BALI EXPRESS, UBUD - Setiap desa di Bali biasanya memiliki sasuhunan yang punya sejarah masing-masing. Seperti juga sasuhunan berupa Barong Landung yang terdapat di Sayan, Ubud.
Pemangku Pura Masceti, Jro Mangku I Made Ngastra ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Banjar Mas, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, pekan kemarin, mengatakan, semuanya berawal menjelang peperangan antar kerajaan zaman dulu.
Dikatakan Mangku Ngastra, sejarah awal dibuatnya sasuhunan ( sosok berupa patung yang diyakini personifikasi dari kekuatan Tuhan) Barong Landung di Desa Sayan, berawal dari peperangan antara Ki Patih Bedesa Mas dari Ubud dengan Ki Patih Ngurah Mambal yang berasal dari Mengwi. Dalam peperangan itu, tidak ada yang menang maupun kalah. Semua itu berakhir karena ada tujuan lain, karena Ki Bendesa Mas memiliki seorang putri. Jadi, tujuan untuk mengalah, supaya bisa menjodohkan putri Ki Patih Bendesa Mas dengan putra Ki Ngurah Mambal. Kemudian setelah dipertemukan dan dianggap cocok, akhirnya keduanya menjalin hubungan. Lantaran ada kecocokan ini, kedua patih dari ke dua wilayah tersebut tidak lagi melangsungkan peperangan.
Ditambahkan Jro Mangku Ngastra, semenjak itu dibagilah perbatasan kedua wilayah kerajaan. Di mana sebagai pembatas adalah Sungai Ayung yang membentang dari utara ke selatan. Di timur sungai merupakan wilayah kekuasaan Ubud. Sedangkan di barat sungai tentunya kekuasaan dari Mengwi.
Dikarenakan antara Ubud dan Mengwi tidak melangsungkan perseteruan, karena anak mereka menikah. Maka, datanglah patih yang berasal dari Kerjaan Negara, Desa Batuan, Sukawati yang datang menyerang ke Mengwi. Karena diketahui oleh Ki Bendesa Mas, maka langsung ia menuju ke Kerajaan Negara. Warga yang ada di sana rarud (tinggal sementara) ke daerah Kemenuh yang diselamatkan oleh Ki Bendesa Mas. Nah, berawal dari masalah tersebut, lanjutnya, Ki Bendesa Mas dianggap berjasa, maka krama di sana mulai nyungsung sasuhunan Barong Landung di Pura Dalem Tegenungan Kemenuh. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan. Hal serupa juga dilakukan di Sayan yang juga menyungsungnya karena menghormati jasa Ki Bendesa Mas . Jro Mangku Ngastra mengatakan, Barong Landung yang ada kini merupakan versi Dalem Balingkang.
Ditanya pada tempat yang berbeda, Kelihan Adat Banjar Mas, Sayan, I Made Sadawan mengaku prosesi nyambleh tersebut memang tidak melibatkan banjar. Namun yang datang bisa lebih dari warga banjar yang datang. “Memang tradisi dari dulu ketika nyambleh tidak membunyikan kentungan, itu berarti krama banjar tidak tedun secara resmi. Tetapi saat nyambleh di catus pata bisa jumlah warga yang datang lebih dari jumlah banjar pangarepnya yang berjumlah 42 krama,” jelas ayah dua anak tersebut.
Sadawan mengaku, krama setempat sangat yakin dengan kekuatan pada dunia niskala Barong Landung tersebut. Seolah-olah tanpa diberitahukan untuk tedun ke catus pata, krama sendiri dengan niat yang tulus dan keyakinannya melaksanakan persembahyangan di sana.
Bahkan krama juga mengikuti iring-iringan sasuhunan Barong Landung.Ada yang menari, bahkan sambil bernyanyi saat pementasan mengelilingi banjar setempat.
Editor : I Putu Suyatra