BALI EXPRESS, JIMBARAN - Pura Goa Gong yang terletak di Banjar Batu Mongkong, Desa Jimbaran, Kuta, Badung ini, merupakan salah satu pura di Bali yang memiliki keunikan. Wujud fisik pura ini tergolong sangat sederhana, namun banyak memendam kisah misteri.
Pura Goa Gong bermula dari perjalanan Dang Hyang Nirartha menuju Uluwatu. Konon, di tengah perjalanan beliau mendengar suara Gong yang angelun-angelun. Karena saking penasarannya, beliau mencoba menelusuri dari mana asal suara tersebut. Alhasil, bertemulah beliau dengan dua ekor naga yang berwarna kuning dan merah. Naga itu melintang di tengah jalan, seolah-olah ingin menghalangi perjalanan Dang Hyang Nirartha.
“Ternyata, naga tersebut ingin mendapatkan panyupatan dari Dang Hyang Nirartha agar dapat sesegera mungkin menuju sunia loka,” ujar pemangku Pura Goa Gong, Jro Mangku Ketut Sukanta kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (26/1) lalu di Jimbaran.
Lebih lanjut dijelaskan Mangku Sukanta, konon naga tersebut mengaku, setelah sekian lama bersemedi tak satu pun ada Bhatara yang turun nyupat atau membebaskannya. Hal inilah yang menyebabkan kedua naga tersebut menghadang perjalanan Dang Hyang Niratha. Beliau akan diizinkan lewat, asalkan berkenan manyupat kedua naga tersebut. Akhirnya, Dang Hyang Nirartha berkenan nyupat kedua naga tersebut, tetapi ada permintaan Dang Hyang Nirartha yang harus dipenuhi.
Seperti apa permintaannya? Roh atau atman dari kedua naga tersebut akan menuju sunia loka, namun badan dari naga tersebut akan senantiasa menjaga Pura Goa Gong. Kedua naga tersebut selanjutnya berstana di taman yang dibuat oleh Dang Hyang Nirartha. Dan, hingga kini, kedua naga tersebut diyakini sebagai Raja dan Ratu Wong Samar.
Setelah selesai manyupat sang naga, Dang Hyang Nirartha melanjutkan perjalanan menuju suara gong yang tiada henti menggema itu.
Ternyata suara gong tersebut berasal dari tengah goa yang ada di puncak bukit, dan setelah didekati seketika suara gong berhenti. Beliau kemudian masuk ke dalam goa dan duduk di atas sebuah batu untuk beryoga. Di tempat ini kemudian muncul sumber air yang berwarna-warni. Ternyata, selama beliau beryoga, telah banyak wong samar yang menunggu untuk mendapatkan panyupatan dari Dang Hyang Niratha. Beliau pun berkenan manyupat wong samar tersebut, tetapi keberhasilannya tergantung pada karmanya masing-masing. Setelah selesai, beliau pun akhirnya meminta bantuan para wong samar yang jumlahnya ribuan tersebut untuk membantu membangun Pura Luhur Uluwatu.
Di sisi lain, Pura Goa Gong ini merupakan tempat persembunyian I Gusti Ngurah Maruti, Raja Klungkung kala itu. Persembunyian ini dilakukan akibat terjadi pemberontakan besar di Kerajan Klungkung. Setelah melakukan pemujaan di Pura Goa Gong dan ngrastiti bakti kepada Ida Wayan Petung Gading, yang tak lain adalah penguasa Bali Selatan, I Gusti Ngurah Maruti mendapat pica atau anugerah berupa keris yang bernama Keris Binang Kukus.
Di pura ini adalah tempat pemujaan Dang Hyang Dwijendra yang tak lain adalah Dang Hyang Nirartha sendiri. Uniknya, selain palinggih utama ada beberapa palinggih yang juga di puja di Pura Goa Gong, yaitu palinggih Dewi Kwan Im dan palinggih Ratu Mas Manik Subandar. Lantaran itu pula, pura ini juga dikunjungi oleh sebagaian besar umat Budha. Hal ini didasari karena Dang Hyang Dwijendra merupakan penganut paham Siwa Budha.
Sehingga, tak jarang kita jumpai pada hari besar umat Budha, banyak masyarakat non Hindu, khususnya Budha tangkil ke pura ini. Di lingkungan pura ini terdapat banyak palinggih yang merupakan ancangan Ida Bhatara di Pura Goa Gong. Sebagian besar yang berstana di sana adalah para wong samar. Karenanya, kawasan ini sangat kental dengan aura magis dan angker.
Piodalan di Pura Goa Gong dilaksanakan setiap enam bulan sekali , yaitu pada Soma Pon Wuku Sinta, atau masyarakat Bali lebih mengenalnya dengan Soma Ribek. Pada sat piodalan di pura ini, konon suara gong akan terdengar kembali secara gaib di pura ini.
Pada saat hendak tangkil di pura ini, umat hanya perlu menyiapkan sarana persembahyangan semampunya. Tidak ada sarana khusus yang harus dibawa. Baik canang maupun pajati, tetap dilayani oleh pemangku pura yang selalu siap sedia berada di pura.
Pada tebing-tebing goa terdapat stalaktit yang meneteskan air suci. Hal ini menyebabkan pemangku tidak pernah sama sekali membawa air dari rumah untuk dijadikan tirtha. “Fenomena ini tergolong aneh, sebab, di atas pura ini adalah bukit kapur yang sangat gersang, dari mana bisa ada sumber air, inilah uniknya,” ujatr Mangku Sukanta.
Editor : I Putu Suyatra