Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Saat Mecolongan, Jidat Harus Dipatuk Ayam, Kenapa?

I Putu Suyatra • Jumat, 29 September 2017 | 19:34 WIB
Saat Mecolongan, Jidat Harus Dipatuk Ayam, Kenapa?
Saat Mecolongan, Jidat Harus Dipatuk Ayam, Kenapa?

BALI EXPRESS, DENPASAR - Macolongan adalah salah satu ritual yang juga dilaksanakan saat upacara Bulan Pitung Dina. Upacara ini merupakan ucapan terimakasih kepada Nyama Bajang yang telah menjaga dan melindungi si bayi sejak di dalam kandungan.

Nyama Bajang adalah sebuah kekuatan yang membantu Catur Sanak saat bayi berada dalam kandungan. Catur Sanak adalah empat unsur yang menunjang pertumbuhan bayi, yakni darah, yeh nyom, lamad, dan ari-ari. "Menurut beberapa sulinggih, Nyama Bajang ada sebanyak 108 dan salah satunya bernama Bajang Colong. Bajang colong inilah yang selanjutnya disimbolkan dengan dua ayam pitik. Hal inilah yang mendasari upacara tersebut disebut dengan Macolongan," ujar Pimpinan Yayasan Dharma Acarya, Drs. Ida Bagus Putu Sudarsana,  yang setelah medwijati bergelar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran  kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (2/1).


Lebih lanjut dijelaskannya, banyak yang salah mengartikan pengertian Macolongan. Sebab, Macolongan berasal dari kata 'colong 'yang berarti mencuri. Pemaparan yang kurang akan menimbulkan multi tafsir. Sejatinya, Macolongan yang memiliki arti mencuri memang benar adanya. Namun, dalam hal ini yang dicuri bukanlah ayam pitik. Melainkan mala atau sebel kandelnya si bayi yang dicuri melalui ayam pitik. Satu yang tak kalah penting di mana ayam colong tersebut tidak boleh dipotong karena merupakan simbol Bajang Colong yang membantu Catur Sanak (saudara empat) dalam menjaga si bayi di dalam kandungan. Atas semua jasanya itu, agar tidak ngerubeda (merusak), maka perlu diberikan lelabaan berupa banten Pacolongan.  Pada saat dilaksanakan upacara Macolongan, ayam pitik tidak hanya dipegang saja, melainkan dipatukkan ke jidat bayi untuk ayam laki-laki dan di kedua bahu bayi untuk ayam perempuan. Ini biasanya dilakukan oleh pemangku atau sulinggih. Jadi, pengertian colong itu tidak dangkal. "Yang dicuri bukan ayam, tapi dosa, mala, dan sifat buruknya si bayi. Agar kelak ia menjadi anak yang suputra."
ujarnya.
Dalam ajaran Kanda Empat Rare, nama saudara empat ini, akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi, sehingga akan terdapat banyak nama untuk mereka. Dalam upacara Macolongan ini, Sang Catur Sanak dipanggil dengan sebutan 'Nyama Bajang'.
Upacara Macolongan setelah bayi berumur 42 hari (satu bulan tujuh hari sejak kelahirannya), maka dianggap sudah waktunya untuk mengembalikan 'Nyama Bajang' itu ke tempat asalnya, karena dianggap tidak mempunyai tugas lagi, bahkan kadang-kadang malah sering mengganggu si bayi. Dan, sebagai pengganti Nyama Bajang tersebut adalah dua ekor ayam, satu jantan dan satu betina. Sedangkan sebagai simbol bentuk perwujudan Nyama Bajang adalah sebuah buki (periuk tanah yang bagian bawahnya bolong) diberikan kalung tapis. Disebut sebagai bajang telebingkah. Selanjutnya
sebuah pusuh biu (jantung pisang) diisi pis bolong (uang kepeng) sebanyak 3 kepeng. Disebut Bajang Pusuh. Kemudian ada Papah Nyuh (pelepah kelapa) yang berlubang diisi secarik kain (putih – kuning) dan ditandai tapak dara dengan kapur sirih, yang  disebut Bajang Papah.
Dilengkapi sebuah genjer yang dibuat dari pelepah jaka, dihiasi bunga berwarna merah, kembang sepatu (Pucuk Bang), yang disebut Bajang Raregek. Sedangkan Pitik, yaitu dua anak ayam laki-perempuan yang disebut dengan Bajang Colong.
Dan, masih banyak bajang-bajang yang lainnya. Tujuan upacara ini adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada bajang-bajang tersebut, karena telah membantu merawat si bayi selama di dalam kandungan, sampai kemudian lahir dan berumur 42 hari. Dan,  tugas mereka telah selesai, maka setelah diberikan  upacara Pacolongan, mereka dipersilakan kembali ke asal masing-masing.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #denpasar #ritual hindu