Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngeredag Desa, Ritual Unik Krama Desa Pakraman Peliatan

I Putu Suyatra • Senin, 20 November 2017 | 15:05 WIB
Ngeredag Desa, Ritual Unik Krama Desa Pakraman Peliatan
Ngeredag Desa, Ritual Unik Krama Desa Pakraman Peliatan

BALI EXPRESS, UBUD - Tradisi unik di Bali sangat banyak. Salah satunya adalah Ngeredag yang digelar di Desa Pakraman Peliatan, Ubud Gianyar. Tradisi ini digelar setiap Tilem Kelima atau sehari menjelang awal sasih keenam.


Suasana sepanjang Sabtu (18/11) hari di wilayah Desa Pakraman Peliatan, Ubud terlihat beda dari biasanya. Hal ini seiring dengan tumpahnya ribuan warga desa setempat yang mengikuti rangkaian tradisi Ngeredag Desa, sebuah ritual yang tepat dilangsungkan setiap Tilem Kelima, atau sehari menjelang awal Sasih Keenam.


Ritual ini dimulai menjelang sore hari tatkala puluhan Bala Ngeredag sudah mulai berkumpul di satu titik. Mereka merupakan para pengayah lanang yang menggunakan seragam unik, seperti memakai topi dari kukusan, lalu meselet siyut, serta menggunakan kemben hitam, dan ikat pinggang poleng. Tak hanya itu, di dada setiap pengayah Bala Ngeredag ini juga tercetak tapak dara dari kapur sirih, termasuk pada “topi kukusan” mereka.


Dengan satu komando, para pengayah Bala Ngeredag pun secara bersamaan langsung membunyikan kentungan dari bambu yang sudah mereka bawa sebelumnya. Di belakang rombongan Bala Ngeredag ini lanjut disusul dengan puluhan sesuhunan, mulai dari rangda, garuda, barong landing, barong ket, dan lainnya, yang kemudian mulai berkeliling wilayah Desa Pakraman Peliatan.


Tak hanya itu, di setiap perbatasan Desa Pakraman Peliatan dengan desa lainnya, sebuah prosesi ritual juga dilangsungkan, mulai dari perbatasan sisi timur, selatan dan lainnya, yang dipuput langsung pemangku Desa Pakraman Peliatan. Selama prosesi ini ribuan krama Pakraman Peliatan ikut tumpah ruah mengiringi ritual yang dilaksanakan sejak sekitar pukul 15.00 hingga tengah malam itu. Pasalnya sebagai prosesi selanjutnya akan dilanjutkan di titik tengah desa, dengan prosesi puncak yakni upacara Caru Sambleh.


Bendesa Pakraman Peliatan I Ketut Sandi mengatakan, jika ritual ini disebut dengan Sesuhunan Nguya Nyatur Desa, atau dalam istilah lama disebut pula dengan Ngeredag Desa. Dijelaskan olehnya, bahwa ritual ini bertujuan untuk menetralisir unsur-unsur dasar alam, sehingga memberi kedamaian dan kesejahteraan. “Karena pada bulan keenam kelender Bali, diyakini sangat keramat.  Dimana segala macam penyakit dan hama sedang mewabah,” ucapnya.


Ini biasanya ditandai dengan mulai turunnya hujan, kemudian angin laut yang mulai berhembus kencang. Kemudian keberadaan lalat dan hama tanaman juga semakin banyak, lantaran sedang musim berkembang biak.


“Dulunya ritual ini lebih dikenal dengan nama Ngeredag Desa, karena diawali dengan iringan Bala Ngeredag tersebut. Tradisi ini pun sampai saat ini terus dilaksanakan secara rutin oleh Desa Pakraman Peliatan,” ungkapnya.


Disinggung mengenai ragam sesuhunan yang juga ikut dalam ritual ini. Dijelaskan olehnya, bahwa sesuhunan barong tersebut merupakan simbol kekuatan penolak bala. Sehingga kehadirannya dimohonkan supaya senantiasa mengendalikan aura negatif yang masuk ke wilayah desa setempat. “Selain itu, dengan ritual ini semua krama akan dituntun untuk memahami dan menyadari kondisi tubuhnya masing-masing, serta memahami kondisi alam lingkungan, sehingga keseimbangan tetap terjaga,” sambungnya.


Sementara itu, di tengah berlangsungnya ritual ini, kemacetan arus lalu lintas di sekitar Ubud tak terhindarkan. Pasalnya ketika prosesi dilangsungkan di perbatasan sisi timur Peliatan, seperti di depan Restoran Bebek Tepi Sawah, kemacetan parah pun terjadi. Terlebih tak nampak adanya upaya pengalihan arus lalu lintas, di ruas jalan utama yang menghubungkan Gianyar dengan Ubud tersebut.


Kondisi yang sama juga terjadi saat ritual dilangsungkan sekitar satu jam di perbatasan sisi selatan. Arus utama kendaraan dari arah Denpasar yang hendak ke Ubud pun tak berkutik dalam kemacetan panjang, saat prosesi ini tengah berlangsung.

Editor : I Putu Suyatra
#peliatan #ubud #tradisi bali #hindu #tradisi unik