahagia, aman tentram dan penuh kedamaian.

"Maka hendaknya tidak main-main atas penempatan maupun keberadaan Panunggun Karang ini," kata Satra. 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #denpasar #Palinggih