BALI EXPRESS, DENPASAR - Daun kelor atau yang memiliki nama latin Moringa oeifera Lamk yang termasuk keluarga Euphorbiaceae, ini disebut memiliki kandungan kalsium yang sangat tinggi. Hal itu dikatakan oleh praktisi Usadha Bali, I Dewa Agung Made Suryawan alias Jung Kumis. Menurutnya, hasil itu berdasarkan pengujian yang Laboraturium Universitas Udayana.
Kandungan kalsium pada daun kelor ini dikatakan Jung Kumis empat kali lebih tinggi daripada kalsium yang terkandung pada susu sapi. “Tingginya kandungan kalsium pada daun kelor inilah yang menyebabkan rasa dari daun kelor ini agak pahit,” jelasnya.
Untuk tingkat kandungan kalsium dalam daun kelor dikatakan Jung Kumis mencapai 440 Mg per 100 gram daun Kelor. Sedangkan per 100 gram daun kelor serbuk yang sudah dikeringkan kandungan Kalsiumnya jauh lebih tinggi, yakni mencapai 20003.0 Mg.
Karena tingginya kandungan kalsium pada daun kelor, ini maka daun kelor dikatakan Jung Kumis dapat membantu membangun kembali tulang-tulang yang lemah, mengatasi kekurangan darah dan membantu para ibu yang kekurangan gizi untuk memenuhi gizi bagi bayi yang sedang dikandung.
Selain memiliki kandungan kalsium yang cukup tinggi, daun kelor dikatakan Jung Kumis juga berkhasiat untuk mengatasi berbagai jenis keluhan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin dan mineral seperti kekurangan vitamin A (gangguan penglihatan), kekurangan Choline (penumpukan lemak pada liver), kekurangan vitamin B1(beri-beri), kekurangan vitamin B2 (kulit kering dan pecah-pecah), kekurangan vitamin B3 (dermatitis), kekurangan vitamin C (pendarahan gusi), kekurangan kalsium (osteoporosis), kekurangan zat besi (anemia), kekurangan protein (rambut pecah-pecah dan gangguan pertumbuhan pada anak).
Hal ini karena daun kelor memiliki kandungan vitamin C tujuh kali dibandingkan dengan jeruk, empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan wortel dan kandungan potasium yang tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan pisang.
Dari hasil analisa kandungan nutrisi dapat diketahui bahwa daun kelor memiliki potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. “Dengan mengonsumsi daun kelor maka keseimbangan nutrisi dalam tubuh akan terpenuhi sehingga orang yang mengonsumsi daun kelor akan terbantu untuk meningkatkan energi dan ketahanan tubuh,” lanjut Jung Kumis.
Selain itu daun kelor juga memiliki kandungan asam Amino yang cukup tinggi, sehingga bisa bermanfaat untuk kecerdasan bayi. Daun Kelor ini dikatakan Jung Kumis memiliki khasiat atau kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan batang dan buah kelor yang di Bali disebut dengan Klentang ini.
Lantas seperti apa pengolahan daun kelor supaya kandungan nutrisi dan vitamin yang terkandung dalam Daun Kelor ini bisa tetap bertahan? Untuk pengolahan ini, Jung Kumis menyebutkan jika proses pengolahan daun Kelor harus dilakukan secara benar, karena jika tidak kandungan nutrisi dalam daun kelor bisa hilang.
Salah satu prosesnya adalah proses pengeringan, dimana untuk proses pengeringan ini daun kelor yang akan digunakan sebagai capsul tidak boleh melalui proses pengeringan dengan suhu di atas 100 derajat celcius. “Untuk capsul, pengeringannya harus sedang, tidak boleh melebihi suhu 100 derajat celcius, jika lebih, maka kandungan nutrisinya akan hilang,” paparnya.
Sedangkan jika digunakan untuk obat mata, proses pengambilan ekstrak daun Kelor harus dilakukan dengan teknik memeras dengan mesin. Dan dalam prosesnya harus dilakukan di ruangan steril, sehingga tidak ada bakteri yang berkembang.
Editor : I Putu Suyatra