BALI EXPRESS, SANGEH - Objek wisata Sangeh, Abiansemal, Badung menjadi ramai, Rabu kemarin (18/10) kemarin. Keramaian tersebut bukan hanya karena kunjungan wisatawan. Melainkan ada sebuah upacara besar yang digelar di Pura Pucak Sari. Pura tersebut adalah Pura Ageng atau pura utama yang terdapat di kawasan yang disucikan desa setempat.
Nama upacara tersebut adalah Karya Agung Manawa Ratna dan Mapaselang. Menariknya, upacara tersebut digelar setiap enam tahun sekali ini dengan melibatkan seluruh krama (warga) Desa Adat Sangeh. Di samping itu, ada pula sejumlah desa adat dari luar Sangeh yang memiliki keterkaitan secara 'niskala' yang ikut sembahyang.
Bendesa Adat Sangeh, Ida Bagus Dipayana mengungkapkan, awalnya karya agung tersebut dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Namun belakangan diubah menjadi enam tahun sekali karena kesepakatan adat. "Dulu setiap tiga tahun, tapi krama agak berat. Jadi dilakukan paruman (rapat) dan disepakati enam tahun sekali," jelasnya.
Setiap tahun, secara bergantian lima banjar yang ada di bawah Desa Adat Sangeh menjadi pamucuk karya. Lima banjar tersebut yakni Muluk babi, Batur Sari, Brahmana, Sibang, dan Pamijian. Hanya saja, upacara yang dilaksanakan setiap tahun, lebih kecil atau sederhana. Sementara, karya agung dilaksanakan setiap enam tahun sekali.
Di samping pura Pucak Sari sebagai pura utama, ada pula Pura Melanting, Pura Tirta, Pangepelan, Tanah Uwuk, dan Panglukatan Tri Datu. Saat karya atau piodalan yang jatuh pada Buddha Umanis Julungwangi, dihaturkan persembahan di setiap pura.
Apa yang unik dari karya agung ini? Dipayana menerangkan, palawatan atau tapakan Ida Bhatara yang berupa barong maupun rangda dari beberapa desa adat lainnya akan diiring ke pura Pucak Sari. Desa tersebut di antaranya dari Gianyar, seperti Lodtunduh dan Pagutan. Selanjutnya ada dari Badung seperti Desa Ambengan, Punggul, dan sebagainya.
"Jadi tapakan Ida Bhatara akan diiring ke Pura Pucak Sari, karena bahannya dulu diambil dari salah satu pohon di sekitar pura," jelasnya.
Oleh karena itu, sebelum puncak karya, biasanya tapakan dari desa adat lainnya diiring ke Pura Pucak Sari dengan terlebih dahulu menuju ke pohon tempat dahulunya bahan dari tapel (topeng) tersebut diambil. Kebanyakan bahan diambil dari pohon pulai unik yang oleh masyarakat setempat disebut Taru Lanang-Wadon (Pohon Laki-Perempuan). Disebut begitu, karena pada bagian batang pohon terdapat lubang dan di dalam lubang tersebut terbentuk bagian seperti lingga dan yoni. Selain di pohon tersebut, ada pula yang mengambil bahan dari pohon pala di sekitar pura.
Diterangkannya, rangkaian upacara sudah dimulai sejak Kamis (12/10) berupa tawur, lanjut Sabtu (15/10) melasti ke Pantai Seseh, Minggu (16/10) mapapada, Senin (17/10) memben karya, dan kemarin adalah puncak upacara dengan persembahyangan seluruh umat Hindu dari desa setempat.
"Puncak acara di Pura Pucak Sari pukul 16.00 berupa persembahyangan dan manawa ratna serta mapaselang yang dipimpin sulinggih Siwa dan Buddha," ungkapnya.
Upacara kemudian dilanjutkan penganyaran selama dua hari dan nyineb atau penutupan upacara pada Sabtu (21/10). Selama panganyaran hingga nyineb akan ada upacara mapeed atau menyunggi gebogan (persembahan yang disusun pada dulang) setiap sore sekitar pukul 15.00.
Bendesa Pakraman Lodtunduh, I Made Karya yang mengiringi tapakan atau palawatan ida bhatara di desa adatnya mengatakan, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak dahulu kala. “Ini sudah dari dulu, sejak leluhur kami. Jadi palawatan ida bhatara yang bernama Ida Ratu Sakti, bahannya yang berupa kayu diambil dari pohon pulai yang ada di sini,” ungkapnya.
Dengan demikian, kata dia, setiap upacara di Pura Pucak Sari, pihaknya pasti mengiringi tapakan atau palawatan Ida Bhatara ke Sangeh. “Setiap upacara, palawatan Beliau tangkil ke sini. Kami mengikuti yang sudah berjalan. Jadi selalu tangkil kesini, kecuali ada halangan tertentu,” terangnya.
Mengenai sesajen khusus yang dihaturkan, Karya mengaku tidak ada. Sesajen utamanya hanya berupa pejati. “Tidak ada aci khusus. Hanya berupa rarapan atau seperti oleh-oleh di kehidupan kita sehari-hari. Selain itu ada pejati dan juga punia secara sekala,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, palawatan ida bhatara tak hanya sekedar tangkil ke Pura Pucak Sari, melainkan tetap berada di sana atau istilahnya nyejer sampai dengan karya agung selesai. “Nyejer sampai upacara selesai. Minggu pagi baru kembali,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra