Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Maprani Perahu-perahuan di Banjar Pabean Ketewel

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 Desember 2017 | 16:51 WIB
Begini Makna Maprani Perahu-perahuan di Banjar Pabean Ketewel
Begini Makna Maprani Perahu-perahuan di Banjar Pabean Ketewel

BALI EXPRESS, SUKAWATI - Nangkluk Mrana pada umumnya dilaksanakan di perbatasan desa,  berdekatan perayaan Galungan dan Kuningan. Bahkan, semua sasuhunan di pura kayangan tiga macecingak (turun melihat) ke wilayah desa. Namun, sedikit berbeda dengan Nangluk Mrana yang dilaksanakan di Banjar Pabean, Ketewel, Sukawati Gianyar yang dinamai Maprani Perahu-perahuan.


 


Tradisi Maprani Perahu-perahuan dilakukan setahun sekali, bertepatan dengan kajeng kliwon uwudan sasih kapat. Ritual ini diselenggarakan selesai pelaksanaan pujawali di Pura Jagat Nata Desa Ketewel.  “Pada awal yang dilakukan dalam maprani itu adalah mendak, menyambut Idha Bhatara Ratu Gede Nusa yang diyakini sebagai penguasa Laut Bali Selatan,” terang Pemangku Pura Segara, Jero Mangku Made Regig kepada Bali Express (Jawa Pos Goup) di rumahnya di Gianyar, pekan kemarin.


Dikatakannya, masyarakat mempercayai Idha Bhatara Ratu Gede Nusa mendarat di Pantai Segara Ketewel, sehingga  masyarakat Pabean menyambut kedatangannya dengan melaksanakan pacaruan.


di pesisir pantai, tidak jauh dari Pura Segara Pabean. Bahkan, ia juga mengatakan Ida Bhatara Gede Nusa melancaran (keliling melihat) wilayah Pulau Bali, sehingga dilaksanakan Nangluk Mrana di masing-masing desa. “Tradisi ini juga digunakan sebagai prosesi memohon keselamatan, agar diberikan kesehatan dan ketentraman secara sekala maupun niskala,” urai Mangku Regig.


Sedangkan di Banjar Pabean sendiri, ilanjutnya, pada saat pacaruan dan selesai melaksanakan persembahyangan akan dibarengi nunas sasikepan (jimat), berupa gelang yang berfungsi untuk menolak bala dan mara bahaya.


Mangku Regig juga memaparkan ada bawang dan kesuna yang dibungkus dengan kain putih, selanjutnya diikat menggunakan benang tri datu. Sasikepan tersebut juga dibagikan kepada seluruh karma atau warga. “Jadi, kedatangan Ida Bhatara Gede Nusa ke Bali untuk melancaran. Seandainya salah satu krama desa yang ada di Bali, tidak melakukan dharma agama dengan baik, dipercayai akan tertimpa wabah penyakit. Jadi, pada ritual Maprani Perahu-perahuan dianggap linggih Sang Hyang Segara yang kembali ke khayangannya,” jelas kakek satu cucu tersebut.


Perahu, lanjut Mangku Regig, diyakini sebagai simbol kendaraannya agar bisa menuju ke Dalem Nusa. Bahkan, perahu tersebut juga sebagai tempat dari rencangan Sang Hyang Segara yang ikut menjadi pangiring menuju Pura Segara Pabean. Dalam kesemptan itu juga masyarakat Banjar Pabean mengahturkan banten, bertepatan pelaksanaan maprani di pesisir pantai.


Mangku Regig mengatakan, banten yang dihaturkan saat ritual berlangsung berupa pejati, canang, ataupun banten seadanya sesuai kemampuan.  Sedangkan yang khusus dihaturkan saat Maprani Perahu-perahuan adalah tipat bantal, ketela dan jagung yang  ditaruh pada perahu-perahuan yang telah disediakan tersebut.“Sarana tersebut sebagai oleh-oleh Hyang Segara kembali ke Khayangan Nusa,” bebernya. Diakuinya tradisi ini sudah ada secara turun-temurun.  “Saya belum ada, sudah rutin diselenggarakan tradisi ini di Banjar Pabean, Desa Ketewel,” terang ayah tiga anak tersebut.


Mangku Regig mengharapkan agar tradisi yang ada tersebut bisa terjaga dengan baik, tidak hilang, dan masyarakat terhindar dari segala bala ataupun mara bahaya. “Kalau tidak dilaksanakan, mungkin ada sebuah kabrebeh atau ada wabah penyakit yang menyerang. Bukan di Ketewel saja, bisa saja di seluruh Bali juga kena,” imbuh pria yang sehari-hari berjualan ayam potong tersebut.


 “Sehari sebelum tradisi dilaksanakan, ada krama yang sebagai sinoman memberitahukan ke rumah-rumah warga, bahwa akan dilaksanakan Maprani Perahu-perahuan di segara. Juga memberitahukan warga agar membawa satu kelan tipat bantal yang akan dihaturkan pada pacaruan,” terang Ni Wayan Rati, ibu 42 tahun  yang ikut melaksanakan tradisi Maprani Perahu-perahuan.


Sebelum berkumpul ke Pura Segara, Rati  dan warga lainnya menunggu arahan dari kelihan pura. Juga bunyi suara kul-kul yang bertanda krama banjar segera ke tempat maprani. Pada awal prosesi upacara, menghaturkan sebuah banten yang berisi tipat bantal, dan ditaruh pada asagan pura. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi upakara,  mulai dari pacaruan, mendak tirta, kemudian melaksanakan persembahyangan.


Selesai persembahyangan, maka sesajen berupa tipat bantal tersebut dibawa ke perahu yang terbuat dari pohon pisang. Dalam prosesi menghaturkan upakara, diiringi dengan gambelan baleganjur, sekaligus pertanda sebuah kelengkapan dari prosesi upakara maprani berlangsung.


“Krama yang kasebelan dan kena kacuntaka tidak diperkenankan ikut. Sebab, kasebelan dan kacuntaka dianggap kotor. Di samping itu, pelaksanaan maprani juga merupakan tradisi yang termasuk Dewa Yadnya,” bebernya. Sekitar 60 orang kepala keluarga terlibat dalam ritual ini. Warga membuat perahu-perahuan dari kulit pohon pisang dengan kerangka dari bambu, dibentuk sedemikian rupa seperti perahu pada umunnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #tradisi unik