BALI EXPRESS, UBUD - Pada Desember hingga Tilem Sasih kaenam yang jatuh 18 Desember lalu, banyak ritual dilakukan umat Hindu di Bali. Semua itu dimaksudkan untuk memohon keselamatan karena karakter sasih yang kerap mendatangkan bencana.
Tak mengherankan bila pada bulan Desember ini sangat banyak dijumpai upacara pacaruan (pembersihan) di banjar yang ada di Bali. Terutama pada perbatasan banjar, maupun di catus pata (perempatan) yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Seperti dipaparkan Kelihan Adat Banjar Mas, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, I Made Sadawan , bahwa pacaruan dilaksanakan setiap enam bulan sekali, di mana prosesinya dimulai dari pagi hari.
Semua pelaksaan pacaruan saat nangluk merana, lanjutnya, harus diselenggarakan pada sandikala (sore menjelang malam). Hal tersebut memang secara turun-temurun dilaksanakan karena sangat berpengaruh terhadap menetralisir bhuta yang ada. Baik itu yang terdapat pada masing-masing rumah warga sendiri, maupun di lingkungan banjar.
Dalam rentetan Nangluk Merana, lanjut Sadawan, ada prosesi nyambleh (motong hewan) di catus pata.
Semua itu dilakukan di perempatan jalan yang masih menjadi bagian wilayah lingkungan Banjar Mas, Sayan .
Nyambleh juga dilaksanakan oleh pengamong sasuhunan berupa Barong Landung di banjar setempat.
Dikatakan Sadawan, prosesi tersebut diselenggarakan sebagai salah satu cara untuk menetralisasi bhuta kala yang ada di pekarangan. Terlebih juga bhuta yang ada di daerah banjar setempat, agar tidak mengganggu. " Sasih kaenam salah satu sasih yang sering
terjadi bencana alam, mulai dari hujan deras, angin kencang hingga tanah longsor ," papar Sadawan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya di Ubud, Gianyar pekan kemarin.
Pelaksanaan ritual, lanjut Sadawan, diawali sejak pagi hari. Di mana krama banjar yang istri berkumpul di balai banjar terlebih dahulu, sambil membawa tipat kelanan. “Semua tipat dikumpulkan oleh krama istri, selanjutnya ririgan (giliran) dari banjar akan menghaturkannya ke pantai. Pusatnya dilaksanakan di Pantai Lebih. Setelah selesai upacara di pantai, tipat itu ditunas kembali oleh warga sambil nunas tirta,” paparnya.
Tirta tersebut akan dipergunakan menyelesaikan upakara yang berlangsung pada Tilem saat nangluk sore hari. Dua hari sebelumnya, ada sinoman (utusan) yang memberitahukan agar dalam nangluk harus menancapkan sanggah cucuk di depan rumah.
Sanggah cucuk yang digunakan, sama dengan sanggah cucuk pada umumnya. Tetapi yang membedakan adalah bantennya, di samping ada rajah (gambaran) perwujudan Gana. Sedangkan untuk peletakannya, harus di sebelah kanan angkul-angkul (pintu) rumah.
Banten yang harus digunakan untuk ujung utara banjar berupa prasajengan santun, soda putih kuning, tipat dampulan yang berisikan satu telur ayam, segehan sembilan tanding yang dagingnya dari babi.
“Selain pada angkul-angkul di perbatasan babanjaran juga dilaksanakan pacaruan. Terdiri atas sanggah pacaruan yang dikenakan wastra. Jika di utara banjar, menggunakan wastra putih. Sedangkan di selatan banjar menggunakan wastra merah,” jelas Sadawan.
Pada tempat berbeda, pemangku Pura Masceti Sayan, Jro Mangku Made Ngastra menjelaskan, Nangluk Merana memang harus dibarengi dengan nyambleh. Salah satu sarana nyambleh, lanjut Jro Mangku Ngastra, berupa kucit butuan (babi berumur 1-5 bulan). Proseinya juga pada catus pata dan tepat di hadapan sasuhunan Barong Landung.
Dikatakan Jro Mangku Ngastra, prosesinya berawal dari ngadenudang sasuhunan, dilanjutkan menuju ke catus pata desa setempat, melakukan nyambleh. Setelah itu, baru dilaksanakan persembahyangan bersama oleh krama banjar. Saat pulang, krama banjar biasanya menyelesaikan upacara pacaruan yang ada pada angkul-angkul mereka. “Anehnya, saat prosesi nyambleh tidak akan ada turun hujan. Padahal sebelumnya hujan dengan lebat turun, menjelang sasuhunan tedun dari gedong. Sedangkan selesai nyambleh dan macecingak pasti akan turun hujan kembali,” urai Jro Mangku Ngastra.
Krama banjar bisanya menghaturkan banten dan canang seikhlasnya. Meskipun tidak membunyikan kentungan banjar untuk memberitahu, namun krama dengan sendirinya menuju catus pata untuk bersembahyang.
Editor : I Putu Suyatra