BALI EXPRESS, TEGALLALANG - Patirtan Pura Kusti dan Dalem Pingit, yang sering disebut dengan Panglukatan Tirta Sebatu berada di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar. Di tempat ini, banyak juga yang melukat untuk mohon kesembuhan.
Setiap penyakit pasti ada penyebab, dan ada pula obatnya. Seperti yang dilakukan oleh Jero Dasaran I Made Merta saat mengantar pasien yang berobat padanya ke Petirtan Sebatu. Menurutnya, pasiennya yang berobat padanya sebagian besar adalah penyakit secara niskala. Untuk itu, dia mengarahkan pasiennya melukat di Patirtan Pura Kusti dan Dalem Pingit, Sebatu, Tegallalang. Agar sakit yang diderita si pasien menjadi sembuh.
Hal itu dijelaskan saat ia diwawancari Bali Express (Jawa Pos Group) Senin kemarin (6/11). Dirinya juga mengaku sebelum seperti sekarang ini, ia sudah sering datang untuk malukat di sana.
Awalnya, Jero Dasaran Merta hanya iseng mengunjungi tempat tersebut. Di mana yang dipercayai untuk melaksanakan panglukatan, bahkan bisa meyembuhkan penyakit secara niskala.
"Dari jalan setapak dulu, saya sudah sering nangkil ke sini. Dengan medannya yang lumayan curam," terang pria asli Denpasar tersebut.
Jero Dasaran Merta juga mengatakan, selain untuk malukat ia juga biasa ngayah membantu jero mangku yang ada di sana. Sekadar untuk muput pejati bahkan mengarahkan pamedek yang belum tahu rentetan panglukatan harus dilakukan.
Di samping itu, ia juga memgaku sangat sering mengantar pasiennya untuk matamba di sana.
"Dalam sebulan bisa tujuh bahkan delapan kali saya bawa pasien ke sini," ungkapnya.
Jero Dasaran Merta menjelaskan tak jarang ia menangani pasiennya, yang tiba-tiba kerauhan dan air yang seperti titisan saat malukat. Dirinya mengaku hanya matur piuning saja di palinggih yang ada di sana. Agar diberikan kesembuhan maupun keselamatan. Agar pasiennnya tersebut kembali sadar, dan melakukan panglukatan kembali.
Dalam hal itu, ia percaya dengan keajaiban tempat panglukatan tersebut. Dikarenakan ia sering melihat air yang digunakan malukat berubah warna. "Kalau untuk menghilangkan warna itu, sering-sering malukat dan berdoa saja pasti akan sembuh," ungkapnya.
Sementara Bendesa Sebatu, I Made Rio Wiriawan juga menjelaskan setiap malam hari, pasti sering para balian untuk mengantarkan paseinnya malukat di sana. Sehingga ia tidak bisa melarang hal tersebut. Karena dilakulan pada malam hari. "Kalau hal itu saya memang tidak larang, kapan pun dan dari mana pun silahkan malukat. Namun dengan syarat jaga kesucian patirtan dan jalani dengan baik," terang pria asli Tegallalang tersebut.
Made Rio juga menerangkan, dari cerita warga setempat yang ia dapatkan, bahwa sebelum dibangunnya jalan yang bagus seperti saat ini, di kawasan patirtan memang sangat sulit medannya jika akan menuju ke sana. Sehingga sempat warga malihat parwujudan pada grojogan (tempat jatuhnya ari) berupa seekor naga yang sangat besar.
"Kalau dulu penerangan belum ada, jalur juga tidak seperti sekarang ini. Yang mengakibatkan suasana di sekiataran sana sangat mistis. Bahakan sampai sekarang juga terasa mistisnya," papar kakek lima cucu tersebut.
Sedangkan Jero Dasaran Merta juga menjelaskan, ia sering ke patirtan untuk nunas toya untuk minum sehari-hari. Dirinya juga menerangkan kalau setiap ke sana, pasti malukat dibarengi membawa sebuah galon. Yaitu tempat air yang ditunasnya. "Kalau saya pribadi hanya gunakan minum saja. Tidak tahu pemedek, ada juga yang digunakan untuk wangsuhpada atau pesiratan setelah sembahyang di rumahnya. Itu kembali menurut keyakinanan dan lepercayaan masing-masing," jelasnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra