Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Melukat yang Berawal dari Patung Seseh Perempuan Cantik

I Putu Suyatra • Rabu, 4 Oktober 2017 | 21:42 WIB
Tempat Melukat yang Berawal dari Patung Seseh Perempuan Cantik
Tempat Melukat yang Berawal dari Patung Seseh Perempuan Cantik

BALI EXPRESS, SANUR - Ketika ingin membersihkan diri secara niskala, umat Hindu di Bali memiliki cara dengan melukat. Tujuannya untuk menghilangkan aura negatif. Pura Dalem Pengembak Mertasari, Sanur salah satu tempat yang banyak dipilih umat. Selain itu Pura ini juga dikenal untuk memohon penyembuhan.


 


Pura Dalem Pengembak yang berlokasi di jalanPengembak-Mertasari, Sanur. Lebih mudah diakses dari Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai. Menurut Pemaku Generasi Ketiga Pura Dalem Pengembak, Jero Mangku I Made Ranten, pura ini sejak 1920 memang berfungsi sebagai pura untuk memohon pembersihan diri secara niskala.


“Hal ini tidak terlepas dari asa usul pura ini yang pertama kali ditemukan oleh kakek saya, Almarhum I Wayan Netep,” jelasnya, awal 2016 lalu.


Dari cerita yang dikisahkan Mangku Ranten, lokasi berdirinya pura Dalem Pengembak saat ini adalah hutan belantara yang sering digunakan oleh masyarakat Sanur untuk mengembalakan sapi.


Pada suatu hari, seperti yang dikisahkan Mangku Ranten, ketika sedang mengembalakan sapi di Hutan Pengembak ini, Almarhum Wayan Netep menemukan batang pohon kelapa (seseh), kemudian batang pohon kelapa itu dipahat sehingga membentuk patung perempuan cantik. Selama berbulan-bulan patung perempuan tersebut dibiarkan tidak terawat di tengah hutan Pengembak.


Hingga patung itu mengeluarkan air dan ketika ditengok oleh Almarhum Wayan Netep, langsung tidak sadarkan diri selama beberapa hari. “Dalam kondisi tidak sadar itu, kakek saya bercerita roh-nya diajak berkeliling oleh Sang Penunggu Hutan, yakni Ida I Gusti Ngurah Jom,” lanjutnya.


Dalam perjalanan spiritual tersebut, Wayan Netep mendapatkan petunjuk jika air yang keluar dari patung yang dibuatnya bisa digunakan sebagai sarana untuk melukat bagi umat.  Termasuk juga bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan orang dari sakit non medis.


Setelah petunjuk diapatkan, si kakek sadar. Pengalaman itu diceritakan kepada keluarga. Dan secara perlahan mulai umat Hindu yang datang untuk melukat di pura Dalem Pengembak. Namun areal pura dan palinggih belum melalui upacara pemelaspas dan mendem pedagingan.


“Saat itu kakek saya jatuh sakit, sakitnya cukup parah, hingga tidak bisa bangun, saat sakit tersebut, kakek saya didatangi oleh Ida Ratu Ayu Manik Mas Meketel sebagai penguasa wilayah Sanur,” jelasnya.


Kedatangan Ida Ratu Ayu Manik Mas Meketel ini dikatakan Mangku Ranten bertujuan untuk bersemayam di Pura Dalem Pengembak, namun karena pura tersebut belum diplaspas, maka Ida Ratu Ayu Manik Mas Meketel tidak berkenan berstana di pura tersebut.


“Sehingga kakek saya disuruh ke Griya Delod Pasar untuk memohon petunjuk proses pembuatan ritual di pura tersebut,” ungkapnya.


Setelah memohon petunjuk di Griya Delod Pasar Sanur, akhirnya ritual dibuat sesuai dengan petunjuk Ida Pedanda di Griya Delod Pasar. “Hingga diyakini Ida Ratu Ayu Manik Mas meketel berstana di Pura ini. Almarhum Netep menjadi pemangku di pura Dalem Pengembak hingga tutup usia,” sambungnya.


Atas kondisi ini, sampai sekarang jika piodalan setiap Purnama Kedasa, upakara banten dibuat oleh dua pihak, yakni oleh pihak Mangku Ranten dan pihak Griya Delod Pasar.


Selain sebagai banten utama, banten yang dibuat oleh pihak Griya Delod Pasar Sanur dikatakan Mangku Ranten juga berfungsi untuk membuka jalan bagi Umat dari kalangan Tri Wangsa untuk bersembahyang ke Pura Dalem Pengembak. Sehingga semua golongan bisa sembahyang di Pura Dalem Pengembak.


Dari segi fungsi, rata – rata pamedek datang untuk melukat dan memohon kesembuhan. Kesembuhan khususnya penyakit non medis. “Karena disini, memang sebagai tempat peleburan segala aura negatif yang ada di dalam tubuh manusia,” jelasnya.


Selain melukat dan penyembuhan non medis, juga diyakini untuk memperlancar usaha. Lantaran ada palinggih Ratu Sahbandar sebagai Dewi kemakmuran. Dan Dalem Pengembak juga diyakini, untuk membuka jalan dalam usaha karena nama pengembak artinya pembuka. Adapun jenis banten yang dibawa oleh umat Hindu yang ingin melakukan ritual pengelukatan di Pura Dalem Pengembak ini antara lain dua buah banten pejati dan dua buah bungkak (kelapa muda) gading.


Untuk urutan upacara pengelukatan, sebelum melakukan persembahyangan di Pura Dalem Pengembak, umat diwajibkan untuk melakukan pengelukatan di Campuhan yakni muara sungai Pengembak yang bertemu dengan air laut. “Setelah mandi di muara sungai, barulah ritual melukat dilakukan dan setelah itu umat bisa melakukan persembahyangan di Pura Dalem Pengembak sesuai dengan permohonannya,” urainya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #denpasar #pura #sejarah pura