Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gambelan Palegongan, Historis Puri Tain Siat dengan Binoh

I Putu Suyatra • Minggu, 24 Desember 2017 | 18:17 WIB
Gambelan Palegongan,  Historis Puri Tain Siat dengan Binoh
Gambelan Palegongan, Historis Puri Tain Siat dengan Binoh

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam Catur Muni-muni gambelan Palegongan dikenal dengan nama Semara Petangian, yang merupakan barungan madya berlaras pelog yang konon dikembangkan dari gambelan Gambuh dan Semar Pagulingan. 


Gambelan Palegong adalah salah satu barungan gambelan Bali yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian Legong Keraton. 


Gambelan Palegongan menggunakan panca nada, yaitu lima bilah nada. Jika dilihat dari strukturnya, gambelan ini menyerupai gambelan Semar Pagulingan, hanya saja tidak menggunakan terompong. "Gending-gending Lalegongan yang masih terpelihara adalah Lasem, Pelayon, Candra Kanta, Kuntir, Kuntul, Jobog, Guak Macok, Legod Bawa, Tangis, Kupu-kupu Tarum, Brahmara, Semarandana, Gedung Melati, dan lagu-lagu lain seperti Gambangan,” ujar Ketua Majelis Pertimbangan Pembinaan Kebudayaan (Listibiya) Provinsi Bali, DR. I Komang Astita, MA kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (26/2). 



Lebih lanjut dijelaskan Astita, gambelan ini menggunakan satu pasang gender rambat, satu pasang gender barang, empat buah pemade, empat buah kantil, dua gangsa jongkok, satu buah gong, satu kecek, satu gentorang, satu klenang, satu kajar atau trengteng, satu rebab, dan seperangkat suling.



"Gambelan Palegongan diduga mulai ada sebelum gambelan Gong Kebyar populer di Bali Utara. Namun, perkembangannya dimulai dari wilayah Bali Selatan. Gambelan Palegongan yang terkenal hingga kini adalah yang berada di Desa Binoh,” jelasnya.  



Dalam lontar Aji Gurnita, lanjutnya, gambelan Palegongan itu dikatakan sekeluarga atau sejenis dengan gambelan bebarongan, gambelan joged pingitan, dan gambelan semar pagulingan. Sedangkan Colin Mc Phee dalam bukunya ’ Musik In Bali’ menyebutkan bahwa sesuai dengan maksud dan keadaannya, gambelan jenis itu khusus dapat dipergunakan untuk jenis Legong, Barong dan Calonarang.



Sesuai dengan bentuknya yang mengkhusus, masing-masing barungan gambelan di Bali, mempunyai pula susunan komposi sindiri- sindiri yang merupakan bentuk khas dari pada setiap jenis gambelan itu. Astita mencontohkan  gambelan-gambelan yang termasuk jenis tua di Bali, di antaranya gambang,selonding, gongluang,gender wayang. " Semua mempunyai bentuk lagu yang berdiri sendiri, termasuk pula teknik permainannya yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, masing-masing mempunyai ciri-ciri keaslian," urainya.



Demikian pula halnya lagu-lagu Palegongan mempunyai bentuk sendiri-sendiri dengan ciri-ciri keasliannya yang berbeda dengan lagu-lagu gamelan lainnya. Ciri khas dari lagu-lagu Palegongan itu yang pertama adalah penonjolan permainan melodi gender rambat, kemudian melodi kendang untuk bagian lagu pangawak dan susunan komposisi yang memberi peluang-peluang untuk tandak (seni suara vokal) yang baik sekali. Lagu-lagu Palegongan bilamana tidak disertai dengan tandak akan dirasakan kurang lengkap, atau kurang mantap.
"Oleh karena itu,tandak kita masukkan sebagai ciri keaslian lagu Palegongan, meskipun lagu gamelan lain misalnya lagu pegambuhan menganggap pula tandak itu sebagai ciri kelengkapannya," katanya.


Adapun yang dimaksud lagu-lagu  Palegongan  ialah lagu-lagu iringan tari Legong Kraton. Lagu-lagu yang diciptakan sebagai lagu petegakan atau lagu tanpa tari tidak dipersoalkan di sini. Sebab, lagu-lagu petegakan yang terpakai pada gambelan Palegongan di antaranya lagu liar samas, solo, dan kesiar.



Dikatakannya, terlihat  gubahan belakangan, yaitu sesudah adanya lagu-lagu iringan tari, seperti lagu-lagu lasem, pelayon kuntir, jobog, candrakanta. Penyusunan lagu-lagu iringan Legong Keraton atau lagu Palegongan itu biasanya diintikan oleh tiga pokok lagu, yaitu pangawak pangecet dan pakaad. Setelah adanya tiga inti tersebut, lanjutnya, kemudian dilengkapi dengan beberapa jenis melodi sebagai pembendaharaan susunan tari yang diiringinya. “Yang dimasukkan melodi pelengkap,  yakni pengalihan atau disebut juga gineman, pangawit, gabor bapang, lelonggoran, pangipuk, batel maya, pangetog, pamalpal, dan tangis," imbuhnya.  



Melodi pelengkap  tersebut belum tentu selalu terpakai pada setiap komposisi lagu iringan tari Palegongan. Sebagai contoh, nama melodi menurut susunan komposisi yang disebut lagu palayon, pangalihan atau gineman, pangawit. pangawak atau inti, pangecet atau inti, lelonggoran atau juga disebut bapang longgor, atau pamelpal, pekaad dan habis.



Gambelan Palegongan di Binoh diperkirakan telah ada sekitar tahun 1910-an. Adanya gambelan ini sangat erat kaitannya dengan faktor sejarah antara Puri Tain Siat dengan krama Binoh. Gambelan Palegongan ini diperkirakan berasal dari Pemecutan. Sebelum berada di Binoh , gambelan ini pernah berada di Padang Sumbu. Hingga kini, kapan gambelan ini dibuat belum diketahui. Namun, secara logika penciptaanya terjadi sebelum 1910. 



Setelah adanya gambelan Palegongan di Banjar Binoh, maka dibuatlah sekaa Palegongan Binoh dengan tujuan untuk upacara yadnya atau piodalan. Anggota sekaanya diambil dari setiap keluarga pura atau tempat suci masing-masing sebanyak dua orang perwakilan. “Karena prinsip dasar adanya gambelan Palegongan  bertujuan untuk upacara yadnya, karena di Binoh terdapat banyak pura  yang setiap enam bulan dengan total 17 kali piodalan,” tuturnya. 



Perkembangan awal gambelan Palegongan Binoh berlangsung sekitar 1915 sampai 1925. Pelatih yang didatangkan ke Binoh untuk pertama kalinya adalah Ida Bagus Bode dari Kaliungu dan disusul I Wayan Lotering dari Kuta. Penari Legong Kraton Binoh generasi pertama yang muncul saat itu adalah Ni Mintar (Men Pintu) dan Ni Sempok (Men Mudji).



Para penabuh generasi pertama antara lain terdiri atas penabuh kendang Ruging dan Pan Sebut. Gender gede atau rambat Wayan Rengga dan Nyoman Tunas, gender barangan Runeng dan Regeg. Dalam pementasan gamelan Palegongan dengan bernada lima.




Nama sekaa Palegongan Binoh ini sengaja tidak perlu mengubah nama sekaa yang sudah ada karena nama ini merupakan warisan leluhur Binoh yang berarti binawa, sehingga banjar Binoh adalah banjar yang kabinawa, dan nama Binoh ini juga sudah di kenal di mancanegara. “Di Binoh juga mempunyai istilah gambelan yang bagus adalah gambelan yang sering dipukul atau dimainkan,” ujar Astita. 

Editor : I Putu Suyatra