Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Indah Dibalik Tradisi 'Mula Keto' di Bali

I Putu Suyatra • Kamis, 2 November 2017 | 15:25 WIB
Rahasia Indah Dibalik Tradisi
Rahasia Indah Dibalik Tradisi

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tradisi ‘mula keto’ (memang seperti itu) adalah sebuah tradisi indah yang berdasar pada nisthata-bhakti yang sangat kuat.  Namun, akan powerless (lemah), bahkan useless (tak berguna) bila terjebak anisthata-bhakti. Sering terjadi bahwa tradisi 'mula keto' ditunggangi tradisi baru yang tidak berdasar susastra Weda.


Acharya Praburasa Darmayasa menegaskan, tiada terbatas cara pendekatan diri kepada Ida Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa. Tak terhitung cara, teknik, atau metode pendekatan diri kepada Tuhan, dari cara paling sederhana seperti ngaturang (mempersembahkan) canang, pendekatan melalui pertapaan berat (tapa, brata, yoga, samadhi), sampai dengan cara yang bahkan kepala orang bisa 'pecah' jika mencoba memahaminya melalui 'kepala' (logika).


Jangkauan 'brain' tidaklah mampu menyentuh batasan awal teknik atau metode pendekatan spiritual tersebut. "Demikian kaya rayanya ajaran dan cara-cara pendekatan diri kepada Tuhan, seperti yang diajarkan di dalam ajaran-ajaran susastra dan tradisi-tradisi Weda, diwariskan oleh para leluhur melalui berbagai cara penyampaian," papar Darmayasa, yang juga Presiden World Divine Society ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin di Denpasar.


Dari semua cara itu, lanjut pria kelahiran Padangtegal, Ubud ini,  terdapat cara tradisional yang sangat sederhana, yaitu 'mula keto' (memang begitu, memang seperti itu).


Hampir menyeluruh, diakui atau tidak, umat penganut ajaran dan tradisi Weda mengikuti atau menyukai cara ini. "Kadang ada pula yang berbicara menentang tradisi 'mula keto' tetapi di dalam praktik agama spiritual sehari-harinya mereka ternyata mempraktikkan tradisi 'mula keto'. Biasanya orang melihat tradisi 'mula keto' dari segi pandang negatif dan harus diberanguskan sampai menjadi abu tanpa sisa sama sekali," papar tokoh spiritual yang punya murid di berbagai belahan dunia ini.


Mendengar atau membaca pandangan negatif terhadap tradisi 'mula keto',  lanjut penulis ratusan buku spiritual  ini,  tidak jarang pula orang mulai menjadi tergoyahkan, atau bahkan langsung berpaling dari 'mula keto' menjadi 'adi keto' (koq begitu?), dan bahkan 'ngudiang keto' (kenapa seperti itu) yang pada akhirnya menjadi 'de keto' (jangan begitu), atau 'suud keto' (berhentilah seperti itu). Maka , terjadilah 'pengikisan' dan 'penyerangan' ajaran-ajaran dan tradisi-tradisi leluhur, bahkan tanpa pertimbangan lagi baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut, agama-bukan agama, spiritual-bukan spiritual, tidak dicerna dan dipertimbangkan, serta tanpa pilah-pilah lagi.  Pokoknya apa saja yang berbau 'mula keto', semua adalah objek cercaan untuk diberanguskan, karena semua itu 'bukan agama' atau bertentangan dengan agama.


Dikatakan Darmayasa, barangkali ada kebenaran kecil - besar pada beberapa masalah. " Akan tetapi, sebagai putra-putri Bali, adalah bukan tradisi bijak bila kita selalu melihat tradisi leluhur sebagai sesuatu yang salah dan menyesatkan. Tanpa melalui pertimbangan akal serta 'rasa' yang matang.  Berbahaya menuduh tradisi 'mula keto' sebagai sesuatu yang berbahaya," paparnya .  Sebagai putra-putri Bali khususnya, Indonesia pada umumnya, atau bahkan dunia, kita sebagai pratisentana (keturunan) para leluhur mencoba mempergunakan 'tradisi bijak' untuk 'manah puta? samacaret' ( saring dulu matang-matang di dalam pikiran, barulah bertindak). 'Mula keto' berarti memang begitu, memang seperti itu, terdiri dari dua kata singkat dan sederhana. Akan tetapi, pengertian serta pemahamannya tidaklah sesingkat dan sesederhana itu.


'Mule keto', memang seperti itu, praktikkan saja, lakukan saja, laksanakan saja dengan baik. 'Mule keto' berarti sangat berarti, sangat penuh arti, penuh dengan kedalaman filsafat serta tutur di balik dua kata singkat dan sederhana tersebut. Dikatakannya, ' mula keto' memastikan bahwa tradisi suci tersebut ada dasar acuan pasti dan kuat secara susastra Weda. 'Mula keto' bukan tradisi yang dilahirkan, melainkan terlahir dalam kematangan sempurna Weda. Ia tidak melawan akal, tidak bertentangan dengan sains, tetapi juga 'berlayar' dalam 'perahu rasa. Bukan rasa dunia, melainkan rasa adhyatmika, rasa matang spiritual. Itulah yang mendasari serta mengarahkan tradisi 'mula keto'.


Dengan demikian, berhati-hati mencerca tradisi 'mula keto' karena suatu kebijakan yang baik. Memang ada cikal bakal 'mula keto yang 'dilahirkan', yang ke depan, di masa yang akan datang, masa ketika kita-kita sudah tidak ada di muka bumi ini lagi,  di mana cikal bakal 'mula keto' tersebut bisa menjadi 'mula keto' bagi umat kebanyakan. Artinya, ia adalah 'lampu merah' ke depan bagi masa depan Sanatana Dharma.  Dicontohkannya bahwa   tidak sedikit yang  bisa dilihat di masyarakat, misalnya tidak boleh menyisakan makanan, nanti 'mati siap seleme' (ayam hitamnya nanti mati). Kemudian, 'jangan bangun terlalu siang, nanti ditinggal oleh rezeki.' Dan, banyak contoh lain lagi yang semua ada jawaban saintifik dan penuh makna di baliknya. Salah satu contoh bisa diambil, misalnya sekarang ini mulai ada tradisi ke tempat orang meninggal, warga berpakaian serba hitam untuk memperlihatkan ikut berduka-cita. "Tentu saja kita tidak boleh mencela atau mencemoh, atau bahkan melarang orang berpakaian hitam ke tempat orang meninggal, karena dharma kita tidak menentukan 'perintah' pasti masalah berpakaian. Yang penting berpakaian rapi dan bersih sesuai dengan adat istiadat setempat," ujarnya.


Cara pandang Sanatana Dharma terhadap kematian, lanjutnya,  bukanlah duka nestapa dan kehancuran, melainkan sebuah perputaran perjalanan hidup di dunia sebagai insan yang hadir ke dunia ini 'dua-tiga hari' untuk suatu tujuan teramat mulia. Bhagavad-g?ta 2.27 menyebutkan, jatasya hi dhruvo m?tyur dhruva? janma m?tasya ca. Maksudnya,  semua yang dilahirkan pasti diikuti oleh kematian, dan secara pasti kematian juga diikuti oleh kelahiran. Kematian merupakan suatu proses wajar dan alami dalam kehadiran ke dunia melalui proses kaumara? yauvana? jara, masa bayi, muda, dan tua. Jadi, kematian bukanlah sesuatu kedukaan atau aib.


Bhagavadgita 2.22 lebih menegaskan dengan sangat ringan perihal ini, yaitu pakaian yang sudah usang dan robek,  maka seperti itulah sang atma  meninggalkan badan kasar ini. Lalu memasuki badan yang baru lagi, lahir kembali (punarbhava). "Oleh karena ia merupakan sebuah proses jivana-yatra, perjalanan hidup, maka tradisi Weda menerima kematian sebagai yajña (persembahan) terakhir dari yang meninggal, berupa menyerahkan keseluruhan dirinya kepada Tuhan melalui Dewa Agni," bebernya. Oleh karena itulah, orang tidak berpakaian hitam ketika datang ke tempat pembakaran mayat (smashana, sema, setra) , melainkan berpakaian yang putih suci untuk mendoakan sang atma  yang meninggalkan badannya, agar mendapatkan tempat yang indah, damai, langgeng di alam setelah kematian.


Terdapat tradisi-tradisi baru yang disentuhkan pada praktik-praktik agama spiritual yang sesungguhnya bukan tradisi 'mula keto', melainkan 'sing keto' (tidak seperti itu).  Diakuinya, dahulu,  melihat sabung ayam dilaksanakan dalam rangkaian upacara piodalan hanya di sejumlah pura saja, seperti Pura Hyang Api, Pura Masceti, Pura Pangrebongan, dan lain-lain. Akan tetapi, sekarang melebar ke sejumlah lokasi pura lain yang akhirnya ada taruhannya.


Tidak dapat dipungkiri, memang ada 'dilahirkan' tradisi-tradisi baru yang disentuhkan dengan praktik-praktik agama spiritual. Namun, semua tradisi baru tersebut tentu saja tidak termasuk di dalam 'mula keto' yang mempunyai dasar susastra Weda yang autentik.


Tradisi 'mula keto' didasari oleh filsafat sangat indah dan sekaligus saintifik, tentu saja jika yang mengadakan penelitiannya adalah beliau-beliau yang mumpuni dalam bidang Dharma. "Secara umum dapat dipastikan bahwa tradisi 'mula keto' lebih banyak didasari oleh bhakti. Leluhur kita memilih jalan pintas spiritual yang namanya Bhakti Marga, bhakti yang tulus. Marga artinya jalan, jalan pintas bhakti, dan ia adalah sebuah praktik yoga (bhakti yoga) yang sangat indah dan sederhana tetapi 'powerful'," ujar  murid tunggal maestro kundalini India, Acharya Kamal Kishore Goswami ini.


Dikatakannya, sangat tidak bijak jika pratisentana (keturunan) Bali khususnya dan Indonesia umumnya, mengabaikan serta mencerca tradisi leluhurnya tanpa pemahanan matang spiritual. Jalan bhakti merupakan jalan pintas praktik yoga samadhi dalam usaha menghubungkan diri dengan Sang Pencipta. Ia adalah marga (jalan) lebar dan lurus serta aman untuk melakukan yatra (perjalanan) memantapkan pencarian sang diri sejati.


Sesungguhnya orang dapat mengetahui perihal Tuhan , hanya melalui jalan sederhana bhakti. Dengan bhakti, orang dapat mengetahui kesejatian Tuhan 'sepingitnya', secara tattvatah, secara rahasia kebenaran sejati, dan mereka yang berhasil 'diizinkan' mengetahui rahasia kebenaran sejati Tuhan, maka mereka dapat memasuki alam kebebasan abadi, moksa (visate tad-anantaram).


"Demikian jaminan bhakti-marga (jalan bhakti) yang dikemas oleh leluhur kita dalam bentuk tradisi sederhana 'mula keto'," katanya. Sejak menanam tumbuhan bunga misalnya, mereka sudah mengawali dengan proses bhakti, bahwa mereka menanam tumbuhan bunga untuk 'ngaturang bhakti' kepada Tuhan, dan bukan untuk menikmati kesejukan lingkungan rumah dan pekarangannya. Sebab, dengan penempatan bhakti terdepan, maka kesejukan dan keindahan lingkungan otomatis mereka akan dapatkan pula. Ketika mereka memetik bunga pun mereka memasukkan rasa bhaktinya. Kemudian, selama membuat jejahitan canang banten, mereka melelapkan aktivitas serta tujuannya pada proses bhakti-marga. Selama majejahitan dan membuat banten, mereka lakukan  dengan penuh sraddha bhakti sambil 'magagendingan' dan kakidungan yang memberi pesan indah moral, agama, spiritual, sehingga membuat proses bhakti-marga menjadi bhakti-yoga yang matang.


Bhakti yang matang ini ditujukan pada carana paduka atau kaki padma Tuhan . Ini dinamakan nisthata-bhakti, yaitu proses bhakti-marga yang dijalankan dalam praktik nyata bhakti-yoga yang dilakukan dengan penuh sraddha bhakti. Sedangkan mereka yang melakukannya hanya sebagai sebuah tradisi kosong, tradisi formalitas agama spiritual, atau sebagai beban hidup, tanpa rasa percaya bhakti yang baik, maka bhakti seperti itu dinamakan anisthata bhakti. Inilah yang kemudian melahirkan tuduhan 'mula keto' dalam pandangan negatif.


Darmayasa mengutip Bhagavad-g?ta 18.55 : Bhaktya mam abhijanati. Yavan yas casmi tattvata?.Tato ma? tattvato jñatva.


Visate tad anantaram. Maksudnya, melalui pencapaian cinta kasih bhakti yang sangat tinggi itu, sejauhmana kebenaran-Ku, bagaimana kebenaran-Ku, ia dapat memahami Aku dalam kebenaran-Ku yang sesungguhnya. Setelah itu, setelah memamahi kebenaran-Ku itu secara sempurna, maka segera dia masuk ke dalam diri-Ku, dan tinggal lelap di dalam kebahagiaan spiritual bersama-Ku. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #denpasar #tradisi