Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Beji Waringin Pitu; Tujuh Simbol Aksara untuk Tujuh Lubang Tubuh

I Putu Suyatra • Minggu, 15 Oktober 2017 | 14:23 WIB
Beji Waringin Pitu; Tujuh Simbol Aksara untuk Tujuh Lubang Tubuh
Beji Waringin Pitu; Tujuh Simbol Aksara untuk Tujuh Lubang Tubuh

BALI EXPRESS, MENGWI - Beji Waringin Pitu, menjadi satu tempat untuk melakukan pengelukatan (pengruwatan) yang cukup dikenal di Bali. Tempat yang sehari-harinya digunakan sebagai tempat permandian umum oleh masyarakat Desa Adat Kapal dan sekitarnya, ini berlokasi di Jalan Sandat Banjar Celuk Desa Adat Kapal Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.


 


Untuk mencapai Beji Waringin Pitu, dari jalan Raya Kapal cukup mudah, karena tepat di depan Banjar Celuk, Kapal terdapat jalan aspal ke arah Utara, dari jalan tersebut, kita cukup menempuh jarak sekitar 1 Kilometer melewati perumahan penduduk dan areal persawahan miliki warga Banjar Celuk. Akan terlihat Plang nama Beji Waringin Pitu di sebelah kiri jalan. Melalui jalan tersebut,  akan sampai di sebuah areal parkir yang cukup luas. Dari areal parkir tersebut, turun ke bawah melalui anak tangga, sampailah di areal Permandian Beji Waringin Pitu.


Menurut Ida Bagus Ngurah Suparsa Pemangku Beji Waringin Pitu ini, jika dilihat dari sejarahnya Beji Waringi Pitu ini sudah ada sejak dahulu. “Beji ini memang sudah ada sejak dahulu, sejak saya masih kecil Beji ini sudah ada dan menjadi tempat permandian umum serta tempat melukat,” jelas Pemangku yang menjadi pemangku sejak tahun 2008 lalu ini.


Lebih lanjut dikatakan Gus Ngurah, nama Waringin Pitu pada Beji Waringin Pitu ini diambil dari kondisi alam Beji tersebut. Pada jaman dulu, di lokasi Beji ini tepatnya di sekitar Pura yang terletak di pinggir Tukad Penet, ini terdapat tujuh batang pohon beringin tua.  


Namun seiring dengan berjalannya waktu di Banjar Celuk pernah terjadi bencana banjir sehingga mengakibatkan longsor dan menghanyutkan areal persawahan termasuk enam pohon beringin yang ada di lokasi Beji Waringin Pitu. “Sedangkan sisanya, yakni pohon yang ada di sebelah selatan permandian, masih tetap berdiri kokoh. Selain lokasi pohon cukup tinggi, akar pohon beringin ini cukup kokoh untuk menahan longsoran dari atas,” ungkapnya.


Karena itulah, tempat pengelukatan tersebut diberi nama Beji Waringin Pitu, yakni Beji yang memiliki tujuh pancaran dan dilindungi oleh tujuh pohon beringin. Selain dinaungi oleh tujuh pohon Beringin pada masa lalu, Beji Waringin Pitu ini juga memiliki tujuh pancoran yang menurut Gus Ngurah memiliki fungsi pembersihan untuk masing-masing anggota tubuh.


Mulai dari pancoran yang berada di sisi utara pancaran dengan nada aksara Ang-Ung ini disimbulkan sebagai simbul panas atau api dan udara, dan di dalam tubuh manusia simbol ini adalah untuk membersihkan pori-pori Kulit. Selanjutnya adalah pancuran nomor dua dari sisi utara, merupakan lambang aksara Chandra (Mang) yang berfungsi untuk membersihkan organ mata.


Yang ketiga dari sisi utara adalah pancuran dengan lambang Aksara Ongkara (siwa) dan simbol mulut sehingga digunakan untuk membersihkan mulut, selanjutnya adalah pancuran keempat dengan simbol Aksara Mangkara (Iswara) dan simbol hidung, dan fungsinya untuk membersihkan hidung.


Yang kelima adalah pancuran dengan simbol  aksara Ungkara (Dewa wisnu sebagai Dewa Air) dan simbol telinga, yang berfungsi untuk membersihkan telinga.



Kemudian yang keenam adalah aksara Akara (Brahma, ang/ah) disimbolkan dengan relief alat kelamin laki-laki, dan yang terakhir adalah Aksara Akara (Brahma, ang/ah) disimbolkan dengan anus. “Kedua simbul yang terakhir ini sebagai manifestasi dari simbol Lingga dan Yoni atau manifestasi Purusa dan Predana,” paparnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #mengwi #hindu #badung