BALI EXPRESS, DENPASAR - Tanpa disadari beberapa upakara dilengkapi sarana atau pelengkap yang tidak dapat ditinggalkan, yang disebut dengan uparengga. Orti misalnya, jadi bagian yang tak bisa diabaikan maknanya.
Soal uparengga dalam konteks pelaksanaan upakara di Bali, memang tidak ada habisnya. Sejatinya, banyak jenis uparengga yang hendak wajib diketahui umat Hindu sebelum melaksanakan uacara yadnya. Hal ini dikarenakan uperengga sangat sulit dicari dalam waktu yang mendadak.
Di Bali dikenal salah satunya adalah uparengga Orti. Jika mendengar namanya tentu sangat asing di telinga. Namun, pada keseharianya ketika melaksanakan upacara yadnya seperti Mlaspas, uparengga ini akan diletakkan di ujung atap bangunan palinggih atau di tugeh, jika itu bangunan perumahan.
Budayawan Kota Denpasar I Gede Anom Ranuara, kepada Bali Express (Jawa Pos Group), menjelaskan bahwa kata Orti berasal dari kata 'arta' yang berarti material. Sedangkan material tersebut bersumber dari kekuatan prakerti yang artinya kebendaan, di mana kekuatan tersebut merupakan prabhawanya dari kekuatan purusha yang artinya kejiwaan. Sehingga, dari kekuatan prakerti itu bermanifestasi menjadi kekuatan prabhawa yang disebut kharisma atau yang di Bali dikenal dengan sebutan 'taksu'.
Dari adanya karismatik pada bangunan suci, lanjut Anom Ranuara, tentunya dapat berpengaruh besar terhadap umat Hindu, dan merupakan penuntun secara batiniah, sehingga dapat meningkatkan keyakinan umat terhadap keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi, dapat disimpulkan Orti tersebut mengandung makna sebagai pemberi 'taksu'atau kharisma kepada sebuah palinggih atau bangunan di Bali. "Dari sinilah nantinya sebuah kepercayaan umat terhadap suatu bangunan akan tumbuh," jelas Anom Ranuara.
Lebih lanjut dikatakannya, Orti dibuat menggunakan daun lontar yang sudah tua. Dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi beberapa bagian sebelum disatukan menjadi satu kesatuan yang utuh. Namun, tak jarang umat Hindu di Bali hanya menggunakan satu Orti saja.
Beragam bentuk Orti dikenal di Bali sebagai pelengkap pelaksanaan yadnya, khususnya untuk Mlaspas. Pertama, Orti Bagia, dibentuk dan disusun dari sebuah tangkai bambu yang panjangnya kira-kira 10 cm yang ujungnya dibuat silang. Di antara ujung silang dihubungkan dengan benang empat warna ( putih, merah, hitam, dan kuning ). Pada ujung-ujung silang benang tersebut disatukan pada ujung tangkai orti tadi, seolah-olah bersumbu ke atas. Di atas silang ditusukkan anyaman berbentuk burung dan yang paling atas ditusukkan cili (simbul muka), digantungkan uang kepeng bolong sebanyak 7, 9 atau 11 kepeng sesuai dengan status bangunan suci yang akan diplaspas. Orti ini biasanya diletakan di tengah atau ujung teratas bangunan. Terkait jumlah uang kepeng bolong biasanya langsung berdasarkan petunjuk sulinggih atau pendeta yang akan muput.
Kedua, dikenal juga Orti Pulu yang dibuat dari daun lontar tua dan berbentuk pulu (periuk). Orti ini berjumlah 7,9,11 buah dalam satu paket Orti menurut status bangunan suci yang hendak diplaspas.
Yang ketiga dikenal istilah Orti Kerang Melok yang dibuat dari daun lontar dibentuk bulat menyerupai tamiang dan memiliki tangkai. Orti ini berjumlah empat buah pada setiap rangkain, biasanya dipasang pada setiap sudut bangunan yang akan diplaspas. Dan, yang terakhir dikenal Orti Beringin, yang dibuat dari daun lontar dibentuk menyerupai daun beringin. "Orti ini hanya satu rangkai dalam satu paket Orti," jelas pria yang juga menekuni pedalangan ini, sembari mengatakan secara lengkap biasanya Orti dijumpai ketika pelaksanaan Karya Padudusan baik pada tingkat alit maupun agung.
Setiap kelengkapan upakara di Bali tentunya memiliki makna tersendiri. Sesuai dengan Lontar Tutur Tapeni dijelaskan bahwa masing-masing Orti mengandung makna. Seperti halnya Orti Bagia, jika dilihat dari namanya, Bagia mengandung makna bahagia. "Dari sinilah diharapkan bangunan yang hendak diplaspas senatasiasa memberikan kebahagiaan lahir batin. Hal ini tentunya dimohonkan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai penguasa alam semesta," terangnya. Sehingga dalam Orti Bagia ini, lanjutnya, dijumpai empat warna benang sebagai implementasi dari empat penjuru mata angin, yakni Utara yang berwarna hitam sebagai stana Dewa Wisnu. Timur dengan warna Kuning sebagai stana Dewa Iswara. Selatan dengan warna merah sebagai stana Dewa Brahma, dan Barat dengan warna Kuning sebagai stana Dewa Mahadewa.
"Keempat warna tersebut nantinya jika digabungkan akan memberikan penyatuan antara semua penjuru mata aingin sebagai pangider-ider Dewata Nawa Sanga," paparnya.
Dalam menunjang kebahagian, tentunya umat manusia wajib dapat memenuhi berbagi kebutuhan hidiupnya. Hal inilah yang menjadi simbol tersendiri masing-masing Orti. Seperti Orti Pulu yang merupakan simbol permohonan amerta kehadapan Ida Sang Hyang Widh. Orti Kerang Melok merupakan simbol permohonan keteguhan iman kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Orti Beringin merupakan simbol permohonan untuk perlindungan dan kecerdasan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.
"Jadi, keempat orti ini adalah satu kesatuan yang utuh dan wajib digunakan secara keseluruhan, bukan salah satu, karena hal ini tentunya dapat mengurangi makna yang terkandung di dalamnya," imbau Anom Ranuara mengakhiri pembicaraan.
Editor : I Putu Suyatra