DENPASAR, BALI EXPRESS - Palinggih Tugu Karang, yang memiliki fungsi sebagai pecalang niskala bagi umat Hindu di Bali, selalu berperan penting dalam menjaga keamanan pekarangannya.
Namun, penting untuk memperhatikan upacara (sesajen) yang harus dihaturkan agar tidak mengganggu manusia. Keseimbangan ini adalah kunci agar Palinggih Sedahan Karang dapat berfungsi secara maksimal bagi umat Hindu Bali yang menempati pekarangan tersebut.
Tugu Karang memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi penghuni rumah dari serangan gaib, seperti desti, teluh, terangjana, dan sejenisnya.
Bagi para praktisi desti (ilmu hitam), untuk mengirim teluh dan destinya kepada target, mereka harus memohon kepada Hyang Nini Bhairawi di pemuhun setra (kuburan).
Di bawah perintah Hyang Nini, si penekun desti harus meminta izin kepada Penunggun Karang, sang penjaga, jika ingin mengirimkan teluh dan destinya ke sasaran.
Namun, jika Penunggun Karang menolak memberikan izin, si penekun desti tidak akan memiliki kekuatan apa pun, bahkan Hyang Bhatari tidak bisa membantu.
Terlepas dari sejauh mana kesaktian si penekun desti, jika Penunggun Karang tidak mengizinkan, maka upaya pengiriman teluh dan destinya akan sia-sia.
"Penunggun Karang akan membentengi seluruh penghuni rumah dengan kekuatan niskala, sehingga senjata desti menjadi tidak efektif," ujar Jro Mangku I Wayan Satra dalam wawancaranya pada Rabu (28/12/2016).
Lebih lanjut, Penunggun Karang juga memiliki kekuatan luar biasa di dunia sekala.
Kekuatan ini dapat membuat orang menjadi linglung, bingung, atau bahkan berubah menjadi baik dan welas asih terhadap penghuni rumah.
Keajaiban Penunggun Karang juga termasuk perlindungan maya yang mampu membuat rumah penghuni tampak seperti lautan, mengusir orang jahat dengan tipuan visual.
Bahkan, Penunggun Karang dapat membuat orang jahat tersesat sepanjang hari dalam pekarangan rumah, tanpa menemukan jalan pulang.
Yang lebih mengejutkan, Penunggun Karang dapat menghilangkan dengan segera alat atau perlengkapan seseorang yang berniat jahat.
Penekun Pawang Hujan di Bali sering meminta pertolongan Penunggun Karang saat ingin menciptakan hujan dan terang.
Namun, akhir-akhir ini, kita cenderung acuh terhadap kekuatan makhluk niskala yang ada di Tugu Karang.
Beberapa dari kita bahkan mempertanyakan sumber kebenaran dari keyakinan ini.
"Anehnya, banyak dari kita berspekulasi bahwa kepercayaan ini adalah kepercayaan sesat dan bertentangan dengan doktrin Weda. Sejumlah kelompok bahkan sengaja menghancurkan Pelinggih Tugu Karang untuk menggantikannya dengan citra lain yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan kepercayaan lokal Bali," tutup Satra.
Editor : I Putu Suyatra