Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Soal Dipawali, Pemerintah Hendaknya Rembug dengan Tokoh Hindu Dulu

I Putu Suyatra • Rabu, 18 Oktober 2017 | 05:08 WIB
Soal Dipawali, Pemerintah Hendaknya Rembug dengan Tokoh Hindu Dulu
Soal Dipawali, Pemerintah Hendaknya Rembug dengan Tokoh Hindu Dulu



BALI EXPRESS, DENPASAR - Peringatan Hari Raya Dipawali merupakan hal yang baru bagi rakyat Indonesia, khususnya umat Hindu di Bali. Pasalnya, hari raya tersebut selama ini umumnya diperingati oleh umat Hindu di India. Berkenaan dengan hal itu, alangkah baiknya diperlukan pembahasan terlebih dahulu antara pemerintah dengan tokoh agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali.


 


Hal tersebut ditegaskan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet. "Kita di Indonesia khususnya di Bali tidak merayakan Hari Raya Dipawali, namun sering menyampaikan Ucapan Selamat Depawali kepada saudara saudara Hindu kita yang berasal dari India," ujarnya, Selasa (17/10).


Disampaikannya, Hari Raya Dipawali merupakan hari raya terbesar yang diperingati umat Hindu di India. Namun secara pemaknaan, mirip dengan Hari Raya Galungan di Bali. Pasalnya, pada dasarnya sama-sama memperingati momentum kebenaran Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan). "Hari Raya Dipawali adalah Hari Raya  Terbesar Keagamaan Hindu di India. Maknanya mirip dengan Hari Raya Galungan, Hari Raya Kemenangan, Penuh Cahaya, Penuh Anugerah kesejahteraan," terangnya.


 


Sementara itu, lanjut tokoh asal 'Gumi Serombotan' Klungkung itu, Hari Raya Dipawali selama ini belum lumrah diperingati di Indonesia. Dengan demikian, hendaknya pemerintah melakukan pembahasan dengan tokoh agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. "Karena di Indonesia, khususnya di Bali tidak lumrah Hari Raya ini, maka alangkah baiknya Dirjen, Gubernur merembugkan terlebih dahulu dengan Para Tokoh Agama Hindu, khususnya di Bali. Apa perlu atau tidak buat Edaran begitu, setelah rembug baru ambil kesimpulan," sarannya.


 


Ia pun berharap, Surat Edaran Gubeenur Bali perihal libur fakultatif peringatan Hari Raya Dipawali, Rabu (18/10) tak disalahgunakan. "Moga-moga Edaran Fakultatif ini tidak disalahgunakan oleh Umat Hindu Bali yang sebenarnya tidak merayakannya . Surat Edaran ini memang sudah banyak menimbulkan pertanyaan dikalangan Umat Hindu Khususnya di Bali," harap Ketua Umum Asosiasi Ground Handling Indonesia (AGHI) tersebut.


Seperti diketahui, Surat Edaran Gubernur Bali mengenai libur fakultatif dalam rangka peringatan Hari Raya Dipawali menjadi sorotan publik. Pasalnya umat Hindu di Bali secara umum masih 'asing' dengan hari raya tersebut. Pun Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. DR. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si sebelumnya mengaku juga belum sempat dilibatkan dalam pembahasan peringatan hari raya tersebut.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #denpasar