Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bebangkit Harus Gunakan Babi Guling, Bukan Bebek

I Putu Suyatra • Minggu, 12 November 2017 | 16:32 WIB
Bebangkit Harus Gunakan Babi Guling, Bukan Bebek
Bebangkit Harus Gunakan Babi Guling, Bukan Bebek

BALI EXPRESS, DENPASAR - Seluruh umat Hindu sudah sewajarnya harus mengetahui lebih rinci apa sebenarnya makna dari sarana upacara. Hal ini bertujuan untuk memberikan manfaat yang maksimal dari upacara yang dilaksanakan.


Banten Bebangkit sangat identik dengan Ulam Bebangkit. Ulam adalah lauk atau persembahan berupa daging. Pada banten tingkat Bebangkit, identik dengan penggunaan babi guling sebagai ulamnya. "Hal ini bukan tanpa alasan, karena babi guling diyakini sebagai simbol Dewi Durga yang akan memberikan anugerah kesidhian dan kharismatik," ujar Ketua Pasraman Pasir Ukir, I Kadek Satria, S.Ag. M.Si. kepada bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (17/1).


Lebih lanjut dijelaskan Satria, namun belakangan  banyak dijumpai ulam yang digunakan di banten Bebangkit adalah bebek. Namun, belum jelas bebek itu merupakan simbol apa dan dipersembahkan kepada siapa.


“Jika berbicara tentang sebuah simbol, simbol tersebut tidak dapat diubah. Maka dari itu, alangkah baiknya pada saat membuat banten Bebangkit, harus menggunakan ulam Babi guling. Agar sesuai dengan tattwa dan memiliki tujuan serta manfaat yang maksimal ,” sarannya.


Satria mengungkapkan, selama membaca berbagai literatur, semua mewajibkan menggunakan babi guling sebagai ulam. Belum pernah ada yang membahas  penggunaan ulam bebek pada Bebangkit. Namun, pada pelaksanaanya, tak jarang beberapa masyarakat menggunakan ulam bebek. "Nah itu yang saya masih bingung, dasarnya apa," imbuhnya.


“Namun, jika permasalahannya terletak pada biaya, mengapa harus memilih menggunakan banten Bebangkit,” tanyanya.


Padahal, sejatinya ada banyak banten yang tingkatanya lebih rendah dari Bebangkit. Misanya, Peras, Sayut Pengambeyan, Odal Kurenan, Pulogembal, dan lain sebagainya. "Semuanya sesuai dengan tattwa, hanya saja tingkatnya yang berbeda, apakah itu nista, madya atau utama, semuanya bias dilaksanakan sesuai kemampuan," tutup Satria. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu