Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tirta di Pura Jati masih Ada, Tak seperti Tahun 1963 dan 1965

I Putu Suyatra • Kamis, 28 September 2017 | 15:20 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, NEGARA - Aktifitas Gunung Agung, Karangasem yang belum stabil seminggu terakhir mengundang tanda tanya berbagai pihak. Beberapa fenomena atau kejadian-kejadian aneh mulai dari matinya ribuan burung pipit di Kantor PUPR Karangasem sampai robohnya pohon keramat Lanang Wadon di Goa Lawah, Karangsem, oleh beberapa orang dikaitkan dengan situasi Gunung Agung yang akan meletus.


Bahkan beberapa praktisi, guru spiritual hingga pemuka agama ikut bersuara memberikan penerawangan secara niskala terkait potensi meletusnya Gunung Agung, Karangasem tersebut termasuk juga tanda-tanda yang terjadi di Pura Jati, Jembrana.


Dari hari Minggu (24/9) sampai dengan Rabu (27/9) siang, koran ini sempat berkunjung beberapa kali ke Pura Jati, Jembrana untuk mengetahui ada tidaknya pertanda baik secara niskala maupun skala terkait kondisi terakhir Gunung Agung, Karangasem. Sebab dari sejarahnya dulu ketika akan terjadi bencana alam yang dahsyat yaitu meletusnya Gunung Agung tahun 1963 dan terjadinya pemberontakan G-30S PKI tahun 1965, air tirta amerta manik jati yang terdapat di pohon jati di dalam pura ini habis atau surut.


“Nggih, sane dumun toya tirta ring punyan jati polih nyat daweg meletus tahun 1963 (Ya, dulu waktu meletus (Gunung Agung, Red), air yang dipakai tirta yang terdapat di pohon jati ini habis,” ujar Jro Mangku Kadek Mertayasa. Ia juga menambahkan bahwa selang dua tahun berikutnya air tirta tersebut surut lagi saat terjadinya pemberontakan G-30S PKI tahun 1965.


“Tahun 1965 malih nyat, daweg nike wenten Gestok,” terangnya.  


Disinggung terkait tanda-tanda yang terjadi di Pura Jati, Jembrana terkait kondisi Gunung Agung beberapa hari terakhir, diungkapkan Mangku Mertayasa belum ada tanda baik secara niskala maupun skala. Dari pantauan koran ini, suasana di Pura Jati sangat sejuk dan tenang di tengah terik matahari siang itu. Hanya sesekali ada tiupan angin kencang mengiringi meranggasnya daun-daun pohon jati yang jatuh berguguran. “Yen mangkin dereng je wenten pinget yadiastun kocap gunung agung pacang meletus (Untuk sekarang belum ada tanda meskipun diberitakan Gunung Agung akan meletus,Red),” jelasnya.


Terkait angin kencang serta daun jati yg berguguran diyakini Mangku Mertayasa merupakan dampak dari Sasih Kapat bukan sebagai pertanda dari Gunung Agung yang diperkirakan segera meletus.


Mangku Mertayasa mengakui kalau dirinya beserta para pemangku yang piket setiap harinya selalu melakukan pengecekan terhadap kondisi dari air tirta amerta manik jati yang terdapat dipohon jati yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun tersebut.


“Wawu tiang cingak, toya kari makeh, nenten nyat (Baru saja saya cek, airnya masih ada, tidak surut),” jelasnya sambil mengajak koran ini untuk melihat langsung kondisi air tirta tersebut. Dan memang permukaan air air tirta masih stabil, tidak habis ataupun surut.


Sebagai pemangku di Pura Jati, Jembrana, Jro Mangku Kadek Mertayasa setiap persembahyangan selalu memohon keselamatan khususnya bagi warga Karangasem dan Pulau Bali pada umumnya. Ia pun berharap kalaupun Gunung Agung harus meletus, agar tidak sampai parah dan tidak menimbulkan korban jiwa. (tor/yes)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #karangasem #jembrana