BALI EXPRESS, MANGUPURA - Topeng merupakan tarian pelengkap dari upacara yadnya di Bali. Namun, berdasar fungsinya dibedakan menjadi dua, yakni profan dan sakral. Bila untuk hiburan disebut profan, dan ketika dipentaskan pada
Penari Topeng Sidakarya, Gusti Ngurah Winda mengatakan, sejarah dari Topeng Sidakarya diawali tahun 1500 silam. Di mana seorang Brahmana Keling yang berasal dari Madura mengaku saudara Dalem Watu Renggong dan Dang Hyang Nirartha.
" Ia hadir saat masyarakat akan menyelenggarakan upacara yadnya di Pura Besakih. Dikarenakan masyarakat tidak tahu, maka dianggaplah Brahmana Keling hanya mengaku-ngaku saudara dari seorang raja. Apalagi penampilannya yang tidak sesuai, seperti orang gila dan berpakaian robek. Sehingga masyarakat pun mengusirnya," paparnya, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Desa Carang Sari, Badung, kemarin.
Dikarenakan beliau sakti, lanjut Winda, maka dikutuklah masyarakat yang mengusirnya tersebut. Akibatnya, pelaksanaan yadnya gagal dan hancur. Hujan angin dahsyat, tanaman diserang hama, dan bencana berdatangan silih berganti.
Dikarenakan kondisi buruk itu, masyarakat dan raja berpikir setelah mengusir Brahmana Keling terjadi musibah yang persis dengan kutukannya.
Dengan pertimbangan tersebut,akhirnya dicarilah kembali Brahmana Keling itu. Dan, ditemukanlah ia di sebuah desa yang sekarang disebut dengan Desa Sidakarya. Setelah bertemu, masayarakat langsung memohon untuk menghilangkan kutukannya tersebut. Agar pelaksanaan yadnya, dan kondisi alam kembali normal. Memenuhi keinginan masyarakat tersebut, akhirnya beliau bertiga sehingga pelaksanaan yadnya terselesaikan dengan labda karya, bencana pun tidak ada lagi. Dari sanalah raja berkomunukasi dengan Dalem Watu Renggong dan Dang Hyang Nirartha, menanyakan riwayatnya.
Ia datang ke Bali berawal dari arahan ayahnya, untuk menemui saudaranya yang menjadi seorang raja. Ketika diketahui demikian, diberikanlah ia penganugerahan yang disebut dengan Dalem Sidakarya. "Sampai saat ini dikenallah Tarian Topeng Sidakarya, yang dipentaskan pada saat pujawali berlangsung," beber Winda.
Pelaksanaan upacara yang berawal dari tingkatan nista, madya, dan utama, lanjutnya, pasti dilengkapi dengan tarian topeng tersebut. Terlebih harus mendak tirta di Pura Dalem Sidakarya, agar prosesi pelaksanaan upacara yang diselanggarakan berjalan dengan lancar tanpa halangan. “Pada akhir pementasannya, ditaburlah beras dan uang kepeng dari sebuah tebasan. Itu bertanda selesainya prosesi upacara,” terangnya. Winda mengakui, jika tidak adanya tarian Topeng Sidakarya, akan muncul perasaan yang kurang enak atau seperti ada yang kurang. Sebab, itu merupakan prosesi dari upacara yadnya. Terlebih melaksanakan yadnya berawal dari rasa bhakti, rasa percaya dan yakin adanya Tuhan. Biasanya pada saat selesai melaksanakan Topeng Sidakarya, ia hanya menghaturkan daksina saja. Dengan tujuan sebagai penuntun dirinya menjadi pangayah, sekaligus sebagai permintaan maaf jika ada salah selama mementaskan Topeng Sidakarya tersebut. “Tujuan dari daksina itu, adalah dihaturkan kepada Sang Hyang Samirana, yaitu beliau yang bersthana dimana pun kita ngayah,” terang pria berumur 72 tahun tersebut.
Winda juga menjelaskan, pantangan menjadi seorang penari topeng sidakarya, jangan pernah sombong, beretika yang baik, didasari dengan ilmu pengetahuan dan laksanakan dengan tulus (ngayah). Sebab, melakoni dunia seni tidak menunjukkan kepintaran saja, namun pentas dengan rasa bhakti, percaya, dan yakin. Berpedoman pada tuntunan tersebut, Winda sampai saat ini tidak pernah mengalami gangguan sekala niskala saat pentas.
Ditambahkannya, tarian topeng, ada enam pakem, yaitu Topeng Keras, Topeng Tua, Topeng Penasar, Topeng Raja, Topeng Bondres, dan Topeng Sidakarya.Topeng Keras menunjukkan suasana pagi, dalam artian ketika pementasan diawali dengan Topeng Keras. Dengan tujuan untuk membangun daya tarik penonton. Kedua, adanya Topeng Tua, yaitu menunjukkan sore hari, dengan pementasan yang lemah lembut dan penuh wejangan dari orang tua. Ketiga, adanya Topeng Penasar yang dicontohkan kedalam aktivitas sehari-hari. Keempat adalah Topeng Raja, topeng dengan menampilkan pementasan terkait pikiran, yakni dengan menekankan tentang filsafat dalam kehidupan. Kelima, ada Topeng Bondres, yaitu dengan menunjukkan gangguan pada pikrian, sehingga membuat suasana lucu dan ketawa dari penonton. Terakhir adalah Topeng Sidakarya, yaitu menunjukkan pelaksanaan upacara dan tarian topeng akan selesai, sekaligus pertanda upacara secara simbolis sudah terlaksana dengan labda karya.
Pada penentasannya, juga dimasukkan cerita yang mengandung etika, filsafat, dan ritual. Agar masyarakat yang menonton mengerti dengan apa sesungguhnya yang harus dilakukan dalam kehidupan ini. “Biasanya saya selipkan nilai yang dapat mendidik di setiap pementasan,” imbuh Winda yang mengaku belajar dari almarhum ayahnya. Selain itu, juga mempelajari Lontar Bebali Sidakarya, beberapa cerita rakyat dan dari pengalaman pribadi.
Berawal dari almarhum ayahnya, sebagai perintis sanggar tari di desanya, Winda tertarik untuk menjadi seorang penari, khususnya tari topeng. Dan, sampai saat ini Winda terkenal dengan nama pemeran Topeng Tugek, sebab ada penokohan yang ia pentaskan sebagai seorang wanita cantik.
Winda menjelaskan, dalam pementasan Topeng Sidakarya ada tiga tokoh penting, yaitu tokoh Dang Hyang Nirartha sebagai Pendeta, tokoh Ida Dalem Waturenggong sebagai Penguasa Raja, dan tokoh Dalem Sidakarya sebagai Sang Tiga Sakti.