Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Goa Peteng, Tempat Nunas Taksu Pregina

I Putu Suyatra • Senin, 30 Oktober 2017 | 14:57 WIB
Goa Peteng, Tempat Nunas Taksu Pregina
Goa Peteng, Tempat Nunas Taksu Pregina

BALI EXPRESS, BADUNG - Sebuah goa biasanya dibuat pada zaman penjajahan dahulu, untuk tempat tinggal sementara atau sebagai tempat berlindung dari serangan musuh. Namun, ada yang berbeda dengan goa satu ini. Berada tegalan warga dan ukurannya sangat sempit. Masyarakat sekitar menyebutnya  Goa Peteng di Tanah Ayu, perbatasan antara Desa Darmasaba dengan Sibanggede. Apa fungsinya?


Salah satu keturunan pemangku Goa Peteng, Ketut Gede Arya Adnyana  mengungkapkan, masyarakat setempat percaya Goa Peteng sebagai tempat mohon taksu para pregina (pelaku seni tari dan tabuh).


Jika ingin nangkil untuk mohon taksu ke sana, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Pusat Kota Denpasar. Melewati Taman Kota Lumintang ke utara, menuju Desa Darmasaba hingga  sampai di sebuah pertigaan yang ada palinggih di tengahnya. Selanjutnya lanjutkan perjalanan lurus ke utara sekitar satu kilometer lagi, maka tiba di lampu merah  (traffic light) depan Pasar Sibang, kemudian belok ke kiri hingga sampai di jembatan yang menjadi  perbatasan antara Desa Darmasaba dengan Sibanggede. Di utara jembatan itulah terdapat Goa Peteng. Lewati jalan perumahan yang baru dibangun sekitar 10 meter masuk ke utara, dan akan sampai di depan Goa  Peteng dan disambut gemericik air goa yang jatuh ke sungai.


Ketut Arya mengaku, bahwa panglingsirnya sebagai pemangku di Goa Peteng yang bernama I Nyoman Mereg.  Tetapi telah meninggal dunia pada tahun 1993 lalu. Kini setiap warga setempat  yang ingin nangkil,  bisa dipuput pemangku lain. Dikarenakan Goa Peteng merupakan beji dari Pura Tanah Ayu yang berada di selatan goa tersebut. "Kalau dulu sebelum paman saya meninggal, pasti orang yang mau nangkil ke Goa Peteng ke sini dulu untuk mencari pemangku. Sejak ia meninggal, warga yang akan nangkil ke sana kebingungan mau mendak pemangku siapa dan di mana. Maka sampai saat ini jika nangkil ke goa, sendiri boleh mengajak pemangku lain juga boleh," terang Ketut Arya yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di  rumahnya, Desa Sibanggede, Badung, akhir pekan kemarin.



Dijelaskan Ketut Arya, di kawasan Goa Peteng merupakan persawahan dan tegalan.  Petani yang  bekerja sampai siang hari,bila kehausan  akan  mengambil air di goa. "Karena pada  siang hari dan sore hari suasananya gelap, dari sanalah disebut dengan Goa Peteng. Di samping itu tempatnya memang masuk ke dalam dari permukaan tebing, sehingga tidak pernah kena sinar matahari," bebernya.


Arya juga mengatakan, sebelum ada jembatan penghubung Darmasaba-Sibanggede di dekat goa, di sana hanya ada jalan setapak saja. Ketika mau masuciang Ida Sasuhunan saat patoyan harus jalan kaki. Dan memilih-milih jalan yang bisa dilalui untuk keamanan. Di samping itu, tempat goa juga berada di antara dua jurang. "Sebelum dibangun jembatan, kami hanya melewati semak-semak saja ke sana. Itu pun harus siang hari, kalau malam sangat riskan  karena di samping kanan- kiri adalah jurang," ungkapnya.


Pamedek yang datang, lanjutnya , mereka  yang akan pentas atau lomba gong kebyar. Ada pula yang akan pentas biasa, tetapi mohon restu berupa taksu. 


Arya sendiri masih ingat, almarhum pamannya sempat dicari oleh salah satu warga Sibang. Orang tersebut akan megambel di sebuah festival. Pamannya dicari untuk memuput sarana upakara di goa sebagai mohon taksu saat pentas. Dari sanalah awal Goa Peteng dipercayai untuk nunas taksu seorang pregina dan penabuh.


Selain nunas taksu, ia juga mengatakan ada beberapa orang nangkil untuk nunas tirta. Karena air yang muncul dari goa, dipercayai warga bisa dijadikan tamba (obat).  "Itu semua kembali lagi kepada diri orang masing-masing, kalau percaya mereka akan nangkil," papar pria yang juga  seorang PNS tersebut.


Ditambahkannya, sebelum ditata dengan rapi seperti sekarang, mencari goa harus naik sekitar tiga meter. Setelah diperbaiki dan direnovasi, pamedek hanya naik sekitar satu meter saja sudah bisa masuk ke goa. Di dalamnya, terdapat sebuah palinggih untuk tempat menghaturkan canang dan pajati. Arya juga menjelaskan di goa tersebut terdapat rencangan yang ada wilayah tegalan di sana, berupa binatang besar dan juga sebagai tempat bersthana Dewa Wisnu. Itu ditandai dengan adanya  beberapa buah patung dan arca di dalam goa.


Bila ingin nangkil, ia sarankan  menghaturkan sebuah daksina dan pejati, sebelum pentas.


Namun, kalau ingin nunas tirta, cukup menghaturkan canang saja. "Mereka yang akan pentas biasa nangkil untuk nyejer pajati, agar diberikan taksu dan keselamatan," jelas Arya.


Dilarang bagi orang yang cuntaka memasuki wilayah goa, termasuk bayi maupun orang tuanya yang belum berumur satu bulan tujuh hari setelah melahirkan.


Dikarenakan Goa Peteng sebagai tempat pasucian Ida Bhatara, saat pujawali yang dilaksanakan Anggarakasih Medangsia.  Arya mengaku sempat alami kejadian aneh, dicari ular besar. Pada saat itu, ia hendak  menghaturkan canang di tegalan dekat Goa Peteng. Karena semua peralatan berupa pisau dan sabit ia hilang, maka  diputuskan untuk menghaturkan canang yang diisi permen. "Entah dari mana datang seekor ular, kemudian memakan permen yang saya haturkan di canang tersebut. Setelah dapat permen, ular itu menuju arah Goa Peteng. Anehnya,  peralatan yang hilang dan sudah dicari berulang kali di lokasi yang sama,  baru saya liat tergeletak, padahal sebelumnya tidak ada ," paparnya.  Salah satu warga desa setempat, Ayu Novitayanti mengaku pernah matur piuning di Goa Peteng. Saat itu Sekaa Teruna di banjarnya akan melaksanakan lomba magambel gong kebyar, mewakili Kecamatan Abiansemal. Dalam lomba tersebut Ayu Novitayanti mengaku mendapat juara I. "Saat itu yang lomba adalah baleganjur anak-anak, karena latihan yang serius ditambah dengan nunas ica (mohon restu) di Goa Peteng,sehingga bisa  dapat juara ," ungkap wanita 24 tahun tersebut.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #badung