BALI EXPRESS, DENPASAR - Berbagai jenis anyaman jadi pelengkap ritual umat Hindu di Bali.
Sarana atau pelengkap upakara bagi umat Hindu di Bali tersebut, ada yang terbuat dari bambu dan ada juga dari papah atau selepan.
Khusus yang terbuat dari anyaman selepan (daun kelapa tua), umat Hindu di Bali memberi nama Kelabang.
Apa dan darimana muasal nama aneh ini?
Kelabang berasal dari dua suku kata, yakni kala dan abang.
"Kala dapat diartikan suatu kekuatan Sang Hyang Widhi yang menitikberatkan pada aspek Asuri Sampad atau keraksasaan," papar Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni Universitas Hindu Indonesia, Dr. I Made Yudhabakti kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.
Dengan adanya kekuatan kala, lanjutnya, tentunya akan menimbulkan kekuatan kesidian.
Hal ini dikarenakan kala tersebut merupakan manifestasi dari Tri Guna (Rajasika), sehingga hal tersebut akan menjadi kekuatan gaib tertentu.
Sedangkan suku kata abang diilustrasikan sebagai Brahma, yang merupakan kekuatan dalam menciptakan perlindungan sebagai proteksi,juga menciptakan suatu kehidupan secara spiritual.
“Jadi, Kelabang dapat diartikan sebagai perpaduan antara kekuatan Asuri Sampad dengan kekuatan Brahmana yang bertujuan sebagai perlindungan atau proteksi diri,” jelas Yudhabakti.
Yudhabakti mencontohkan setiap pelaksanaan, baik kerja adat maupun upacara agama, selalu membuat tetaring, panggung, juga dibuat dinding sepanjang tembok pemerajaan pada saat upacara.
Bahkan, menurut kepercayaan Hindu yang biasanya terjadi di masyarakat, bilamana ada orang sakit keras, maka dipasangkan sebidang kelabang di ruang tidur orang yang sakit itu, dan biasanya dipasang di atas, seperti di lubang angin atau loster.
Demikin juga bila ada umat yang melahirkan, biasanya sebidng kelabang sebagai dinding ari-arinya.
Keseluruhan jenis Kelabang tersebut jika dipadukan dalam satu rangkaian yadnya disebut dengan Uperengga atau pelengkap.
Diakuinya, banyak yang menganggap Kelabang adalah sebuah dekorasi semata.
Padahal, semua itu bertujuan untuk perlindungan, baik secara nyata maupun secara spiritual dari hal-hal yang mengganggu,” ungkapnya.
Ditambahkannya, sesuai Lontar Tutur Tapeni, dijelaskan terdapat beberapa jenis Kelabang yang sering digunakan oleh masyarakat Hindu Bali.
Yakni Kelabang Wong-wongan atau Kala Badeg, di mana Kelabang ini dibuat dari daun kelapa tua yang masih menyatu dengan pelepahnya, dibuat anyaman menyerupai manusia.
Ini merupakan simbol Sang Kala Wong atau Sang Kala Badeg. Kelabang Wong-wongan dipakai sebagai alas upakara perkawinan (pasakapan/pakala-kalaan) sebagai personifikasi sang penganten yang masih dianggap cuntaka perorodan.
Oleh karena itu, perlu diadakan upacara penyucian diri menjelang masuk ke alam grehasta asrama.
Hal ini dimaksudkan agar nantinya mempelai mendapatkan anak yang Suputra.
Yang kedua dikenal istilah Kelabang Dangap-dangap.
Kelabang ini bahannya terbuat dari daun kelapa tua yang masih melekat pada pelepahnya, dibuat anyaman seperti binatang, memiliki bentuk kepala, badan, dan ekor seekor bintang.
Adapun manfaat dari Kelabang ini sebagai alas upakara caru yang memiliki makna simbol sebagai kekuatan butha kala.
Kekuatan ini dapat diilustrasikan dari kata dangap-dangap yang artinya suka mengganggu kehidupan manusia, karena butha kala pun mengharapkan sorga.
“Untuk mendapatkan sorga, bhuta kala harus dibantu oleh manusia berupa panyupatan. Lantaran itu pula umat Hindu setiap saat membuat upakara caru sebagai panyupatan (pengeruat) agar memperoleh keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya,” cerita Yudhabakti.
Jenis Kelabang yang ketiga, yakni Kelabang Taring yang biasanya digunakan sebagai sarana berteduh setiap pelaksanaan upacara yadnya di Bali.
"Namun, fungsi sejatinya bukanlah demikian, melainkan diharapkan agar setiap umat yang berada di bawahnya piikiran yang bersangkutan menjedi lebih terang (suci)," ulasnya.
Selain itu, kata Taring juga dimaknai sebagai simbol langit, sehingga pelengkap Kelabang Taring adalah hiasan daun enau muda yang disebut dengan ambu, yang diartikan sebagai awan di langit.
Yang keempat dikenal istilah Kelabang Mantri atau Kelabang Sakti.
Kelabang ini merupakan ulatan Kelabang yang umumnya digunakan dalam upacara yadnya.
Kelabang Mantri ini memiliki fungsi untuk 'ngilangin sarwa leteh' yakni menghalangi energi buruk yang mengancam pemilik atau yang menjalankan yadnya.
Baik berupa desti aneluh nerangjana serta mahluk gaib yang hendak mengganggu jalannya upacara yadnya.
“Kelabang Mantri ini biasanya diletakkan pada tembok panyengker, atau digunakan sebagai tembok payadnyan. Sering juga ditaruh di atas pintu masuk rumah atau kamar bagi orang tua yang memiliki bayi,” jelas akademisi asal Desa Tulikup Gianyar ini.
Selain itu, ada juga Kelabang Sengkui, di mana Kelabang ini hampir mirip dengan Kelabang Dangap-dangap Biasanya Kelabang Sengkui ini digunakan dalam ritual upacara bhuta yadnya (caru), di mana jumlah ulatan Kelabang ini mengikuti jumlah urip pacaruan.
Makna Kelabang ini adalah nyupat dan nyomia bhuta kala. Di mana Kelabang ini digunakan sebagai alas dari segala jenis hidangan atau ulam pacaruan
Dan, yang terkahir ada yang disebut Kelabang Losok.
Kelabang ini merupakan ulatan Kelabang yang memiliki fungsi untuk menghilangkan energi negatif, menghindarkan pengaruh desti dan bhuta kala dalam upacara yadnya.
Biasanya Kelabang ini digunakan dalam ritual membungkus tulang belulang yang sudah hangus terbakar (galih), saat upacara ngaben untuk kemudian dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading.
Dari segala jenis Kelabang yang dikenal di Bali, keseluruhannya mengandung makna dan fungsi tersendiri.
Dalam praktiknya sebagai uperangga upacara yadnya, diharapkan umat menggunakan Kelabang sesuai dengan makna dan fungsinya.
Hal ini dikarenakan jika tidak sesuai dengan fungsinya, maka bisa dipastikan yadnya yang dilaksanakan akan cenderung mubazir.
“Jadi, diharapkan mematuhi apa yang menjadi pedoman penggunaan uperengga yadnya. Kalau tidak kan tidak sesuai den mubazir, karena semua sudah ada tattwanya dalam Hindu,” tutup Yudhabakti. ***
Editor : I Putu Suyatra