Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pesimpangan Pucak Kedaton, Pusat Mohon Berkah Berbagai Profesi

I Putu Suyatra • Rabu, 22 November 2017 | 17:13 WIB
Pura Pesimpangan Pucak Kedaton, Pusat Mohon Berkah Berbagai Profesi
Pura Pesimpangan Pucak Kedaton, Pusat Mohon Berkah Berbagai Profesi

BALI EXPRESS, TABANAN - Wilayah Pupuan yang  berada di ketinggian dan dingin, terdapat banyak pura yang diyakini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Salah satunya adalah Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton di Desa Pekraman Padangan, Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Pura ini diyakini menjadi tempat memohon berkah berbagai bidang dan profesi, hingga urusan perang.


Menurut catatan sejarah yang dipegang Jero Mangku Pasek Padangan secara turun temurun, Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton ini sudah ada sejak tahun 1200 an. Pura ini diyakini merupakan salah satu pura tertua di Desa Pekraman Padangan.


Struktur bangunan awalnya hanya bebaturan saja, namun di tahun 1970-an dibangun beberapa palinggih menurut dresta, wawidian, dan sastra. Yang menarik dari struktur bangunan pura ini bahwa pada Lawangan Kori Agung terdapat dua patung gajah. Sayangnya makna keberadaan patung gajah ini tidak diketahui oleh seorang pun krama. “Patung gajah ini sudah ada sejak dulu, tetapi tidak ada satu orang pun krama yang mengetahui apa makna atau arti dari keberadaanya,” ujar Bendesa Pakraman Padangan, I Gede Artamba kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.


Artamba mengisahkan awal mula keberadaan pura ini, dimana Ida Betara Sarwa Tumuwuh yang berstana di Puca Batukaru diyakini oleh umat Hindu di Tabanan merupakan sumber dari segala sumber kehidupan, kesejahteraan, dan kebesaran jagat Tabanan. Berdasarkan hal tersebut, masyarakat berlomba-lomba ingin melakukan yadnya di Pura Luhur Pucak Kedaton Batukaru. Namun, karena medan menuju puncak yang sulit, maka dibuatkanlah pangayatan dan diyakini yang berstana adalah Ida Betara Bagus Made Mentang Yuda.


Ditambahkan Jero Mangku Pasek Padangan, sebelumnya pura ini disebut dengan Pura Loodan karena lokasi pura berada di ujung selatan desa, tepatnya  di sebuah hutan kecil yang awalnya seluas sekitar 1,5 hektare, dan karena terjadi proses tukar menukar lahan, akhirnya saat ini hanya tinggal 1 hektare saja.


Banyak juga yang menyebut dengan Pura Paras Putih, karena di areal pura sebelah atas terdapat batu padas berwarna putih dan memang sesuai dengan eedan wewidian Ida Bethara yang disungsung di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton ini berstana di lokasi pura bertatahkan selaka, dalam hal ini adalah paras putih.


Kemudian nama Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton sendiri terdapat pada prasasti yang diberikan oleh Raja Tabanan kepada Pasek Padangan dalam rangkan menghaturkan pelaksanaan keagamaan dengan otoritas khusus, seperti untuk keturunan Pasak Padangan, yaitu diberikan tanah dan ternak sebagai penerimaan hak atas kewajiban yang dibebankan dari Raja Tabanan.


Di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton terdapat 9 palinggih. Pada palinggih utama berstana Bagus Made Mentang Yuda yang diyakini sebagai pamuput karya dan sebagai dewa perang. Kemudian ada palinggih Batu Madeg yang merupakan pasimpangan Ida Betara ring Gung Tengah. Palinggih Betara Lingsir merupakan panglingsir di Gunung Tengah, palinggih Ida Bagus Api, dan palinggih Bagus Pande sebagai ahli perang dan ahli senjata. Selanjutnya, terdapat palinggih Batu Lanat sebagai ahli pemerintahan dan ahli perang, serta palinggih Padmasana dan Papelik.


Dan, di dalam areal pura ini tumbuh berbagai macam jenis pohon dengan satwa utama, kera. Awalnya dalam areal pura ini dijaga oleh ular besar serta macan. Ketiga satwa inilah yang menjadi ‘duwe’ ( satwa penjaga) di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton. Sayangnya, kini ular besar yang dipercayai ‘duwe’ sudah tidak ada lagi karena pada tahun 1960-an ada seorang krama Desa Padangan yang membunuh seekor ular besar. Namun, krama yang membunuh ular ini malah jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Atas kejadian tersebut, krama meyakini jika ular yang dibunuh merupakan salah satu ‘duwe’ di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton.  “ Duwe berwujud macan sesekali muncul pada hari-hari tertentu tanpa bisa diprediksi oleh krama,” lanjutnya.


Keunikan lainnya adalah di areal pura tumbuh pohon beringin yang tidak biasa, dimana akar dari pohon ini sangat besar dan menyerupai seekor ular dengan panjang sekitar 15 meter. Dan, keberadaan pohon beringin ini juga jarang diketahui oleh krama dan hanya diketahui oleh beberapa pemangku dan prajuru. “Kemunculan akar besar menyerupai ular ini diyakini krama ada hubungannya dengan ular besar ‘duwe’ yang sudah tidak ada. Tetapi, apakah itu ada hubungan atau tidak, belum ada yang mengetahui,” sambungnya.


Di samping itu, pada bagian bawah pura juga terdapat telepusan (mata air)  dan merupakan hulu dari sebuah pangkung yang namanya Yeh Slonding. Sungai kecil ini dihubung-hubungkan dengan ‘duwe ‘ pura yang amat disakralkan, yakni berupa Gambelan Slonding. Adapun Gambelan Slonding yang disakralkan di pura ini terdiri dari seperangkat gambelan yang memiliki empat bilah, masing-masing gambelan berbahan perunggu. Uniknya, Gambelan Slonding ini tunggehnya (penyanggahnya) bermotifkan naga yang diperkirakan berada dari budaya Jawa atau mungkin juga Siam. “Gambelan Slonding ini menjadi pengiring tarian Gegandrangan, Lalangkaran, dan Cecondongan dengan gerakan-gerakan aneh, namun mengandung unsur magis,” paparnya.


Pujawali di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton jatuh setiap Purnama Kapat, dan biasanya banyak krama desa yang naur sesangi (bayar khaul) karena Ida Bhetara yang malinggih di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton pemurah dan senantiasa melimpahkan anugerahnya di berbagai bidang, baik ekonomi, politik, pemerintahan, angkatan bersenjata, dan bisnis. “Sesangi yang dihaturkan berbagai macam, tergantung kemampuan krama sendiri, tetapi yang tinggi yang pernah dihaturkan di sini adalah kerbau bertanduk emas, di mana tanduknya diisi hiasan menyerupai emas,” jelasnya.


Ditambahkannya, bagi pamedek yang tangkil, dilarang menggunakan alas kaki saat memasuki madya dan utama mandala pura. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian dan kebersihan pura. Adapun pura ini diempon oleh Desa Pakraman Padangan, Desa Pakraman Kebon Padangan, beberapa krama di Banjar Anggasari Desa Munduk Temu dan Desa Pakraman Kebon Anyar, dan Desa Wanagiri Kauh, Selemadeg. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura