BALI EXPRESS, UBUD - Pementasan Calonarang yang paling seru adalah mandung, karena secara kasat mata seperti perkelahian antara Rangda dan seorang patih.
Seorang pregina yang melakoni patih, Sang Made Ari Budi menjelaskan, atraksi tusuk tusukan bukan perkelahian. Melainkan cara tersebut untuk menetralisir segala yang bersifat keangkuhan, loba, dan keegoan pada cerita Calonarang tersebut. Bahkan, ia mengaku sempat seperti kena setrum ketika akan mandung (menusuk) salah satu sasuhunan saat ngayah mandung.
Ia juga mengaku sempat sakit berkepanjangan, ketika melakoni sebagai pandung keempat kalinya. Sebab lupa melakukan prosesi mawinten sebelumnya.
“Karena memang tidak tahu, makanya saya langsung ngayah mandung saat itu. Ternyata tidak sembarangan untuk melakoni seorang patih. Memang semua bisa menari, tapi tidak semuanya boleh,” urai pria yang akrab disapa Sang Ade, ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Banjar Kutuh, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gilanyar, pekan.
Selain disetrum, lanjut Sang Ade, sempat dikejar oleh pangabih (pendamping) sasuhunan yang sedang kasurupan, hingga berlari sampai keluar panggung tempat pentas Calonarang.
“Mungkin merasa tidak terima karena sasuhunannya ditusuk, sehingga karauhan dan mengejar yang menusuk . Kalau sasuhunan yang mengejar saat mandung kan sudah biasa, tetapi ini yang aneh malah pangabihnya yang mengejar. Untungnya ada pecalang saat itu yang menghalangi dan membantu,” terang pria asal Desa Sayan, Ubud tersebut.
Ditanya terkait hambatan dalam pementasan, Sang Ade mengatakan hanya hambatan bersifat teknis, seperti ada penari yang kesurupan terus menerus, secara bergantian selama pementasan Calonarang. Bahkan, dirinya sering ditakut-takuti ketika ia ngayah di luar desa. Bahwa dulu yang mandung, dikatakan baru keluar kalangan sudah jatuh gelungnya. Bahkan, ada juga yang habis mandung langsung kesurupan.
Semuanya godaan diterima saja, karena datang untuk ngayah dengan ikhlas, tanpa ada tujuan lainnya. Di samping itu, dirinya mengaku tidak ada sama sekali membawa gagemet, sabuk atau benda lainnya (jimat). “Saya hanya mengandalkan pasrah dan bertekad untuk ngayah saja, astungkara sampai saat ini tidak ada hal yang negatif saya hadapi,” ungkapnya.
Sang Ade juga mengaku filosofi dari mandung tersebut adalah nyomia. Supaya segala kekuatan yang bersifat negatif, tidak mengganggu. Sedangkan yang dipandung adalah sasuhunan berupa Rangda bertujuan membunuh jiwa negaitf supaya menjadi positif. Bahkan, ia katakan tidak ada istilah kalah dan menang saat itu. Semuanya merupakan adanya Rwa Bhineda (baik dan buruk).
“Misalnya seperti tangan kanan dan kiri yang selalu saling berkaitan mengerjakan sesuatu dalam hidup ini. Tangan kiri bukan selalu untuk hal negatif, begitu juga tangan kanan. Karena keduanya saling berkaitan,” paparnya.
Dalam menggeluti dunia seni tari, lanjut Sang Ade, sebagai salah satu cara untuk manyama beraya. Sebab dari sana ia bisa mendapat banyak teman, saudara dan pengalaman. " Jika untuk mencari keuntungan tidaklah mungkin. Sebab semua itu dilakoni hanya ngayah, agar mendapat kepuasan hati," paparnya.
Di samping itu, dirinya sempat mengalami sakit, bahkan sampai menggigil di rumah. Karena saking senangnya untuk ngayah mandung, jarang menolak.
“Saya percaya di sana ada kekuatan yang sangat luar biasa. Sebab sebelumnya sakit panas dingin, setelah mandung menjadi sembuh. Kan tidak masuk akal, mungkin juga karena grogi yang rasanya campur aduk saat itu. Membuat keringat keluar sebelum mandung,” ujarnya.
Selama terjun di dunia seni tari, Sang Ade mengaku sudah pentas, baik topeng dan patih di berbagai daerah di Bali. “Nyapu, mandi, dan saat melukis saya juga tetap berlatih gending. Di samping tidak makan yang berminyak, dan minum minuman yang berhalkohol agar suara saya tidak menjadi serak saat pentas,” terangnya.
Diakuinya ketika melakoni seorang patih, merasa sangat agung (besar). Ia mempercayai saat memakai gelung ada taksu yang didapatkan.
“Aslinya saya kan kurus, bahkan sangat kecil. Tapi saat pentas bisa dilihat oleh orang lain sangat besar. Mungkin di sana ada sebuah taksu yang mucul,” ungkap Sang Ade.
Di tempat yang berbeda, salah satu pregina Calonarang, I Made Dwi Putra Yoga mengungkapkan, dalam pementasan pandung, ada unsur protagonis, yaitu unsur kebaikan, dan unsur antagonis yang berarti jahat. Dikarenakan dalam pandung, lanjutnya, merupakan sebuah tarian yang saling melengkapi.
“Jika dilihat dalam spiritual, jika tidak ada kedua unsur itu tidak ada keseimbangan dalam kehidupan di dunia ini,” papar Kadek Ali, panggilan akrabnya.
Ditegaskannya, setiap pementasan Calonarang wajib dengan adanya pandung. Sebab sebagai pelengkap dari cerita, di samping pelengkap yang menggambarkan adanya kekuatan baik dan buruk (Rwa Bhineda) dalam dunia ini. Terlebih dalam pementasanya menggunakan sebuah keris, yang bermainnya, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa yang menciptakan, pemelihara, dan pelebur dunia ini.
Editor : I Putu Suyatra