Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simbolkan Ista Dewata, Banten Suci Hindarkan Umat dari Sebutan Kafir

I Putu Suyatra • Minggu, 1 Oktober 2017 | 01:17 WIB
Simbolkan Ista Dewata, Banten Suci Hindarkan Umat dari Sebutan Kafir
Simbolkan Ista Dewata, Banten Suci Hindarkan Umat dari Sebutan Kafir

BALI EXPRESS, DENPASAR - Banten Suci adalah sarana upakara yang tidak asing di telinga masyarakat Hindu. Banten ini biasanya digunakan pada upakara yang berkuantitas madia dan utama. Sesungguhnya, Banten Suci sesuai dengan namanya merupakan penjabaran dari bahasa Weda. Benarkah demikian? 
Lontar Tutur Sang Hyang Tapeni menjelaskan, Banten Suci adalah sebuah banten yang terdapat dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya. Suci memiliki arti bersih dan mulia, di mana Banten Suci memiliki makna untuk menyucikan atau memuliakan. Selain itu, Banten Suci merupakan penjabaran bahasa Weda yang menggunakan aksara-aksara suci yang penuh mengandung makna secara universal dengan mengambil simbol-simbol suci berupa tumbuh-tumbuhan dan binatang.


"Hal ini identik dengan tujuan dari Weda dan aksara suci tersebut," ujar Pimpinan Yayasan Dharma Acarya, Drs. Ida Bagus Putu Sudarsana, yang setelah medwijati bergelar  Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (9/1). 
Lebih lanjut dijelaskannya, salah satu tujuan agama Hindu adalah untuk menuntun umatnya untuk tetap memiliki Sradha dan rasabakti. Hal ini dimaksudkan agar manusia mampu menolong dirinya sendiri dari ikatan kekuatan samsara. Hal itu dapat dicapai hanya dengan perbuatan kebajikan (subhakarma). Salah satunya dengan membuat Banten Suci ini. Banten Suci merupakan upakara yang dapat melakukan penyupatan terhadap tumbuhan dan binatang. 
Sombol-simbol tersebut dapat berupa Bunga Temu yang mewakili bangsa tumbuhan. Cecak yang mewakili bangsa binatang. Dan, cili yang bentuknya menyerupai tubuh manusia, mewakili unsur manusia. Selain itu, cili memiliki makna untuk memohon kesucian Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit yang bersifat universal untuk keseimbangan alam semesta. 
Banten Suci juga sebagai sarana untuk menghaturkan pujian ke hadapan Sang Hyang Widi atas kebesaran Beliau yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya, sehingga dapat tercipta kehidupan di alam semesta ini. Dengan adanya kehidupan di alam semesta ini, semua mahluk, baik manusia, binatang atau tumbuhan, memiliki kesempatan untuk memperbaiki karmanya.


"Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kelahiran di kehidupan mendatang," imbuhnya.


Kelahiran manusia tidak selalu baik, ada yang pintar dan ada yang kurang pintar, serta ada juga yang mengalami kelainan. Hal inilah yang menjadi permasalahan saat ini. Simbol-simbol yang terdapat di dalam Banten Suci inilah yang akan menghidarkan yang bersangkutan dari status kafir. Sebab, di dalam Banten Suci terdapat simbol yang mendekati bentuk saktinya Sang Hyang Widi. 
Simbol tersebut,  yakni jajan Bungan Temu sebagai  simbol senjata Bajra, yang merupakan kekuatan Sang Hyang Iswara, dengan aksara sucinya 'Sang'. Jajan Suci berbentuk Kerang, simbol senjata Dupa yang merupakan  kekuatan Sang Hyang Mahesora, dengan aksara sucinya 'Nang'.  Jajan berbentuk buah Kelongkang menjadi simbol senjata Gada, merupakan kekuatan Sang Hyang Brahma, dengan aksara sucinya 'Bang'. 
Selanjutnya, jajan berbentuk Panji, simbol senjata Danda, yang merupakan kekuatan Sang Hyang Rudra, dengan aksara sucinya 'Mang'. Jajan berbentuk Kekuluban merupakan simbol Senjata Nagapasa yang merupakan kekuatan Sang Hyang Mahadewa, dengan aksara sucinya  'Tang'.  Selanjutnya jajan Kebeber sebagai simbol senjata Moksala yang merupakan kekuatan Sang Hyang Sangkara, dengan aksara sucinya 'Sing'. Kemudian, jajan berbentuk Karna yang menjadi simbol Cakra, merupakan kekuatan Sang Hyang Wisnu, dengan aksara sucinya 'Ang'. Jajan berbentuk Candigara simbol senjata Trisula merupakan kekuatan Sang Hyang Sambu, dengan aksara sucinya 'Wang'. Dan, jajan berbentuk Dedalas menjadi simbol senjata Padma dan Yoni, merupakan  kekuatan Sang Hyang Siwa, dengan aksara sucinya 'Ing'. 
Selain sembilan senjata tersebut yang merupakan simbol Dewata Nawa Sanga, terdapat pula dua simbol yang tak kalah penting, yakni  jajan Bunga Temu Utuh simbol senjata Kadga atau Keris, merupakan kekuatan Sang Hyang Sadha Siwa dengan aksara sucinya 'Yang', dan jajan berbentuk binatang Cecak  atau Sastra Ongkara, simbol senjata Dwaja, dengan kekuatan Sang Hyang Parama Siwa (Sang Hyang Widi) dengan aksara sucinya 'Om' (ongkara). Dikatakan Ida Sulinggih, 
dari makna simbol-simbol tersebut, dapat diartikan bahwa Banten Suci memiliki nilai Tattwa yang sangat tinggi. Diakui  Sudharsana, tidak semua umat mengetahuinya. Hanya yang dituntun oleh sastra Agama saja yang memahami. Sebab, apabila umat ingin membuat upakara haruslah berdasarkan sastra-sastra Agama Hindu. "Di Bali dikenal beberapa jenis Banten Suci di antaranya, Suci Sari dan Suci Alit atau Suci Putih Kuning," tutup Ida Nak Lingsir.

Editor : I Putu Suyatra
#sarana upakara #hindu #denpasar