BALI EXPRESS, DENPASAR - Oktober ini ada belasan upacara penting berupa piodalan di kawasan Karangasem, terutama di kawasan Besakih. Tepat purnama kapat yang jatuh 5 Oktober 2017, merupakan piodalan Bhatara Tiga Sakti (Padmasana) di Penataran Agung Besakih. Selain itu, upacara serupa juga mesti dilaksanakan di Pura Penataran Pasek Kayu Putih Bandem Karangsem, kemudian di Pura Dukuh Segening Wangsiang Karangasem. Di hari yang sama pula, piodalan digelar di Pura Pajenengan Dukuh Ogan, Desa Sangkan Gunung Rendang Karangasem. Selanjutnya di Pura Gumang (Bukit Juru), Desa Bugbug Karangasem, dan Pura Pejenengan Pulasari, Desa Dukuh Sidemen, Karangasem.
Sejumlah piodalan ini terancam tak berjalan seperti sebelumnya, karena banyak warga Karangasem harus mengungsi akibat terdampak aktivitas Gunung Agung yang berstatus Awas. Menanggapi situasi seperti ini, Ida Pandita Mpu Daksa Yasca Carya Manuaba dari Griya Siwa Tni Manuaba menyarankan, umat cukup ngaturang bakti ring kamulan sowang-sowang.
"Atau melaksanakan persembahyangan bersama ring pengungsian masing-masing. Nunas karahayuan karahajengan, dumogi ten durus terjadi letusan," ujar tokoh umat yang resmi menjadi sulinggih sejak 23 Maret 2011 kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (1/10).
Soal bebantenan, lanjut Ida Pandita Mpu Daksa, cukup menggunakan banten pajati.
Disinggung soal pemangku yang mestinya ada di pura saat piodalan, kalau situasinya sudah aman memang lebih baik. "Yening nyidayang dan aman dados ke pura," ujarnya.
Jadi, bukan berarti tak dilaksanakan upacaranya, cuman tak bisa lagi ramai atau semeriah sebelumnya.
Piodalan lain juga ada bertepatan saat Tumpek Uduh atau Pangatag,
7 Oktober 2017 di Pura Manik Mas di Besakih. Kemudian, 11 Oktober 2017, Buda Wage Warigadean piodalan di Pura Bangun Sakti Besakih. Dua hari setelah itu, yakni 13 Oktober 2017, Sukra Umanis Warigadean mesti digelar piodalan Ida Ratu di Penataran Agung Besakih dan piodalan Ida Ratu Puraus di Merajan Salonding Besakih.
Di tempat terpisah, Mangku Kahyangan Tiga Karangasem, Jro Mangku Mahendra mengatakan, konsep Hindu serta leluhur Bali sejauh pengamatannya menganut paham ' Wiyapi wyapaka' di mana Tuhan mengetahui serta meresapi ada dimana-mana. "Dalam situasi kondisi tanggap bencana seperti sekarang ini, sangat mungkin kita ngacep atau doa dari tempat palemahan masing'masing yang aman atau dari tempat pengungsian," terangnya.
Hal ini dilakukan, lanjut Mangku Dalem ini, semata-mata untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan. "Dan, sujud bhakti kita tidak akan berkurang karenanya," bebernya.
Dikatakan Jro Mangku Mahendra, ngacep Bhatara atau ngaredana Dewa bisa melalui sanggah surya, jika ada di pengungsian atau jika tidak ada, bisa koordinasi dengan jro mangku yang kemungkinan sama-sama ikut ngungsi.
"Tuhan itu ada dalam pikiran, jadi memuja Tuhan dimanapun sepanjang nyaman, itu dibenarkan," pungkasnya.
Piodalan Beberapa Pura di Karangasem pada Bulan Oktober 2017
05 Oktober 2017
- Purnama Kapat. Bhatara Tiga Sakti (Padmasana) di Penataran Agung Besakih. Pura Penataran Pasek Kayu Putih Bandem Karangsem. Pura Dukuh Segening Wangsiang Karangasem. Pura Pajenengan Dukuh Ogan Desa Sangkan Gunung Rendang Karangasem. Pura Gumang (Bukit Juru) Desa Bugbug Karangasem. Pura Pejenengan Pulasari Desa Dukuh Sidemen Karangasem.
07 Oktober 2017
- Tumpek Uduh atau Pangatag. Pura Manik Mas di Besakih.
11 Oktober 2017
- Buda Wage Warigadean. Pura Bangun Sakti Besakih.
13 Oktober 2017
- Sukra Umanis Warigadean. Odalan Ida Ratu di Penataran Agung Besakih, Odalan Ida Ratu Puraus di Merajan Salonding Besakih.
17 Oktober 2017
- Anggar Kasih Julungwangi. Pura Manik Bingin Sidemen, Karangasem.
26 Oktober 2017
- Wraspati Wage Sungsang. Odalan Ida Ratu Mas di Penataran Agung Besakih. Odalan Ida Bhatara Bang Tulus Dewa Besakih.
Editor : I Putu Suyatra