BALI EXPRESS, SADING - Pura biasanya identik dengan bunyian genta, asap dupa harum, dan percikan tirta yang membasahi ubun-ubun pemedek ketika selesai sembahyang. Namun salah satu pura yang ada di Desa Sading sedikit berbeda. Yaitu tidak diperkenankannya menggunakan genta dalam pelaksanaan yadnya. Hal itu diungkapkan oleh Bendesa Adat Sading, I Ketut Witera ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Banjar Karang Suwung, Sading, Badung Selasa kemarin (3/10).
Pura Keraban Langit terdapat di sebuah goa, dengan di atasnya tembus ke atas. Masyarakat sekitar mengetahui dengan sebutan Pura Keraban Langit. Sejak salah satu pemedek yang nangkil ke sana mengunggahnya di media sosial, menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar wisata rohani datang ke sana.
Selain itu, dari cerita pemedek yang pernah nangkil, konon doa yang diharapkan dapat terkabulkan. Tentunya dengan rasa dan pikrian yang tulus.
Menurut Witera belum terdapat sumber yang pasti, terkait keberadaan Pura Keraban Langit di Desa Sading. Namun, dalam prasasti Sading Isaka 923 ketika pemerintahan Sri Udayana, Pura itu telah ada di sana. Ia juga mengatakan berasal dari mitologi Bali, ketika sebelum Sri Masula dan Sri Masuli lahir, ayahnya dapat memohon ke hadapan Bhatara di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung), agar segera permaisurinya dapat memberikan keturunan.
Atas petunjuk Bhatara di Gunung Tohlangkir kepada Dalem, agar permaisurinya segera dicarikan Tirta Selaka. Oleh sebab itu, diutuslah seorang Brahmana, yaitu Ida Pedanda bersama iringannya untuk menelusuri wilayah Pulau Bali, agar mendapatkan Tirta Selaka tersebut.
Ketika Brahmana itu telah sampai di sekitar Desa Sading, kemudian menuju Pura Keraban Langit, dalam Pura tersebut ada seorang penjahat bersembunyi, yang dikejar oleh masyarakat sehingga masuk ke sebuah goa. Bertemulah Ida Pedanda dengan penjahat itu di dalam goa tersebut.
Pada saat itu si penjahat ketakutan, karena Brahmana disangka akan menangkap dan membunuh dirinya. Kemudian Ida Pedanda menjelaskan kepada penjahat itu, tujuan ia ke sana untuk mencari Tirta Selaka atas perintah Dalem. Tetapi ia pun belum mengetahui di mana adanya Tirta Sekala yang dimaksudkan.
Atas petunjuk si penjahat, diberi tahulah tempatnya dan Ida Pedanda mengambil Tirta tersebut, yang megakibatkan lahirnya Sri Masula dan Sri Masuli yang kembar itu.
Witera juga menerangkan, sejak terbentuknya Kerajaan Mengwirajya pada tahun 1634, di bawah pimpinan I Gusti Agung Putu yang mabhiseka menjadi seorang Raja, yaitu disebut Cokorda Sakti Balmbangan, maka Desa Sanding menjadi wilayah kekuasaannya. Dikarenakan terjadinya pengembangan di keluarga Puri Mengwi, salah satunya adalah membangun Puri Sading, maka pengawasan Pura Keraban Langit diserahkan kepada Kalangan Puri Sading bersama masyarakat di sekitar sana.
"Sebenarnya pura ini milik Raja Sading, dan beberapa warga diberi tugas untuk mangempon, termasuk saya," jelas pria yang juga sebagai pangempon pura tersebut.
Dengan keberadaan pura terletak di pinggir jurang, dan sungai yang membentang di depannya, Pura Keraban Langit sendiri berada di sebuah goa besar. Tetapi pada tengah-tengah atap goa, terdapat lubang yang membuat sinar matahari dapat tembus masuk ke dalam goa tersebut. Di dalamnya terdapat aliran air yang sangat jernih, sebagai sumber amertha yang disebut dengan Tirta Selaka. Sehingga dengan lokasi tersebut, nama Pura Keraban Langit dapat diartikan sebagai Pura Beratapkan Langit.
Jero Mangku Pura Keraban Langit, I Wayan Suweden yang sudah berumur 75 tahun, tidak dapat menjelaskan terkait pura tersebut, dikarenakan ingatannya yang sudah mulai berkurang.
Witera pun mengatakan, pada saat piodalan berlangsung atau ketika ada pemedek yang akan nangkil, hanya cukup diselesaikan oleh pemangku Pura Khayangan Tiga saja. Dikarenakan pemangkunya masih hidup, sehingga belum boleh melaksanakan pawintenan untuk mengangkat pemangku baru lagi.
"Mangkunya kan masih hidup, makanya sekarang penyelesaian segala upacara cukup dengan pemangku khayangan tiga saja," jelas pria asli Sading tersebut.
Di dalam goa, terdapatnya sebuah padma di mana sebagai Palinggih Ratu Gede, Palinggih Ratu Made, dan Palinggih Ratu Ayu. Sedangkan di sebelah kanan padma, tepat di atas goa merupakan tempat Tirta Selaka dengan pahatan relief Bima. Sedangkan di depan padma, terdapat dua buah patung yang dianggap sebagai penjaga.
Di luar tembok pura, terdapat sebuah palinggih batu bolong, dengan dilengkapi tiga buah bangunan. Masyarakat menggunakan tempat itu untuk kepentingan upacara adat dan keagamaan. Kemudian di sebelah selatan pura dibangun sebuah tempat malukat dengan lima buah pancuran, yang airnya bersumber dari aliran dalam goa tersebut. Kelima pancuran tersebut untuk membersihkan diri secara rohani, juga warga banyak menggunakan sebagai air minum.
Disinggung terkait upakara, ia mengaku pelaksanaan piodalan di pura tersebut bertepatan pada Buda Wage Ukir, dengan sarananya berupa sesayut sekaligus pengambean. Dengan segala pelaksanaannya tidak diperkenankan untuk menggunakan genta, dan dipuput oleh seorang pemangku setempat. Sebab, Beliau yang bersthana di sana diyakini berupa Ida Pedanda yang identik dengan kemahirannya dalam penggunaan genta.
"Pantangan dari pura ini hanya tidak diperkenankan menggunakan genta di setiap upacaranya, agar tidak menyamakan dengan yang berstahana di sini, dan bagi yang cuntaka juga dilarang nangkil," jelas Witera.
Sering pemedek yang datang ke sana sepintas seperti untuk sembahyang saja, dikarenakan banyak doa pemedek terkabulkan, dengan ketulusan dan usahanya. Sehingga ketika nangkil kembali banyak yang menghaturkan sesangi (janji yang pernah diucapkan, Red), berupa dana punia, wastra pura, bahkan perbaikan bangunan pura yang perlu direnovasi.
"Banyak pamedek nangkil datang kedua kalinya, untuk naur sesangi ketika mereka sudah diberikan keturunan. Maka dari sana saya tahu banyak yang ke sini untuk memohon keturunan," imbuhnya.
Dijelaskan pula oleh pemedek yang sempat nangkil kesana, Ni Made Novita Yanti mengaku merasa kagum. Tentunya dengan ke-Agungan Tuhan, sebab adanya tempat yang begitu indah tersembunyi di dalam goa. Padahal pura tersebut tidak jauh dari tempatnya tinggal, ketika di usianya yang ke 25 tahun ia baru nangkil ke sana dan menyadari kalau tempat tersebut begitu indah. "Padahal baru masuk lubang goanya kelihatan kecil, tapi ketika sudah ada di dalam saya sangat takjub," jelas wanita yang berasal dari Desa Darmasaba,Badung tersebut.
Di samping itu, ia juga sempat mengajak temannya yang seketika menangis di dalam goa. Novita mengaku temannya mengeluarkan air mata karena terharu, dengan Kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa atas ciptaan-Nya yang begitu megah. (putu agus adegrantika)
Editor : I Putu Suyatra