BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Selain digunakan untuk malukat, tirta yang ada di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar, biasanya digunakan sebagai pamuput upacara Dewa Yadnya. Yaitu tirta yang terletak paling timur Tirta Empul, yang disebut dengan Pancaka Tirta.
Ketika pelaksanaan upacara berlangsung biasanya Manacika Tirta dipendak (dijemput) oleh warga. Pemangku Pura Tirta Empul, Dewa Gede Wenten menjelaskan, pelaksanaan upacara tersebut biasanya disebut dengan pamendakan tirta, ketika mengawali yadnya yang akan dilakukan. Khusus pada saat piodalan di Pura Tirta Empul, masyarakat melaksanakan pamendakan tirta dengan iring-iringan berupa Tarian Rejang dan Baris dari jeroan pura menuju Pancaka Tirtha tersebut. Sesampainya di sana, serati banten menyiapkan upakara yang dibawa. Selanjutnya pemangku pura melakukan matur piuning.
Pemangku melakukan puja, menghaturkan banten yang telah disiapkan untuk memohon tirta.
Selesai pemangku menghaturkan semua banten, maka proses pengambilan tirta segera dimulai. Salah seorang warga yang telah ditunjuk menuju ke tempat Pancaka Tirta untuk melakukan pengambilan air (tirta) yang berjumlah lima jenis, yaitu tirta Pamarisudha, Panglukatan, Tegteg, Sudamala, dan tirta Banyun Cokor. Semua jenis tirta satu persatu diambil dari tempat (pancuran yang mengalir). “Lima tirta tersebut hanya khusus untuk pelaksanaan Dewa Yadnya saja,” terang Jero Mangku Wenten, ketika ditemui di Pura Tirta Empul Tampaksiring,Gianyar, kemarin .
Dijelaskan Jero Mangku Wenten, Tirta Wasuh Pada (Banyun Cokor), diartikan sebagai karunia Tuhan dan memelihara karunia tersebut dilambangkan oleh Tirta Wasuh Pada. Tirta ini diberikan atau dipercikkan di kepala dan diraupkan ke wajah agar mengenai semua alat Panca Buddhindriya. Yang terdiri atas mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit wajah. Hal ini bermakna bahwa semua alat Panca Buddhindriya telah tersucikan. "Tirta Wasuh Pada itu ibarat bibit yang ditanam dalam lahan yang gembur dan bersih," bebernya.
Selanjutnya, Tirta Tegteg berfungsi untuk ngaci Sri yaitu dipakai pada padi, beras, cawu, nasi. Kemudian, fungsi Tirta Sudhamala digunakan pada upacara macaru dari tingkat nista sampai pada tingkat utama. Dalam Dewa Yadnya, juga difungsikan untuk ngalukat banten, palinggih.
Sementara Tirta Panglukatan diyakini memiliki fungsi untuk menyucikan segala upacara (Panca Yadnya), agar bebas dari segala halangan dan rintangan.
Sedangkan Tirta Parisudha untuk mensucikan atau membersihkan segala yang kotor (sebagai pelebur segala macam kekotoran sekala dan niskala). Tirta ini bersumber dari air (klebutan) Taman suci sangat disakralkan oleh umat Hindu, karena sebagai sumber kehidupan juga sebagai tempat untuk melakukan upacara mapakelem.
Di dalam Taman Suci itu terdapat tiga buah batu yang bentuknya seperti temuku, yang berfungsi sebagai pembagi air yang mengalir ke pemandian.
Jero Mangku Wenten menjelaskan, aliran air melalui batu yang sebagai temuku pertama merupakan pembagian dari Taman Suci ke Pancaka Tirtha. Ini berfungsi sebagai tempat Melis Ida Bhatara, baik yang berasal dari Tampaksiring maupun luar Desa Tampaksiring. Sedangkan aliran air melalui batu temuku kedua, ditujukan pada Pitra Yadnya, yaitu Tirta Pangentas dan Pabersihan. Sedangkan aliran air melalui batu temuku ketiga, merupakan Tirta yang dipergunakan untuk malukat.
Jero Mangku Wenten menjelaskan bahwa piodalan berlangsung bertepatan pada Purnama Kapat. Berawal dengan upacara ngias Ida Bhatara terlebih dahulu, dilanjutkan dengan mlasti menuju ke Pantai Keramas, Gianyar. Piodalan akan nyejer (berlangsung) selama 11 hari.