Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jero Mangku Regig: Sering Mamunyah sebelum Jadi Pemangku

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 Desember 2017 | 16:53 WIB
Jero Mangku Regig: Sering Mamunyah sebelum Jadi Pemangku
Jero Mangku Regig: Sering Mamunyah sebelum Jadi Pemangku

BALI EXPRESS, SUKAWATI - Sebelum seseorang menjadi seorang pemangku, pasti memiliki cerita yang berbeda-beda, seperti yang dialami Pemangku Pura Segara Pabean Ketewel, Jero Mangku Made Regig.


Pemangku Pura Segara Pabean, Ketewel, Jero Mangku Made Regig mengatakan, setiap orang memiliki sifat rwa bhineda (baik dan buruk).


Bahkan, dirinya yang menjadi tukang ukir, sering mamuyah (mabuk miras). “Dulu saya seperti orang gila, kadang tidurnya di perempatan jalan. Ya namanya anak muda saat itu, masih mencari jati diri. Setelah tamat SD, dan melanjutkan ke SMP, namun di pertengahan semester  harus berhenti sekolah karena masalah ekonomi,” aku Jero Mangku Regig kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, pekan kemarin. Lantaran itu, Regig kecil memilih untuk bekerja di utara desanya.


Diceritakannya, jarak SMP dengan rumahnya sangat jauh. “Jika kos tidak ada biaya. Mau sekolah juga tidak ada sepeda gayung, apalagi sepeda motor. Saya memutuskan untuk berhenti bersekolah, dan  langsung pergi ke daerah Kemenuh untuk menjadi buruh ukir kayu.


Kalau dibilang, ya luntang-lantunglah hidup saya saat itu, syukur saja ada yang mau membantu saya,” urai  Mangku Regig sambil melihat istrinya.


Ia ngayah menjadi seorang pemangku karena keturuanan. Bahkan dirinya tidak dapat menyebutkan keturunan yang berapa menjadi pemangku. Sebab, memang secara turun-temurun di keluarganya menjadi jan banggul, ngayah di Pura Segara Pabean Ketewel.


Diungkapkannya bahwa yang pantas menjadi seorang pemangku adalah anak tertua, yaitu kakaknya sendiri.  Dikarenakan kakaknya yang telah menikah dan nyentana (tinggal dikeluarga istri), menyebabkan Made Regiglah yang harus menjalankan tugas tersebut.


“Sebenarnya kakak saya yang mestinya melanjutkan menjadi pemangku. Karena ia sudah nyentana dan tidak tinggal di rumah ini lagi, ya mau tidak mau harus saya jalankan. Saya pun ngayah dengan kebodohan yang saya miliki, seberapa yang saya bisa segitu yang saya haturkan. Untuk ngayah kan tidak harus menggunakan kepintaran, yang penting tulus dan ikhlas saja,” terang pria 54 tahun  itu.


Bahkan, ketika baru menjadi seorang pemangku, dirinya mengaku baru  belajar, sehingga memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa muput upacara.


Ditanya terkait tanda-tanda sebelum menjadi pemangku, Made Regig mengaku tidak ada yang khusus. Bahkan ia katakana hanya berjalan biasa saja. Sebab, kalau tidak dijalankan, lanjutnya, siapa lagi yang harus ngayah sebagai jan banggul di Pura Segara. Terlebih pura tidak jauh dari rumahnya, karena memang sudah secara turun-temurun di sana menjadi pemangku, dan sangat sulit mencari ayah-ayahan lagi.


“Saya juga tidak tahu, kalau saya yang akan melanjutkan ayah ngayah di sana. Tangan saya berisi gambar, dulu biar keren isilah tato sedikit. Kalau zaman itu namanya memajing (preman),” uangkapnya.


Meskipun ada tato, ia mengaku tidak pernah bertindak criminal, juga berkelahi. “Saya memajing hanya untuk kepuasan hati, di era 78- an sedang mencari jati diri,”pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra