BALI EXPRESS, BALI - Bali memang kaya dengan tradisi yang unik. Salah satunya adalah tradisi Aci Tabuh Rah Pangangon atau yang kerap disebut siat tipat bantal. Tradisi yang sudah ada semenjak puluhan abad ini dilaksanakan setiap Purnama Kapat atau bulan purnama keempat dalam perhitungan Bali oleh Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung. Meski dilaksanakan setiap tahun, namun kemeriahan dan keseruannya tak pernah habis. Seperti apa?
Seperti penamaan siat tipat bantal yang berarti perkelahian atau perang menggunakan sarana ketupat dan jajan bantal, masyarakat saling melempar tipat dan bantal satu sama lain. Hal itu dilaksanakan Kamis (5/10) sore sekitar pukul 16.00. Awalnya, sekitar pukul 15.30, ratusan masyarakat atau krama Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung, mulai berkumpul di depan Pura Desa lan Puseh Kapal, tepatnya di Jalan Raya Kapal. Krama kemudian dibagi menjadi dua bagian yakni kelompok selatan dan utara. Diiringi gamelan, krama kemudian saling melempar tipat dan bantal ke arah berlawanan.
Semua terlihat bersemangat dan gembira. Bahkan sesekali ada yang tertawa di tengah serunya ‘perang’ tersebut. Pun tak ada yang sampai terluka. Gerakan krama dikontrol oleh suara gamelan. Makin cepat tabuh gamelan, makin semangat pula krama melempar ketupat dan bantal. Demikian pula sebaliknya, ketika tabuhan gamelan semakin pelan, krama pun berkesampatan menghela nafas.
Selama kegiatan berlangsung, kondisi lalu lintas di sepanjang Jalan Raya Kapal pun diberhentikan selama 15 menit untuk melaksanakan upacara ini. Sejumlah pihak dari Kepolisian, TNI, dan Pecalang Desa Adat setempat pun terlihat terus mengatur lalu lintas.
Di sela acara, Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana menuturkan, tradisi tersebut ada sejak tahun 1339 silam. Diceritakan, Raja Bali yang bernama Asta Sura Ratna Bumi Banten memerintahkan patih Ki Kebo Waruya untuk menerenovasi Pura Purusada di Desa Kapal. Setibanya di Desa Adat Kapal sang patih tergerak hatinya karena melihat kondisi desa yang mengalami musim paceklik. Ia kemudian memohon kehadapan Ida Bhatara yang berstana di Candi Rara Pura Purusada agar berkenan melimpahkan waranugraha atau anugerah. “Setelah memohon hal tersebut, beliau diberikan petunjutk agar melakukan upacara Aci yang dipersembahkan kepada Bhatara Siwa dengan menggunakan sarana tipat dan bantal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kata dia, sesuai petunjuk, seluruh krama Desa Adat Kapal untuk melaksanakan upacara tersebut secara kontinyu. Tradisi tersebut oleh Ki Kebo Waruya kemudian dinamakan Aci Tabuh Rah Pngangon. Hanya saja, karena menggunakan sarana tipat bantal, maka masyarakat lebih fasih menyebutnya dengan siat tipat bantal.
Dijelaskan Sudarsana, Aci Tabuh Rah Pengangon jika diartikan secara parsial per kata, akan ditemukan sebuah arti. Aci berarti persembahan, Tabuh berarti mengumandangkan, Rah berarti tenaga, dan Pengangon berarti nama lain daripada Shang Hyang Siwa. “Dengan demikian, secara utuh, maknanya adalah persembahan atau wujud syukur kehadapan Ida Shang Hyang Widhi Wasa dalam wujudnya sebagai Siwa,” jelasnya.
Lebih luas, kata dia, upacara tersebut bertujuan untuk mohon kesejahteraan bagi seluruh krama desa adat Kapal. Di samping itu, tipat dan bantal adalah simbol pradhana (perempuan) dan purusha (laki-laki). “Dilemparnya bantal dan tipat bertujuan untuk mempertemukan kedua simbol purusha dan pradhana . pertemuan keduanya akan menghasilkan kesuburan dan kesejahteraan,” jelas ahli lontar dan prasasti tersebut.
Lebih lanjut, Sudarsana berharap tradisi tersebut dapat lestari seterusnya. Ia pun mengajak seluruh krama Desa Adat Kapal untuk bersama-sama memelihara tradisi tersebut sehingga bisa diwariskan kepada anak cucu. “Saya berharap upacara ini tetap lestari dan sudah merupakan kewajiban kita selaku krama adat untuk melastarikannya,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra